Berita

Diskusi "Ekonomi Indonesia Pasca Pemilu Presiden 2019"/RMOL

Politik

Diingatkan, Janji Jokowi Dalam RPJMN Belum Dipenuhi

SENIN, 28 JANUARI 2019 | 13:25 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

. Pertumbuhan ekonomi di era pemerintahan Joko Widodo stagnan hanya di kisaran 5 persen. Pada 2018, Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-35 dunia yaitu di angka 5,7 persen.

Begitu disampaikan peneliti Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR), Gede Sandra dalam diskusi bertema "Ekonomi Indonesia Pasca Pemilu Presiden 2019" di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (28/1).

"Sehingga tidak tepat untuk membandingkan Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi dengan negara-negara maju di G-20," ujarnya.


Alasanya, di negara-negara maju pendapatan per kapita warganya sudah sangat tinggi ditambah tiadanya original demand. Sedangkan di negara berkembang seperti Indonesia yang pendapatan perkapitanya rendah original demand masih ada sehingga masih sangat memiliki ruang untuk tumbuh lebih tinggi.

"Padahal kata Jokowi saat menyampaikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, untuk mencapai negara berpenghasilan tinggi pada tahun 2030, perekonomian nasional dituntut tumbuh rata-rata 6-8 persen per tahun," urai Gede.

Lebih jauh, sambung dia, kontribusi dari sektor manufaktur (non migas) terhadap PDB selama empat tahun pemerintahan Jokowi hanya sebesar 18,5 persen per tahun, terendah dari pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya, pada era SBY kontribusi sektor manufaktur sebesar 21,4 persen pertahun, era Megawati Soekarnoputri 24,4 persen per tahun, dan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur 24,5 persen per tahun.

Selain itu, tax ratio atau besaran penerimaan pajak terhadap PDB di pemerintahan Jokowi hanya sebesar 11,6 persen per tahun yang masuk dalam kategori terendah di kawasan Asia Fasifik, dan dalam kurun empat tahun terakhir besaran tax ratio terus menurun.

"Hal ini menunjukkan betapa lemahnya kemampuan pemerintahan Jokowi dalam mengumpulkan penerimaan pajak sebagai sumber pendapatan negara," demikian Gede Sandra. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya