Berita

Rahman Tolleng/Net

Politik

Rahman Tolleng, Perginya Seorang Pejuang Nilai

SELASA, 29 JANUARI 2019 | 08:44 WIB | OLEH: ILHAM BINTANG

NAMANYA sudah berkibar sejak era Bung Karno. Saya masih bocah, berusia 10 tahun, di Makassar, saat nama dan kiprahnya mengambil posisi berseberangan dengan kekuasaan, mengoreksi pemerintah, masuk dalam benak. Memori itu mengendon dalam benak sampai sekarang, sangat kuat sebagai memori nilai- nilai perjuangan.

Ia memang pejuang yang konsisten.Sebuah sikap langka, amat mewah, di zaman now. Ia memilih jalan sunyi di sisa hidupnya ketika lingkungannya sudah mati rasa massal mengabaikan nilai- nilai demi kenikmatan duniawi. Tetapi tokoh itu sudah pergi selamanya subuh tadi, Selasa (29/1). Selamat jalan.

Energi Rahman Tolleng seolah tak pernah padam. Pada 1965-1966, dia ikut menggerakkan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), kini aktif mendorong kaum muda melakukan perubahan. Mantan Direktur Penerbitan PT Pustaka Utama Grafiti (1991-2006) itu, juga turut membidani kelahiran Partai Serikat Rakyat Independen (2 Mei 2011), namun gagal untuk menjadi peserta pemilihan umum 2014. Berpolitik, menurut putra Bugis kelahiran Sinjai, Sulawesi Selatan, 5 Juli 1937 ini, haruslah dengan tujuan memuliakan kehidupan rakyat.


Dorongan berpolitik datang dari rasa keindonesiaan yang bersemi tatkala dia duduk di kelas 3 sekolah dasar di Watampone, Sulawesi Selatan, pengujung 1945. Hampir setiap petang, bersama teman sepermainan, dia “mengintip” sekelompok anak muda yang tengah berlatih baris-berbaris di jalan raya. Sebagian besar di antara mereka mengenakan pakaian seragam berwarna putih dan di dada masing-masing terpasang emblem merah-putih.

Rahman Tolleng pernah mengenyam bangku Institut Teknologi Bandung, Jurusan Apoteker (1955-1959), namun tidak tamat. Sempat terdaftar sebagai salah seorang mahasiswa Universitas Padjajaran,Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, tetapi juga tidak selesai. Pada era Orde Lama, dia menjadi buronan politik karena menentang rezim Nasakom Soekarno.Sesudah peristiwa Gerakan 30 September 1965, dia bergabung ke dalam KAMI di Bandung. Mewakili Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Mahasiswa Lokal, dia duduk sebagai salah seorang Ketua Presidium KAMI Pusat.

Pada pertengahan 1966, bersama Riandi dan Awan Karmawan Burhan, dia memprakarsai penerbitan sekaligus memimpin mingguan Mahasiswa Indonesia. Roger K Paget, salah seorang pengamat pers Indonesia ketika itu, sempat berkomentar,“berkat mutu dan sikap radikalnya, Mahasiswa Indonesia dengan cepat memiliki reputasi sebagai koran intelektual yang banyak dibaca.”

Pada 1974, Mahasiswa Indonesia diberangus rezim Orde Baru. Menjelang Pemilu 1971, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR, 1968-1971) ini, ikut mengambil bagian dalam proses transformasi Sekretariat Bersama Golongan Karya menjadi Golkar. Dia pun ditunjuk sebagai Wakil Pemimpin Redaksi, kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Harian Suara Karya, corong Golkar. Selain anggota DPR (1971-1974), salah satu anggota Dewan Pimpinan Pusat Golkar ini juga menjabat Sekretaris Jenderal DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Peristiwa 15 Januari 1974 merupakan titik balik bagi dirinya. Dia dituduh terlibat dalam demonstrasi menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka. Rahman Tolleng, bersama sejumlah intelektual dan pemimpin mahasiswa masa itu, ditahan selama 16 bulan di Rumah Tahanan Militer Boedi Oetomo, Jakarta, tetapi kemudian dibebaskan tanpa melalui proses peradilan. Salah seorang eksponen Angkatan 1966 yang akrab disapa “Boss” oleh teman-teman dekatnya sejak meringkuk di RTM Boedi Oetomo itu, mulai tersingkir dari panggung politik.

Selain di-recall sebagai anggota DPR, dia juga kehilangan jabatan di DPP Golkar dan DPP HKTI.

Pada awal tahun 1990-an, bersama sejumlah intelektual serta aktivis, Rahman Tolleng mendeklarasikan lahirnya Forum Demokrasi (Fordem), yang selama bertahun-tahun menjadi wadah bagi sebagian aktivis prodemokrasi.

Fordem mengajukan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai calon presiden alternatif menggantikan Soeharto. Gus Dur akhirnya berhasil menjadi Presiden menggantikan BJ Habibie. Fordem pun lambat-laun menghilang. Namun, Rahman Tolleng tak kenal menyerah. “Perjuangan politik adalah perjuangan nilai,” tandas mantan Ketua Dewan Pertimbangan Fordem ini. [***/Dari berbagai sumber]

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

UPDATE

Prabowo Desak Bos Batu Bara dan Sawit Dahulukan Pasar Domestik

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:10

Polisi Harus Ungkap Pelaku Serangan Brutal terhadap Aktivis KontraS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:10

Aparat Diminta Gercep Usut Penyiraman Air Keras terhadap Pembela HAM

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:55

Prabowo Ingatkan Pejabat: Open House Lebaran Jangan Terlalu Mewah

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:55

Bahlil Tepis Isu Batu Bara PLTU Menipis, Stok Rata-rata Masih 14 Hari

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:38

Purbaya Lapor Prabowo Banyak Ekonom Aneh yang Sebut RI Resesi

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:32

Kekerasan Terhadap Pembela HAM Ancaman Nyata bagi Demokrasi

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:12

Setengah Penduduk RI Diperkirakan Mudik Lebaran 2026

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:07

Mentan: Cadangan Beras Hampir Lima Juta Ton, Cukup Hingga Akhir Tahun

Jumat, 13 Maret 2026 | 22:48

Komisi III DPR Minta Dalang Penyerangan Air Keras Aktivis KontraS Dibongkar

Jumat, 13 Maret 2026 | 22:32

Selengkapnya