Berita

Teguh Santosa/Repro

Politik

Jokowi Harus Jelaskan Tudingan "Propaganda Rusia" Wacana Kampanye Atau Sikap Resmi Pemerintah

SABTU, 09 FEBRUARI 2019 | 21:40 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pernyataan Presiden Joko Widodo mengenai "propaganda Rusia" memang tidak terlalu diperhitungkan oleh pemerintahan Vladimir Putin. Namun, Jokowi perlu memberikan sinyal untuk mempertegas apakah pernyataan mengenai "propaganda Rusia" itu disampaikan dalam kapasitas sebagai presiden, melainkan sebagai calon presiden.

Demikian disampaikan pengamat politik internasional Teguh Santosa dalam diskusi "Hoax Propaganda Rusia: Kualitas Politik Internasional Indonesia Hari Ini di Mata Dunia" yang diselenggarakan Perkumpulan Swing Voters (PSV) Indonesia di Tebet Barat Dalam IV, Jakarta, Sabtu (9/2). Pembicara lain dalam kegiatan itu adalah Ketua Umum PSV Adhie Massardi dan Direktur Eksekutif Sabang-Merauke Centre Syahganda Nainggolan.

Rusia ini mereka punya kebijaksanaan yang luar biasa. Bagi orang Rusia, perdamaian yang buruk itu lebih bagus dari perang yang baik," ujar dosen hubungan internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu.


"Jadi walaupun mereka kecewa, saya kira tidak akan mengambil kebijakan yang lebih dari sekadar memberikan penjelasan lewat Twitter yang kemarin," kata Teguh.

Dia menilai, Jokowi harus menjelaskan apakah terminologi yang digunakannya itu hanya sekadar wacana yang berkembang di tim kampanye yang mendampingi dirinya dalam Pilpres 2019, atau memang wacana yang berkembang di lembaga pemerintahan.

"Feeling saya mengatakan itu wacana yang berkembang di dalam tim kampanye," sambung Teguh.

Teguh menyarankan Jokowi tidak lagi mengulangi pernyataan tudingan tersebut. Bila terus disampaikan, pemerintah Rusia bisa semakin terganggu dan akan memberikan respon yang lebih dari sekadar pernyataan lewat media sosial.

"Jika presiden atau capres Jokowi tetap bersikukuh mengulang dan mengulang statement-nya soal propaganda Rusia maka bisa jadi Rusia akan melakukan protes yang lebih tinggi lagi. Misalnya memanggil dubesnya dari Jakarta ke Moskow," urai Teguh.

Dia mengingatkan, penggunaan istilah "propaganda Rusia" dianggap terlalu berlebihan dan terkesan ikut campur dalam urusan antara Rusia dan Amerika Serikat yang berkembang sejak pemilihan presiden AS tahun 2016 lalu.

"Jadi biarlah soal "propaganda Rusia" yang dikembangkan oleh AS itu menjadi urusan antara AS dengan Rusia. Jangan model itu kemudian dipaksakan untuk seakan-akan terjadi di Indonesia. Dampaknya akan merugikan kita di mata dunia internasional," demikian Teguh. [wah]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Kasus Korupsi Kuota Haji Masuk Babak Baru, Gus Yaqut Cs Dilimpahkan ke JPU KPK

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:19

Kericuhan Warnai Kongres VII BM PAN di Banten

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:12

Purbaya Bidik Ekonomi Digital hingga Sektor Informal untuk Dongkrak Penerimaan Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:10

Trump Sebut Mojtaba Khamenei Nyaris Tumbang, Militer Iran Hancur

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:08

DPR Ingin Rampungkan RUU Perampasan Aset Tahun Ini

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:00

JPO Tendean Rusak Berat Ditabrak Truk, Warga Diimbau Gunakan Jalur Alternatif

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Saham Shell Menguat Usai Divestasi Bisnis Energi Terbarukan di India

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Bantah Isu Penolakan, DPR Tegaskan RUU Perampasan Aset Masih Berproses

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:44

BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Kas Negara di Kuartal I 2026, Bukukan Kontribusi Pajak Terbesar

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:21

Indonesia Harus Benahi Regulasi dan Insentif untuk Perkuat Filantropi

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:19

Selengkapnya