Berita

Tiga siswi Inggris gabung ISIS tahun 2014/Net

Dunia

Empat Tahun Gabung ISIS, Siswi Inggris Minta Pulang

KAMIS, 14 FEBRUARI 2019 | 19:59 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Salah satu dari tiga siswi yang meninggalkan Inggris untuk bergabung dengan kelompok militan ISIS di Suriah mengatakan bahwa dia ingin pulang ke rumah.
 
Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar The Times, dan dimuat ulang Al Jazeera, Shamima Begum yang sedang hamil tua, mengatakan dia bosan dengan kehidupan di medan perang dan mengkhawatirkan anaknya yang belum lahir.
 
Gadis 19 tahun itu mengaku bahwa ini adalah kehamilan ketiganya. Dua anak-anaknya yan lain meninggal dunia.
 

 
Begum diketahui meninggalkan London ke Suriah bersama dua temannya pada Februari 2015 setelah ISIS meluncurkan serangan kilat di sebagian besar wilayah Suriah dan Irak, dan merebut wilayah seukuran Inggris.
 
Setelah tiba di Raqqa, ibukota de facto ISIS, ketiga gadis itu ditempatkan di rumah "wanita lajang" sebelum Begum menikah dengan pejuang Belanda Yago Riedijk yang berusia 12 tahun lebih tua darinya.
 
"Saya bukan anak sekolah 15 tahun yang sama konyolnya seperti yang melarikan diri dari Bethnal Green empat tahun lalu," kata Begum, berbicara dari kamp pengungsi al-Hawl di Suriah timur laut.
 
Pasukan Suriah yang didukung oleh Amerika Serikat diketahui mengambil kendali penuh atas Raqqa pada Oktober 2017. Hal itu mendorong para pejuangnya melarikan diri ke bagian lain Suriah dan menyeberangi perbatasan ke negara tetangga Irak.
 
Begum mengatakan bahwa kedua temannya, yakni Kadiza Sultana dan Amira Abase menikah dengan pejuang ISIS asing.
 
Sultana dilaporkan tewas dalam serangan udara tahun 2016 di Raqqa. Begum mengatakan bahwa Abase, mungkin masih hidup.
 
Begum dalam wawancara yang sama menceritakan kehidupannya di bawah ISIS.
 
Dia mengatakan bahwa dia menjalani kehidupan yang relatif normal meskipun kerap melihat kepala yang dipenggal di tempat sampah dan dipaksa untuk mengamati interpretasi Islam yang ketat dan literal tentang Islam.
 
"Sebagian besar itu adalah kehidupan normal di Raqqa," jelasnya.
 
Namun di sisi lain dia juga menuturkan banyak hal yang bertentangan tentang apa yang disebut kekhalifahan.
 
"Ada begitu banyak penindasan dan korupsi yang terjadi sehingga saya tidak berpikir mereka pantas menang," tambahnya.
 
Meski begitu dia mengaku tidak menyesal dengan apa yang telah dia lakukan. "Saya tidak menyesal datang ke sini," tambahnya. [mel]

Populer

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Modal Asing Keluar Rp7,71 Triliun, BI Catat Tekanan di SBN pada Pertengahan Januari 2026

Jumat, 16 Januari 2026 | 08:05

Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi Enam Pekan

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:56

Kejauhan Mengaitkan Isu Ijazah Jokowi dengan SBY–AHY

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:48

RUU Perampasan Aset Jangan Jadi Alat Menyandera Lawan Politik

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:40

Jenazah 32 Tentara Kuba Korban Serangan AS di Venezuela Dipulangkan

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:33

Bursa Eropa: Efek Demam AI Sektor Teknologi Capai Level Tertinggi

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:16

Emas Tak Lagi Memanas, Tertekan Data Tenaga Kerja AS dan Sikap Moderat Trump

Jumat, 16 Januari 2026 | 07:06

Wajah Ideal Desa 2045

Jumat, 16 Januari 2026 | 06:50

TPU Tegal Alur Tak Tersangkut Lahan Bersengketa

Jumat, 16 Januari 2026 | 06:23

Kemenkes Siapkan Rp1,2 Triliun untuk Robotik Medis

Jumat, 16 Januari 2026 | 06:04

Selengkapnya