Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Kredibilitas Hasil Pemilu Terancam, Jokowi Harus Turun Tangan

SABTU, 02 FEBRUARI 2019 | 05:13 WIB | LAPORAN:

Kasus hukum yang tengah dihadapi oleh Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) bukan hanya bisa mengganggu proses Pemilu, tapi juga munculnya ketidakpercayaan publik terhadap hasil pemilu.

Anggota Komisi III DPR RI, Nasir Djamil menegaskan, jika status hukum Ketua KPU RI Arief Budiman dan Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi ditingkatkan menjadi tersangka maka hal itu merupakan masalah serius.

"Peningkatan status terhadap Komisioner KPU tidak sekadar mengganggu jalannya tahapan Pemilu, tapi kredibilitas penyelenggara dan hasil Pemilu," katanya kepada wartawan, Jumat (1/2).


Arief dan Pramono dilaporkan ke polisi lantaran KPU tak mau melaksanakan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta Nomor: 242/G/SPPU/2018/PTUN-JKT terkait gugatan Oesman Sapta Odang (OSO). Yang mana PTUN memerintahkan KPU untuk tidak menggunakan dalam daftar calon tetap (DCT) yang lama, dan memasukkan nama OSO ke dalam DCT Pemilu 2019.

Terkait itu, Nasir yang juga politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengaku khawatir jika jalannya pelantikan Presiden oleh MPR pasca Pemilu nanti akan dipermasalahkan karena anggota DPD yang notabene juga merupakan anggota MPR yang terpilih tidak memiliki dasar hukum. Hal itu ditekankankannya tak hanya akan menimbulkan kegaduhan baru tapi juga menimbulkan ketidakpastian dalam pergantian kepemimpinan nasional.

Untuk itu dia meminta Presiden Jokowi turun tangan. Konkretnya adalah dengan memanggil para pihak, baik OSO, KPU, dan Bawaslu.

"Presiden tidak boleh melihat semrawut kayak gini. Harus undang semuanya, tanya ini apa ini, ada apa ini. Kalian kok gitu. Ah itu presiden namanya," tekannya.

Hal tersebut ditegaskannya sangatlah penting. Sebab bukan tidak mungkin antara OSO, KPU, Bawaslu memiliki tafsir yang berbeda-beda.

"Dia (Jokowi) harus meluruskan tafsir-tafsir yang bengkok itu. Nanti kita lihat perlu atau tidak keluarkan Perppu atau tidak," pungkasnya.[dem]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya