Berita

Tarian China/Net

Publika

China Perlu Belajar Dari Rusia Dalam Menangani Warga Muslimnya

SABTU, 02 MARET 2019 | 19:36 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

DIBANDING Amerika, Rusia saat ini jauh lebih bisa diterima di hati masyarakat muslim di seluruh dunia. Kenyataan ini terlihat dari tingginya tembok atau pagar yang mengelilingi kedutaan dan konsulat Amerika yang berada di negara-negara Muslim.

Hal ini menjadi salah satu indikasi bahwa para diplomat Amerika dan keluarganya merasa tidak aman atau bahkan terancam oleh lingkungan di sekitarnya. Sementara kedutaan atau konsulat Rusia di tempat yang sama, temboknya jauh lebih rendah dan prosedur keamanan untuk memasukinya jauh lebih longgar.

Padahal di bawah bendera Uni Soviet negara beruang merah ini pernah menduduki negara-negara Muslim di kawasan Asia Tengah sampai Afghanistan. Lebih dari itu, Moskow dengan bendera Palu Arit dan dengan kebijakan tangan besinya pernah menutup sekolah-sekolah agama, mengubah masjid menjadi gudang atau kandang hewan, serta melarang umat Islam melaksanakan ibadah di ruang terbuka.


Sampai awal  tahun 2000-an wilayah Chechnya dan Dagestan yang menjadi wilayah minoritas Muslim di Rusia masih bergolak. Pemberontakan bersenjata terjadi berulangkali, bahkan diikuti oleh sejumlah pemboman dan penyanderaan. Semangat ini mencapai puncaknya, saat Uni Soviet kalah di Afghanistan yang diikuti oleh kemerdekaan negara-negara muslim di kawasan Asia Tengah.

Dari wilayah Chechnya dan Dagestan muncul tokoh pejuang muslim terkenal seperti Shamil Basayev. Pemerintah Rusia menyebut Basayef dan para pengikutnya sebagai kelompok separatis yang ingin memisahkan diri dari Rusia. Seringkali mereka juga disebut kaum radikal Islam, fundamentalis, atau bahkan teroris.

Seiring dengan berjalannya waktu, gejolak yang ada secara perlahan bukan saja dapat diredam, bahkan kini tidak terdengar lagi adanya keresahan warga muslim di Rusia. Apa rahasianya? Atau apa saja yang dilakukan pemerintah Rusia?

Secara simbolis, Presiden Putin sering menghadiri acara-acara yang diadakan oleh komunitas muslim Rusia, seperti perayaan untuk menyambut hari-hari besar Islam atau peresmian masjid. Sementara secara substansial, Putin memasukkan wakil Islam dalam kabinetnya, diikuti dengan berbagai kebijakan yang sesuai dengan aspirasi dan keinginan masyarakat Muslim.

Karena itu, mulai lembaga-lembaga pendidikan mengakomodasi dalam bentuk kurikulum dan silabus, ormas-ormas leluasa mengadakan pertemuan atau seminar internasional yang dihadiri oleh peserta dari berbagai negara Muslim, sampai fashion yang menampilkan berbagai peragawati yang mengenakan busana muslimah seringkali diadakan.

Dengan demikian, umat Islam yang berjumlah sekitar 25 hingga 31 jiwa atau sekitar 29 hingga 41 persen jumlah penduduk Rusia secara keseluruhan, merasa aspirasinya terakomodasi, dan lebih dari itu identitas etnisnya serta keyakinan agamanya tidak terancam.

Walaupun sama-sama menganut ideologi Komunis, dalam menghadapi minoritas Muslim di negaranya, dibanding Rusia sebenarnya beban pemerintah China saat ini jauh lebih ringan.

Dari sisi sejarah, tidak pernah ada kebijakan pemerintah China yang melukai hati ummat Islam seperti yang pernah dilakukan Rusia. Sementara dalam kebijakan politiknya, Beijing sudah memberi status otonomi untuk provinsi-provinsi yang dihuni oleh suku-suku minoritas, termasuk yang dihuni oleh warga muslim Hui di Ningxia dan Uighur di Xinjiang.

Kini tantangannya adalah kesungguhan dan ketulusan dalam implementasinya, serta bagaimana melibatkan suku-suku minoritas muslim mulai perencanaan sampai implementasinya. Sebagaimana temuan MUI, di camp-camp pelatihan vokasi yang menjadi sorotan para pegiat HAM di dunia, peserta muslim ternyata masih mengalami kesulitan untuk melaksanakan ibadahnya.

Begitu juga di sekolah dan di perkantoran pemerintah maupun swasta. Bahkan mereka yang sekedar menjalankan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, atau konsisten mengkonsumsi makanan halal seringkali bisa dituduh fundamentalis, ekstrimis atau radikal.

Penting sekali bagi  pemerintah RRT mendengarkan masukan dan saran MUI, kemudian mengakomodasinya dalam bentuk kebijakan baik di pusat maupun di provinsi-provinsi otonomi yang dihuni minoritas muslim.

Bila hal ini dilakukan, maka China memiliki peluang ekonomi sangat besar. Pasar dunia Islam yang sangat luas akan terbuka untuk menyerap berbagai produk China yang kini banyak mengalami hambatan dan gangguan di Barat, khususnya dari Amerika Serikat.

Mulai dari produk-produk teknologi, pertanian, sampai pada berbagai produk makanan halal yang kini menjadi sedang digalakkan oleh pemerintah pusat di Beijing, tentu akan sangat mudah diterima. Para profesional dari suku Uighur dan suku Hui yang muslim bisa dimanfaatkan sebagai ujung tombaknya. ***

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi 

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya