Berita

Amir Syamsuddin/Net

Politik

Eks Menkumham: Buat Apa Jadi Presiden Kalau Tidak Bisa Tegakkan Hukum

RABU, 06 FEBRUARI 2019 | 18:18 WIB | LAPORAN:

Penegakan hukum dalam empat tahun terakhir dinilai telah mengalami kemunduran. Hal itu terjadi karena ada problematika serius dalam kepemimpinan bangsa ini.

Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) era Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Amir Syamsuddin menguraikan bahwa pemerintah belum berhasil mempertemukan rasa keadilan dengan keadilan yang diinginkan rakyat Indonesia. Salah satu contohnya, proses hukum yang masih terlampau diskriminatif.

"Semalam saya nonton acara ILC, betul-betul terenyuh bagaimana melihat masih seorang Ahmad Dhani, Buni Yani, dan masih ada juga calon-calon lainnya yang kita khawatirkan akan muncul," paparnya membeberkan kasus-kasus yang dinilai kental nuansa diskriminatif dalam diskusi bertajuk ‘Hukum Era Jokowi Mundur dan Zalim?’ di Kantor Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (6/2).


Hal semacam itu ditegaskannya muncul akibat kepemimpinan nasional yang memiliki problematika besar seperti ketidaktahuan, ketidakmampuan, dan ketidakmauan.

"Jadi kombinasi dari berbagai itu berujunglah di sini. Kemunduran dalam hukum kita," tekannya.

Padahal, sambung politisi senior Partai Demokrat ini, dengan segala kewenangan yang ada, Presiden RI Joko Widodo mestinya mampu melakukan langkah penegakan hukum tanpa harus mengintervensi.

"Presiden kita itu tidak boleh sedikit-sedikit bilang saya tidak mau intervensi, saya tidak mau mencampuri,” ujarnya.

“Lah, buat apa kamu jadi presiden, itu bukan mencampuri, tapi menegakkan hukum. Itu bukan mencampuri, otoritas dia sebagai presiden bisa melakukan langkah-langkah tanpa harus dinilai sebagai mencampuri," pungkas Amir dengan nada meninggi. [ian]

Populer

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

OTT Pegawai Pajak Jakarta Utara: KPK Sita Uang Ratusan Juta dan Valas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:14

Mendagri: 12 Wilayah Sumatera Masih Terdampak Pascabencana

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:04

Komisi I DPR: Peran TNI dalam Penanggulangan Terorisme Hanya Pelengkap

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:33

X Ganti Emotikon Bendera Iran dengan Simbol Anti-Rezim

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:27

Trump Sesumbar AS Bisa Kuasai 55 Persen Minyak Dunia Lewat Venezuela

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:10

Konten Seksual AI Bikin Resah, Grok Mulai Batasi Pembuatan Gambar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:52

Ironi Pangan di Indonesia: 43 Persen Rakyat Tak Mampu Makan Bergizi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:41

Emas Antam Berkilau, Naik Rp25.000 Per Gram di Akhir Pekan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:34

Khamenei Ancam Tindak Tegas Pendemo Anti-Pemerintah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:22

Ekonomi Global 2026: Di Antara Pemulihan dan Ketidakpastian Baru

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:06

Selengkapnya