Berita

Perang tagar/Net

Politik

Protes Votters Di Twitter Tanda-tanda Kekalahan Jokowi

SABTU, 16 FEBRUARI 2019 | 10:55 WIB | LAPORAN:

. Media sosial Twitter saat ini ramai dengan perang tanda pagar (tagar) atau hastag terkait Pilpres 2019.

Perang tagar yang bermula dari cuitan CEO Bukalapak, Achmad Zaky kini berujung pada melejitnya hastag #ShutDownJokowi ke peringkat pertama trending topik nasional.

Presidium Persatuan Pergerakan, Andrianto mengaku yakin kalau hastag #ShutDownJokowi hanya bersifat sementara. Sebab pada dasarnya menurut dia, sejak tahun 2014 lalu, salah satu yang membuat Jokowi melesat adalah cyber army yang menopangnya.


"Saat itu (Pilpres 2014) kan Jokowi begitu digdaya. Bak ratu adil. Yang kritis langsung di-bully," kata Andrianto saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (16/2).

Hal itu kata dia terus berlanjut hingga kasus penodaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ramai. Pemerintah yang seakan memberikan dukungan ke Ahok pun membuat publik tersadar akan kekeliruan mereka dalam memilih pemimpin pada Pilpres 2014 lalu.

"Ternyata dimana posisi Jokowi dalam memihak umat, ditambah kinerja (pemeritah) yang super jeblok, buat publik makin krtitis," tambahnya.

Perang hastag ini berawal dari cuitan CEO Bukalapak yang mengkritisi tentang dana research and development Indonesia yang dinilainya terlampau kecil jika dibandingkan dengan negara lain. Pendukung Jokowi yang geram pun langsung membuat hastag #UninstallBukaLapak. Selang beberapa waktu, muncul hastag perlawanan, diantaranya #InstallPrabowo, #UninstallJokowi, dan #ShutDownJokowi yang kini berada di posisi puncak.

Andrianto menekankan, perang tagar itu merupakan wujud nyata dari protes para pemilih yang nantinya akan berujung pada kekalahan Jokowi di Pilpres.

"Inilah yang sekarang kita sebut protes votters. Wujudnya dari uninstall Jokowi ini akan jadi gelombang air bah menuju Pilpres. Tanda-tanda menuju ke sana. Jokowi mesti shut down, artinya Jokowi mesti dihentikan melalui mekanisme Pemilu," tutup Andrianto yang juga aktivis mahasiswa tahun 1998 ini. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Gus Ipul Cek Perkembangan Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama Manado

Jumat, 12 Juni 2026 | 00:14

Pegawai Imigrasi Jaksel Tingkatkan Kemampuan Jurnalistik dan Kehumasan

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:46

Pengawasan MBG Harus Diperkuat Usai Dadan Dkk Dicokok Kejagung

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:28

Pemerintah Sepakati Kerangka RAPBN 2027, Pertumbuhan Ekonomi Dibidik 6,5 Persen

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:02

Piala AFF U-19: Drama VAR Kubur Impian Garuda Muda ke Final

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:56

Mahasiswa Jabar Turun ke Jalan Suarakan RUU Polri dan BBM

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:24

PLN Berhasil Operasikan Tower Emergency, Sistem Kelistrikan Sumut Kembali Normal

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:14

Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tetap, Pertamax Naik Ikuti Harga Pasar

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

Target Pendapatan Dipatok Naik, DPR Restui Minuman Manis Kena Cukai

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan Sumatera Utara 72 Jam Lebih Cepat

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:02

Selengkapnya