Berita

Tony Rosyid/Net

Politik

Awas, Virus Hipersensi!

SELASA, 29 JANUARI 2019 | 08:53 WIB

JANGAN posting politik! Ini bukan group politik! Kalau nggak bisa ditegur, tolong admin remove. Bikin gaduh. Group jadi nggak adem. Politik bikin bertengkar anggota!  

Kalimat ini sering kita temui di sejumlah group WA. Anda pasti pernah juga membacanya. Atau anda pernah jadi korbannya?

Kalau anda pernah menemukan kalimat itu di group WA, berarti group itu sudah tersasar virus hipersensi. Hipersensi adalah perasaan sensitif yang mudah tersinggung ketika tersentuh sesuatu yang tak sesuai dengan perasaan dan pikirannya.


Orang yang mengidap penyakit hipersensi hampir selalu pendukung fanatik paslon, baik di pilkada maupun pilpres. Ada juga pengikut fanatik ormas. Coba perhatikan, protes keras selalu muncul ketika ada postingan yang tidak sesuai dengan pilihan politik orang yang protes. Kalau postingan itu sesuai pilihan politiknya, dia diem. Mungkin malah mesem-mesem.

Di dunia politik, pendukung sensitif ini biasa disebut dengan istilah die hard. Pokoknya pilih dia. Mati hidup pilih dia. Tutup mata, tutup telinga, tutup hati. Tak akan mau berubah. Konsisten. Tapi, konsistensi buta. Informasi positif mengenai tokoh, paslon atau ormasnya, ia percaya dan terima. Informasi negatif? Dia tolak. Dan biasanya sambil marah. Standarnya bukan benar atau salah, tapi info, berita dan data itu memperkuat tokoh, paslon dan ormasnya atau tidak.

Soal pembelaan, mirip orang-orang parpol. Siapapun paslon yang diusung parpol, akan didukung mati-matian. Semua potensi kecerdasan dan kemampuan dikerahkan untuk mendukung. Asal, MoU-nya jelas. Asal, transaksinya clear. Asal, biaya operasional dan jatah kemenangan sudah disepakati.

Bedanya, jika orang-orang yang kena virus hipersensi berpegang pada "kebenaran buta," maka, bagi parpol, prinsip moralnya bukan benar atau salah. Tapi menang atau kalah. Jika kira-kira menguntungkan, dukung. Nggak menguntungkan, hajar.

Bagi politisi parpol, imannya adalah kemenangan, koalisi dan negosiasi. Media adalah panggung untuk mencari kemenangan, memperkuat soliditas koalisi dan menaikkan daya tawar dalam negosiasi. Apapun akan dilakukan untuk tiga hal itu.

Ganti Pilkada, ganti koalisi dan berubah dalam bernegosiasi. Itu biasa. Bila perlu, ganti partai. Lumrah terjadi. Bagi politisi, Gonta ganti partai itu sesuatu yang wajar-wajar saja. Maka, jika politisi bicara platform, jangan terlalu percaya. Pindah partai, platform berubah.

Surya Paloh, dulu di Golkar. Kalah di munas, mendirikan Nasdem. Priyo Budi Santoso, dulu juga di Golkar, sekarang pindah ke Partai Berkarya. Ngabalin dulu di PBB, sekarang di Golkar. 2014 dukung Prabowo dan hajar Jokowi. Sekarang, dukung Jokowi dan hajar Prabowo. Lumayan, jadi komisaris. Negonya jelas. Nggak usah heran.

2004 TGB di PBB. 2011 pindah ke Demokrat. 2018, TGB pindah lagi ke Golkar. Pindah parpol dalam siklus tujuh tahunan. Entah nanti mau pindah ke partai apalagi. Itulah politisi. Tak ada kawan dan musuh abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi. Maka, jangan terlalu percaya juga jika ada politisi mengatasnamakan rakyat dan umat. Dobol!

Beda politisi, beda pendukung. Tidak sedikit pendukung yang fanatik. Nah, yang fanatik inilah rentan tersasar virus hipersensi. 1998 di Jepara ada sejumlah pendukung PKB dan PPP saling bunuh. 2018 kemarin di Madura ada pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo saling bunuh. Ini diantara dampak dari virus hipersensi itu. Kenapa terjadi? Karena imun (daya tahan dan kekebalan otaknya) lemah

Dampak yang paling sering dan nyata dari virus hipersensi adalah kegaduhan di medsos. Twitter, Instagram, Facebook dan WA, lumayan banyak adu perasaan terjadi. Berbagai kata dan kalimat irasional bermunculan. Karena menggunakan perasaan, maka nalar sehat dan daya intelektualitas nggak bisa bekerja.

Virus hipersensi ini tidak hanya menyerang kelompok menengah ke bawah. Tapi tak jarang juga menular di kalangan menengah atas, termasuk para sarjana dan dosen. Aneh bukan?

Kaum akademisi yang mestinya punya akses data dan matang dalam perbedaan, masih tersasar virus hipersensi. Tak sanggup menerima perbedaan. Mudah terpancing dan gampang menyerang personal dengan mencari-cari argumen, seolah-olah ilmiah. Bila perlu obral ayat atau hadis. Dukung pakai pasal-pasal di bible. Biar kelihatan ada legitimasi samawi.  Punya nilai eskatologis.

Orang yang tersasar virus hipersensi selalu mengkambinghitamkan politik. Apa yang salah dengan politik? Kalau otak kita waras, yang salah bukan politiknya. Bukan obyeknya. Politik itu netral. Tapi yang salah dan tidak netral itu otak orangnya. Salah mindsetnya.

Otak yang nggak netral ini diakibatkan oleh menyempitnya jaringan saraf yang tersumbat oleh berbagai unsur fanatisme. Bisa fanatisme tokoh, bisa paslon, ormas, partai, dan bisa apa saja. Akibatnya, darah di otak beku karena kekurangan oksigen. Setiap oksigen yang datang dan mengalir ke otaknya ditolak, karena dianggap tidak sesuai dengan jenis darah yang ia punya. Darah fanatisme. Di sinilah istilah "jahiliyah" itu oleh agama seringkali disematkan kepada mereka yang fanatik. Sebab, fanatisme adalah sumber kebodohan.

Otak yang jarang dipakai untuk bersujud, akan kekurangan oksigen yang membuat seseorang jadi hipersensi. Sujud itu simbol kerendahan hati. Orang yang rendah hati selalu memberi ruang di otaknya bagi oksigen-oksigen perbedaan untuk hadir.

Jadi, virus hipersensi ini hanya menular pada orang-orang yang darah di otaknya beku karena tak pernah memberi ruang oksigen bagi perbedaan. Dan virus hipersensi ini menyerang dengan ganas ketika musim Pilkada dan Pilpres datang. Awas, hati-hati. Jangan-jangan Anda juga termasuk yang tersasar virus ini.[***]


Tony Rosyid

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa


Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya