Berita

Fahri Hamzah/Net

Politik

Fahri Hamzah: Saya Percaya Prabowo Menang, Tapi Untuk PKS Berat

SENIN, 04 MARET 2019 | 17:23 WIB | LAPORAN:

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebut elektabilitas Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belum aman untuk lolos ke parlemen periode 2019-2024.

Hasil survei LSI pada 18-25 Januari 2019 terhadap 1.200 responden di 34 provinsi di Indonesia, elektabilitas PKS hanya sebesar 4 persen.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Fahri Hamzah mengaku tidak terkejut dengan hasil survei tersebut. Ia menilai, elit PKS tidak mengelola partai tersebut secara benar.


“Pimpinan PKS sekarang feodal, karena tidak mau dikritik dan tidak terbuka. Informasi dikelola secara tertutup dan bahkan ada doktrin-doktrin yang tidak bisa diperdebatkan," ujar Fahri Hamzah, Senin (4/3).

Fahri menyebut contoh, dalam mengurus DKI saja hingga saat ini tidak beres-beres. Bahkan, banyak masalah yang tidak bisa dituntaskan dan pada akhirnya PKS main pecat terhadap kader.

“Sekarang bagaimana saya mau prediksi PKS lolos threshold?," ujarnya.

Fahri menilai petinggi PKS melakukan dua kesalahan menjelang pemilu. Pertama, menyuruh semua calegnya untuk menandatangani surat pengunduran diri yang tanggalnya dikosongkan.

"Kalau Anda jadi caleg begitu, mau nggak berjuang? Anda jadi caleg, tetapi disuruh menandatangani blanko kosong pengunduran diri, yang nanti oleh pimpinannya tinggal ditulis tanggal dan diserahkan ke KPU. Langsung Anda gugur," ujar Fahri.

Fahri menyebut, kasus polemik pemecatan dirinya oleh PKS yang berujung ke pengadilan, tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan tindakan itu. Pasalnya, seorang anggota legislatif itu memang dicalonkan partai, tapi rakyatlah yang memilihnya.

“Tidak boleh mandatnya kemudian diserahkan kepada partai. Partai itu hanya mencalonkan, dan yang dicalonkan partai itu ada yang dipilih rakyat dan ada yang tidak dipilih rakyat. Setelah dipilih rakyat, maka dia mendapat mandat dari rakyat. Jadi tidak bisa partai menariknya begitu saja," tegasnya.

Kedua, lanjut Fahri, semua kader PKS disuruh menandatangani kesetiaan ulang. Hal ini pun menjadi pertanyaan, sehingga mereka memilih kabur dari partai.

"Partai seharusnya memperluas basis. Nah ini kerjanya mecat-mecatin orang. Ya nggak lolos lah. Berat kalau kerjanya mecat-mecatin orang. Meskipun saya percaya bahwa pak Prabowo menang karena arus bawah. Tapi PKS itu berat untuk menang," ujar Fahri.

Dikatakan Anggota DPR dari Dapil Nusa Tenggara Barat (NTB) itu, dalam tradisi demokrasi saat ini, tidak bisa lagi modus seperti itu dipergunakan.

"Semua menyebabkan terjadinya krisis kepercayaan di dalam, dan kemudian munculah anak-anak muda yang lari ke pinggir-pinggir dan membangun gerakan baru. Anak-anak muda ini ingin kulturnya berubah menjadi demokratis, terbuka, egaliter. Ini mungkin dasarnya," kata penggagas Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) itu.

Fahri membantah anggapan bahwa kader partai yang lari itu adalah barisan patah hati dengan PKS. Sebenarnya bukan patah hati, ujar dia, tetapi hanya ingin meneruskan khafila dialog saja.

"Kan, mandat dari transisi demokrasi dan mandat dari reformasi kita itu harus membangun kultur yang lebih baik. Sayangnya, kalau kultur yang dibangun oleh pimpinan PKS sekarang ini, susah," tandas Fahri Hamzah.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya