Berita

Anthony Leong/Dok

Politik

Jokowi Menang Di Sosmed 2014, Sekarang Kalah Kok Tidak Percaya

SELASA, 12 FEBRUARI 2019 | 06:52 WIB | LAPORAN:

Joko Widodo justru dinilai menunjukkan kekhawatiran dengan pernyataannya tidak percaya media sosial.

"Pak Jokowi sepertinya sadar kalau memang netizen menunjukkan sentimen negatif kepada Pak Jokowi dan Kyai Ma'ruf sedangkan Pak Prabowo dan Bang Sandi sangat positif di media sosial," kritik koordinator Prabowo-Sandi Digital Team (PRIDE), Anthony Leong di Jakarta.

Anthony yang juga anggota Direktorat Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi siap membuktikan data kekalahan Jokowi-Maruf di pembicaraan media sosial melalui metode big data.


"Ini era big data, semua data digital bisa dicapture. Kami akan maksimalkan algoritma di media sosial untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas Prabowo-Sandi. Jokowi menang di sosmed 2014 jangan karena sekarang kalah jadinya tidak percaya," lanjutnya.

Pakar digital ini juga menekankan bahwa sekarang interaksi media sosial menjadi arena yang penting dalam suatu kontestasi demokrasi termasuk Pemilu 2019 nanti.

"Di era demokrasi ini, media sosial itu medan tempur yang juga harus dimenangkan. Opini dibentuk dalam ruang-ruang interaksi di berbagai media sosial," terangnya.


Akhir pekan lalu, dalam peringatan Hari Pers, Presiden Joko Widodo menyampaikan era media sosial membuat siapa pun dapat bekerja sebagai jurnalis, tetapi tidak sedikit yang menyalahgunakan media sosial untuk menebar ketakutan di ruang publik.

"Sekarang setiap orang bisa bisa menjadi wartawan dan pemred. Tetapi kadang digunakan untuk menciptakan kegaduhan, ada juga yang membangun ketakutan pesimisme," kata Jokowi.

Presiden memisalkan, saat pemerintah menyampaikan satu informasi yang berisi kabar baik dan fakta. Namun yang muncul di ruang publik disimpulkan sebagai satu pencitraan semata.

"Jangan diartikan sebagai kampanye atau pencitraan, tetapi itu untuk membangun masyarakat yang sadar akan informasi," kata dia.[wid]

Populer

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

OTT Pegawai Pajak Jakarta Utara: KPK Sita Uang Ratusan Juta dan Valas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:14

Mendagri: 12 Wilayah Sumatera Masih Terdampak Pascabencana

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:04

Komisi I DPR: Peran TNI dalam Penanggulangan Terorisme Hanya Pelengkap

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:33

X Ganti Emotikon Bendera Iran dengan Simbol Anti-Rezim

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:27

Trump Sesumbar AS Bisa Kuasai 55 Persen Minyak Dunia Lewat Venezuela

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:10

Konten Seksual AI Bikin Resah, Grok Mulai Batasi Pembuatan Gambar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:52

Ironi Pangan di Indonesia: 43 Persen Rakyat Tak Mampu Makan Bergizi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:41

Emas Antam Berkilau, Naik Rp25.000 Per Gram di Akhir Pekan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:34

Khamenei Ancam Tindak Tegas Pendemo Anti-Pemerintah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:22

Ekonomi Global 2026: Di Antara Pemulihan dan Ketidakpastian Baru

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:06

Selengkapnya