Berita

Foto:Net

Jaya Suprana

Untaian Kata-Kata Mutiara Khonghocu

SABTU, 16 FEBRUARI 2019 | 08:16 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KAMI memperoleh kehormatan diundang oleh Majelis Tinggi Agama Khonghocu Indonesia untuk menghadiri upacara perataan Hari Raya Tahun Baru Imlek 2570 Kongzili Tingkat Nasional pada hari Minggu 10 Februari 2019 di Gedung Teater Garuda Taman Mini Indonesia Indonesia, Jakarta.

Di podium terbentang sebuah poster raksasa memaklumat upacara dengan semboyan sebagai petikan ajaran yang tersurat pada untaian kata-kata mutiara Konghucu "Penimbunan Kekayaan Akan Menimbulkan Perpecahan Di Antara Rakyat, Tersebarnya Kekayaan Akan Menyatukan Rakyat".

Visioner


Saya bukan umat Konghocu namun sanubari saya terpesona oleh untaian kata-kata mutiara Konghucu yang dilahirkan pada tanggal 27 September 551 Sebelum Masehi di negeri Lu, kota Zou Yi, desa Chang Ping di lembah Kong Song kini Qu Fu, Provinsi Shandong, Republik Rakyat China.

Nama kecil Konghucu adalah Qiu yang berarti bukit alias Zong Ni artinya putera kedua dari bukit Ni, menikah dengan puteri negeri Song bernama Qi Guan.

Konghucu memiliki seorang putera yang diberi nama Li yang berarti ikan gurami alias Bo Yu karena pada kelahiran puteranya telah memperoleh hadiah seekor ikan gurami dari Raja Muda Lu Zhao Gong.

Bagi saya, Konghocu merupakan seorang mahafilosof yang sangat peka masalah sosial dan politik. Kata-kata mutiara "Penimbunan Kekayaan Akan Menimbulkan Perpecahan Di Antara Rakyat, Tersebarnya Kekayaan Akan Menyatukan Rakyat" membuktikan bahwa Konghucu adalah seorang negarawan yang memiliki pandangan kerakyatan visioner jauh ke depan yang maknanya masih berlaku sampai masa kini maupun masa depan.

Pada masa lebih dari lima abad sebelum tahun pertama kalender Masehi, Konghucu sudah menyadari bahwa keadilan kesejahteraan sosial merupakan zat sosio-politik utama sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Kesenjangan sosial rawan menyebabkan keretakan negara.

Kesenjangan Sosial

Makna untaian kata-kata mutiara Konghucu terbukti kebenarannya pada lembaran fakta sejarah yang berkisah tentang  kesenjangan sosial yang memicu keresahan sosial sehingga meledakkan Revolusi Perancis, Revolusi Rusia dan Revolusi China.

Bahkan Tragedi Nasional G-30-S maupun Huru-Hara Mei 1998 yang terjadi di bumi Indonesia juga merupakan akibat dari keresahan rakyat yang dipicu oleh ketidakadilan sosial.

Pada hakikatnya makna yang terkandung di dalam kata-kata mutiara Konghucu "Penimbunan Kekayaan Akan Menimbulkan Perpecahan Di Antara Rakyat, Tersebarnya Kekayaan Akan Menyatukan Rakyat" sesuai dan selaras dengan makna adiluhur yang terkandung di dalam sila kelima Pancasila yaitu "Keadilan Sosial Untuk Seluruh Rakyat Indonesia". Merdeka! [***]

Penulis adalah pembelajar kebudayaan dan peradaban umat manusia.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Haji Isam Temui Seskab Teddy, Bahas Investasi Pertambangan hingga Hilirisasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:17

Kolombia Ubah Sikap, Kini Akui Kedaulatan Maroko atas Sahara

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:02

KPK Periksa 2 ASN Pemkot Bengkulu dalam Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:01

Jelang Sidang Tahunan MPR, Pemerintah Matangkan Persiapan Pidato Kenegaraan Prabowo

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:56

Bitcoin Menguat Berkat Derasnya Aliran Dana ETF

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:49

Keamanan Data Pajak Jadi Prioritas Usai Kebakaran Bapenda

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:45

Destry Damayanti Resmi Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:36

Kejagung Periksa 16 Saksi di Kasus BGN, 10 di Antaranya Direktur Perusahaan

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:32

Greenland Tolak Aktivitas Perusahaan AS di Tengah Ancaman Aneksasi Trump

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:27

Gibran Jadi Presiden Solusi atau Petaka?

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:26

Selengkapnya