Berita

Tato Suharto/Dok

Publika

Jumpa Supir Taxi Sydney Asal Sukabumi

RABU, 27 FEBRUARI 2019 | 14:17 WIB | OLEH: ILHAM BINTANG

SYDNEY menyambut ramah Rabu (27/2) siang ini. Langit cerah. Suhu 26 derajat. Penghujung summer. Supir taxi asal Sukabumi, Tato Suharto (69 tahun) mengantar kami ke hotel di kawasan City.

Saat mengangkat koper di bandara tadi, Tato merekam wajah saya sambil menyorong pertanyaan. "Dari Malaysia?", tanyanya. "Bukan. Saya dari Indonesia," saya jawab. "Ouw sama dong dengan saya," sambarnya.

Tato sudah 45 tahun di Sydney, Australia. Dia bercerita banyak tentang orang-orang Indonesia yang sukses di Sydney. Dalam perjalanan, dia sempat menunjuk gedung tinggi warna coklat yang tampak cukup mencolok. "Itu milik Sisca Sudomo," katanya, pas mobil melintas depan gedung tersebut. "Ingat Sisca Sudomo, kan?: tanyanya tanpa menunggu jawaban.


Tato sendiri bisa disebut sosok sukses di Sydney. Sudah punya rumah sendiri di kota utama Australia itu. Dia tinggal berdua dengan isterinya, wanita asal Cikembar, Sukabumi, satu kampung dengan Tato. Tiga anaknya jadi semua. Satu ahli IT tinggal di London. Satu lagi sarjana tehnik sipil. Yang perempuan, sarjana arsitektur. Dua yang disebut terakhir tinggal di Sydney juga cuma beda rumah.

"Tinggal cucu yang belum punya," ujarnya sambil tertawa.

Kapal Tanker

Tamat STM I Budi Utomo, Jakarta, Toto remaja diajak pamannya bekerja di kapal tanker. Dengan kapal itulah ia berkeliling separuh dunia. Paling berkesan waktu ke Iraq. "Masa itu Iraq masih mesra-mesranya dengan Amerika," kisahnya.

Ia masuk Sydney tahun 1974. Tahun 1979 dia pulang ke Sukabumi untuk menikah. Setahun kemudian ia pun memboyong istrinya ke Australia.

"Saya pulang tiga tahun sekali ke Indonesia. Bulan Mei tahun ini kami akan pulang berlebaran di kampung. Mudik," ungkapnya.

Di kampung ia juga memiliki beberapa rumah serta kebon yang cukup luas. Ketika ditanya, Tato menganggap walaupun ia telah memiliki kelengkapan hidup seperti rumah, pekerjaan, dan penghasilan tetap, tapi yang ideal adalah tinggal dan hidup di negeri sendiri.

"Usia saya sudah hampir 70 tahun. Mestinya sudah pensiun di Sukabumi. Kumpul sama seluruh keluarga. Tapi mau bagaimana lagi? Anak-anak tidak ada yang mau pulang," papar Tato yang masih tetap mempertahankan kewarganegaraannya.

"Pilih siapa nanti waktu Pilpres?" tanya saya.

"Pilih yang paling pantas jadi pemimpin," jawabnya tanpa mengurai lagi. Dia benar. Pilihan mestinya memang menjadi hak pribadi setiap orang. Biarkan dia hanya berkaca pada hati nuraninya sebelum memutuskan pilihannya.

Oh, iya, menurut jadwal, kami mestinya tiba di Sydney pagi hari. Ini lambat tiga jam karena pesawat Garuda GA 712 yang kami tumpangi mengalami kerusakan pada saat boarding semalam. Penumpang sempat turun dari pesawat karena perbaikan memerlukan waktu sekitar 3 jam. Akhirnya pesawat take off pukul 01.15 WIB dari rencana semula pukul 22.15. Tapi penerbangan yang menelan waktu 6 jam 50 menit amat nyaman. Bisa tidur pulas, sampai dibangunkan pramugari dua jam sebelum landing. Sambil menyajikan sarapan.

Hanya ada seorang penumpang yang saat turun menunggu di Lounge Garuda di Soekarno Hatta, memilih tidak melanjutkan penerbangan.

Andaikata pesawat tidak mengalami gangguan teknis, atau terbang tepat, niscaya kami tidak akan ketemu Tato Suharto. Dan, tentu saja tidak ada cerita ini. Maka benar kata kitab suci. Selalu ada hikmah di balik suatu peristiwa. ***

Penulis adalah wartawan senior.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya