Berita

Satyo Purwanto/Net

Politik

Sekjen Prodem: Pastikah Sumber Pendanaan Kartu Sakti Jokowi?

MINGGU, 03 MARET 2019 | 09:48 WIB | LAPORAN:

Joko Widodo-Maruf Amin tengah gencar memamerkan program tiga kartu sakti paslon 01.

Kartu sakti yang dimaksud adalah kartu sembako murah, kartu Indonesia Pintar untuk kuliah, dan kartu pra kerja.  

Menurut Maruf, saat berkampanye di Pangandaran, Jawa Barat, dengan kartu sembako murah mempermudah para ibu memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Semua biaya sembako, jaminan kesehatan, dan pendidikan akan ditangguh pemerintah.  


"Cukup pemerintah yang bayar, ibu tinggal mengeluarkan karatu enak apa tidak? duitnya utuh karena belanjanya pakai kartu," kata Maruf di hadapan para kiai, santri dan ibu-ibu muslimat Pangandaran, belum lama ini.

Sekjen Pro Demokrasi (ProDem), Satyo Purwanto mengingatkan kembali janji-janji kampanye petahana di Pilpres 2014 silam.

"Sektor pekerjaan saja ada tiga janji Jokowi untuk buruh. Kerja layak, upah  layak, dan hidup layak. Itu satu pun tidak dijalankan sampai sekarang. Kemudian dihubungkan dengan Nawa Cita menciptakan lapangan kerja," terangnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, sesaat lalu (Minggu, 3/3).  

Satyo menegaskan, rakyat tidak melulu ingin 'disuapi' dengan kemudahan seperti pemberian gaji buat anak-anak muda lulusan SMA/SMK yang belum mendapat pekerjaan.

"Rakyat punya harga diri, minta bekerja bukan dikasih uang sukarela begitu. Apalagi praktiknya, bisa nggak dipastikan sumber pendanaannya?" tanya aktivis 98 yang akrab disapa Komeng ini.

Ia jelas pesimis program-program kesejahteraan rakyat bisa terwujud selama pemerintah masih mengadopsi mahzab neoliberalisme.

"Seperti dilakukan Sri Mulyani dengan memangkas anggaran program-program kementerian teknis itu kan bisa dijadikan trigger untuk memicu perbaikan ekonomi di tingkat masyarakat, malah dipotong," kritiknya.

Pemerintah, Satyo meminta sebaiknya jangan terlalu memberi harapan kosong kepada rakyat. Sementara memastikan subsidi-subsidi kecil tidak sanggup. Padahal, lanjut Satyo, ini bentuk lain pemberian negara kepada rakyatnya.

"Kartu-kartu ini permainan kata-kata saja, kita bicara sumber anggaran yang pasti, rakyat cuma jadi korban kebijakan pemerintah. Omong kosong komitmen politik ekonomi Pancasila kerakyatan. Mengharapkan subsidi dan peran serta negara dalam masyarakat, haram bagi mereka penganut paham neolib," Satyo menekankan. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya