Berita

Ferdinand Hutahean/Net

Politik

Cak Jancuk Jokowi, Demokrat: Penghinaan Terhadap Simbol Negara

SELASA, 05 FEBRUARI 2019 | 11:32 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Penyematan gelar 'Cak Jancuk' kepada Presiden Joko Widodo dinilai merendahkan presiden Jokowi. Sebab, terminologi Jancuk dalam bahasa Jawa mengandung makna yang tidak senonoh.

Demikian disampaikan Jubir BPN Prabowo-Sandi Ferdinand Hutahaean kepada Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu di Jakarta, Selasa (5/2).

"Ini penghinaan kepada simbol negara bahwa seorang Presiden digelari 'jancuk' yang dalam konotasi maknanya sangat kasar seperti 'bajingan'," ujar Ferdinand.


Meskipun gelar jancuk yang dimaksud relawan Jokowi adalah akronim dari jantan, cakap, ulet, komitmen, namun hal itu bisa dianggap merendahkan marwah seorang presiden.

"Artinya pendukung Jokowi sedang merendahkan Jokowi dengan memberi gelar jancuk," kata Caleg Partai Demokrat itu.

Menurut advokat partai Demokrat ini, gelar jancuk yang disematkan kepada capres petahana Jokowi seolah menjadi salah satu indikasi memudarnya tingkat kepercayaan publik kepada presiden.

"Seperti akan kalah karena kehormatan beliau sebagai presiden hilang," demikian Ferdinand. [hta]



Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya