Berita

Eni Maulani Saragih dan Sofyan Basir/Net

X-Files

Sofyan Basir & Idrus Bicara Soal Masjid & Mobil Jenazah

Jaksa KPK Putar Rekaman
RABU, 13 FEBRUARI 2019 | 09:21 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih mengupayakan agar mantan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham turut dapat bagian dari proyek PLTU Riau 1.

Ia mengontak Direktur Utama PLN Sofyan Basir. Meminta Sofyan yang ngomong ke Johannes B Kotjo, bos Blackgold Natural Resources. Blackgold anggota konsorsium proyek PLTU Riau 1.

Eni menyampaikan permint­aan agar Sofyan melobi Kotjo dalam pembicaraan telepon. Rekaman percakapan itu diputar di sidang perkara Idrus.


Pada sidang kali ini, jaksa KPK menghadirkan saksi Sofyan Basir dan Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN, Supangkat Iwan Santoso. "Izin memutar satu percakapan saja," kata jaksa.

Berikut percakapan Eni denganSofyan:

Eni: Aku penting mau ketemu Bapak, bisa hari ini jam berapa? Halo... Halo...

Sofyan: Di Ujung Pandang

Eni: Oh di Ujung Pandang. Kapan balik Pak?

Sofyan: Besok ketemu boleh.

Eni: Oke karena ini terkait dengan yang kemarin Chuadian (China Huadian Engineering Companye) yang sudah selesai, gitu ya. Karena penting itu juga buat Bang Idrus kita. Hehehe

Sofyan: Oh oke, oke.

Eni: Karena yang bisa ini kan ke Pak Kotjo, itu Pak Sofyan. Gitu pak. Jadi saya perlu ketemu Pak Sofyan dulu sendiri. Baru habis itu saya ajak Pak Kotjo. Gitu pak.

Sofyan: Oke, baik.

Eni: Oke makasih.

Sofyan: Makasih.

Jaksa menanyakan ke Sofyan apa maksud pembicaraan itu. Sofyan mengatakan tak tahu maksud omongan Eni. Karena saat itu sedang men­dampingi Menteri BUMN Rini Soemarno.

Jaksa juga menanyakan mak­sud ucapan Eni yang menyebut "penting untuk Idrus". Sofyan mengaku tak tahu. "Mungkin karena posisi saya nelepon di depan Menteri ya jadi tidak menangkap, yang penting buru-buru selesai pembicaraan."

Jaksa terus mencecar men­genai ucapan Sofyan yang mengiyakan permintaan Eni dengan mengatakan "oke". "Saya sungguh belum dijelas­kan sama beliau (Eni)," jawab Sofyan.

Ketika jaksa menyinggung apakah pembicaraan itu agar Idrus mendapat bagian dari proyek PLTU Riau 1, Sofyan menjawab tak tahu. "Apa mung­kin (soal) kendaraan, mobil (jenazah)," ucap Sofyan.

Jaksa menepis anggapan itu. Menurut jaksa, Sofyan pernah mengatakan permintaan Idrus soal mobil jenazah tidak diketa­hui Eni. "Ini masalah berbeda," tampik jaksa.

"Penting buat Bang Idrus, apa maksudnya?" cecar jaksa lagi.

"Sampai saat ini sungguh enggak tahu, karena jujur saya di depan menteri sehingga maaf, saya lebih cepat menjawab supaya cepat selesai," Sofyan bersikukuh.

Sofyan menuturkan, Idrus, Eni dan Kotjo pernah ke rumahnya. Idrus lalu minta Eni dan Kotjo pulang duluan. Sebab ia ingin bicara empat dengan Sofyan

Menurut Sofyan, pembicaraan satu jam dengan Idrus memba­has soal mobil jenazah.

"Diskusi kendaraan masjid. Mobil jenazah."

PLN, kata dia, tidak bisa mengeluarkan dana CSR untuk Kementerian Sosial yang dip­impin Idrus. Pengajuan dana CSR harus dari pihak terkait. Yakni masjid.

Idrus tak membantah pernah ke rumah Sofyan. Menurutnya, ia punya kepentingan sendiri bertemu Sofyan. Berbeda den­gan Eni dan Kotjo.

"Saya katakan, 'Ayo silakan tapi masalah beda, kalau sama-sama ketemu biar dia (Kotjo) bi­cara dulu baru kita'," ujarnya.

Ia mengamini keterangan Sofyan bahwa pertemuannya membahas soal CSR.

Dalam perkara ini, Idrus didakwa menerima suap Rp 2,25 miliar dari Kotjo. Supaya mem­bantu Kotjo mendapatkan proyek PLTU Riau 1.

Saat pertemuan di kantornya, Kotjo pernah menjanjikan kepada Idrus dan Eni fee 2,5 persen jika bisa mendapatkan proyek PLTU Riau 1. Proyek itu bernilai 900 juta dolar Amerika. Jadi fee-nya 22,5 juta dolar. ***

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Manusia Nusantara dan Karakteristiknya

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:59

Diduga Terlibat Korupsi, Wali Kota Pematangsiantar Dilaporkan ke KPK

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:40

Telkom Bidik Peluang AI di Berbagai Sektor Industri Lewat Alcosystem

Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:20

Bahlil: Bagi Golkar, Kosgoro ‘Seng Ada Lawan’

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:57

Film Pesta Babi Dianggap jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:33

Banyak Orang Cemas dengan Ekonomi Indonesia, Chatib Basri jadi Solusi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 02:15

Membongkar Jaringan Korupsi Terstruktur Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:55

Penangkapan 320 WNA Jaringan Judol jadi Kado Manis Hari Bhayangkara

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:30

Kasus Silmy Karim Harus jadi Momentum Reformasi Total Keimigrasian

Sabtu, 06 Juni 2026 | 01:10

Purbaya Bantah Isu Mundur dari Menkeu: Saya Lebih Suka Maju!

Sabtu, 06 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya