Berita

Rizal Ramli/Net

Politik

Adhie M. Massardi: Rizal Ramli, Cendekiawan Tanpa Nafsu Kekuasaan

RABU, 30 JANUARI 2019 | 14:26 WIB | LAPORAN:

Editorial Media Indonesia (MI) hari ini (Rabu 30/1) mendapat respon Jurubicara era Presiden Abdurrahman Wahid, Adhie M Massardi.

Menurut Adhie, editorial MI berjudul Suluh Cendekiawan itu secara umum bagus. Menjelaskan fungsi sosial kaum intelektual atau cendekiawan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tapi menjadi bermasalah ketika menyebut Rizal Ramli sebagai intelektual atau cendekiawan tidak memainkan perannya secara baik dan benar.

"Kualitas kecendekiawanan dan keintelektualan Rizal Ramli itu 24 karat. Makanya dia menjadi menteri paling dipercaya Gus Dur saat beliau presiden dan mimpin kabinet," katanya.


Adhie juga mengingatkan, sebagai cendekiawan, Rizal Ramli sudah memainkan perannya secara optimal, bahkan sangat bermurah hati, untuk memperbaiki sistem dan pola pemerintahan demi kemaslahatan rakyat banyak.

"Kalau dibukukan, niscaya sudah berjilid-jilid kritik yang disampaikan DR Rizal Ramli kepada pemerintah. Dan berbeda dengan kebanyakan pengeritik pemerintah, Rizal Ramli selalu melengkapi dengan suplemen solusinya," kata Ketua Umum Perkumpulan Swing Voters (PSV) ini.

Mengenai ada kesalahan dalam mengutip data pinjaman pemerintah sejumlah 2 miliar  dolar AS dengan imbal hasil sangat tinggi yakni sebesar 11,625 persen, menurut Adhie, itu kesalahan manusiawi dan terpenting sudah dikoreksi dalam kesempatan pertama.

"Tapi satu hal yang dilupakan teman-teman di grup MI milik Surya Paloh itu, ilmuwan bisa salah soal data, bahkan analisa, tapi yang dipantang oleh cendekiawan adalah berbohong. Faktanya, dari sisi substansi, Rizal Ramli bahkan sama sekali tidak salah," ujar Adhie, menekankan.

Menko Perekonomian Darmin Nasution, kemarin (Selasa, 29/1)  mengakui sendiri bunga unga obligasi (utang) Indonesia memang lebih tinggi dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

"Jadi insinuasi MI terhadap Rizal Ramli sebagai penyebar hoax telah terkooptasi oleh oportunisme, petualang politik, semangat keilmuannya direduksi dan dikerdilkan demi menyerang individu, kelompok, dan golongan tertentu, dalam kasus ini yang menjadi sasaran ialah pemerintah, merupakan opini yang menyesatkan dan sangat disesalkan," tegas Adhie.

Soal integritas dan kredibilitas, menurut Adhie, rekam jejak Rizal Ramli mungkin yang terbaik dibandingkan dengan kebanyakan tokoh atau elite di negeri ini. Karena hal ini sudah diukir Rizal Ramli sejak mahasiswa, pertengahan 1970-an, melalui gerakan anti-kebodohan yang mendorong pemerintah waktu itu mengeluarkan kebijakan 'wajib belajar 9 tahun'.

DR Rizal Ramli, masih kata Adhie, juga bukan tipikal intelektual yang bisa digoda kekuasaan.

Buktinya, ketika diminta Presiden Joko Widodo menjadi Menko Maritim tempo hari, karakter intelektual dan kecendekiawanannya tetap berfungsi sempurna. Dia tetap memberikan peringatan dini terhadap kebijakan yang akan diambil pemerintah, sehingga dalam beberapa hal, pemerintah terhindar dari potensi kerugian.

Misalnya, urung membeli armada pesawat besar untuk BUMN Garuda Indonesia.

"Tapi secara umum, kebanyakan orang di sekeliling Presiden alergi terhadap alarm atau sistem peringatan dini. Maka, pilihannya adalah ‘mematikan alarm’ lalu tidur lagi. Sehingga ketika bangun kesiangan, bingung melihat program 35 MW listrik mangkrak, biaya per/km jalan tol sangat mahal, dan seterusnya," imbuhnya.

Tapi paling disesalkan Adhie Massardi dari tulisan editorial di MI itu adalah terkesan bahwa bangsa sebesar ini, peran intelektual dan kecendekiawannya hanya dibebankan kepada seorang Rizal Ramli.

"Padahal kalangan akademisi di kampus-kampus, bahkan jurnalis dan para pemilik media seperti Surya Paloh, seharusnya juga memainkan peran sebagai intelektual, sebagai cendekiawan, menjadi alat kontrol kekuasaan agar tidak terlalu jauh menyimpang seperti sekarang ini," tegasnya.

"Apalagi media massa seperti televisi kan menggunakan ranah (frekuensi) milik publik dalam operasionalnya," pungkas Adhie M Massardi.[wid]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya