Berita

Hendardi, Brigjen Pol Albertus Rachmad Wibowo, Bursah Zarnubi, Adi Prayitno dan Effendy Ghazali/PGK

Politik

Bursah Zarnubi: Bangsa Kita Seperti Terpecah Belah Karena PT Cukup Tinggi

MINGGU, 03 MARET 2019 | 15:44 WIB | LAPORAN:

Menjelang pelaksanaan Pilpres yang akan berlangsung 17 April 2019 nanti, bangsa Indonesia seolah terpecah belah.

Ketua Umum Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Bursah Zarnubi menengarai hal ini akibat sistem yang dibangun partai politik secara kelembagaan tidak tertata dalam membangun sistem demokrasi.

"Demokrasi kita belum mapan. Padahal, partai politik sebagai salah satu pilar penting dalam sistem demokrasi. Penataan kelembagaan parpol kita sejak berdiri belum mengadopsi nilai-nilai modern yang rasional dalam memecahkan persoalan bangsa kita," kata Bursah dalam diskusi interaktif berjudul "Merangkai Kebersamaan Demi Terjaganya Keutuhan NKRI" di Jakarta.


Pembicara lainnya yakni Ketua Setara Institute Hendardi, pengamat politik Adi Prayitno, dan Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Albertus Rachmad Wibowo. Sementara pakar komunikasi Effendy Ghazali bertindak sebagai moderator.

Menurut Bursah, tidak tertatanya parpol secara kelembagaan, terutama dalam membangun sarana komunikasi, rekrutmen, manajemen konflik, dan pengaturan pertikaian, dapat melahirkan sejumlah persoalan.

"Itu sebabnya komunikasi politik kita buruk, partai politik tidak mengakar, rekrutmen sangat buruk, maka akhirnya bangsa kita kayak terbelah, kenapa?" tanya bursah.

Bursah menjelaskan, anak bangsa tampak terpecah belah, terutama dalam Pemilu Serentak ini, disebabkan karena ketentuan ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold cukup tinggi. Ketentuan inilah melahirkan ada dua pasangan dalam Pilpres

"Kalau ada tiga pasang (capres-cawapres) ada alternatif, situasi nasional kita tidak seperti sekarang ini. Sangat panas dan menenggangkan Dinamikanya juga dipastikan akan berbeda," tuturnya.

"Mestinya presidential threshold kita cukup 10 persen atau di nolkan saja sehingga dinamika politik kita bagus. Jadi ada  kesalahan kita dalam menata sistem demoktasi," imbuh Bursah.***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya