Berita

Prabowo Subianto/Net

Politik

23 Tahun Silam (Usia 17 Tahun), Saya Sudah Interupsi Jenderal Prabowo Subianto

Prabowo Berjasa atas Dana Royalti 1 Persen Penghasilan Kotor Freeport Untuk Keluarga Kami dan Rakyat Papua
MINGGU, 27 JANUARI 2019 | 13:47 WIB | OLEH: NATALIUS PIGAI

KURANG lebih 23 tahun silam, 30 Desember 1996, di Kompleks Ajudan Jenderal Bandung. Jenderal Prabowo Subianto berdiri di podium, pidato berapi api di hadapan mahasiswa Papua se-Jawa Bali.

Di tengah mahasiswa, saya yang ketika itu umur 17 tahun, interupsi hentikan pidato seorang jenderal yang bersinar saat itu, berteriak lantang "interupsi Jenderal! Anda banyak ngomong, hari ini rakyat saya menderita di Papua. Fidelis Zonggonau, paman kandung saya memimpin demonstrasi karyawan tutup Freeport menuntut keadilan. Sejak kapan Jenderal berbuat baik untuk keluarga saya dan rakyat Papua. Sebaiknya Jenderal angkat kaki dari sini."

Semua peserta kaget dan hening mendengar interupsi, Saya nyaris diusir dan diinterogasi ajudan dan petugas keamanan.


Namun, rupanya Jenderal Prabowo mendengar apa yang saya utarakan, mengomentari pernyataan saya. Prabowo langsung menyatakan bahwa beliau telah berbicara dengan Presiden Suharto supaya rakyat Papua dan keluarga anda akan diberikan dana Royalti Freeport satu persen dari penghasilan kotor per tahun.

Apapun cerita heboh dan membahana seantero negeri ini tentang Freeport dan diverstasi 51 persen persen. Sedari dulu Prabowo sudah berbuat nyata bagi rakyat Papua (minimal keluarga saya pemilik gunung Nemangkawi), telah menikmati 22 tahun lamanya.

Sebuah perjuangan Prabowo Subianto dalam kesunyian tanpa mencari penghargaan dan citra seakan-akan pahlawan pembawa berkah. Itulah Prabowo Subianto, di balik banyak cerita yang terdengar di telinga, sebuah kisah yang tidak pernah digembar-gemborkan di media nasional, sebagaimana dilakukan oleh petinggi negeri ini yang seakan-akan, sekonyong-konyong dan tiba-tiba menjadi pahlawan kesiangan bagi rakyat Papua.

Harus diakui bahwa di masa lalu Prabowo memiliki catatan pembebasan sandera warga negara Inggris di Mapenduma Papua. Tetapi Prabowo tidak bertindak sendirian. Ada tiga pasukan elit terbaik dunia bergabung dalam Tim yaitu: SAS, Skotland Yard dan Kopassus atas dukungan internasional.

Prabowo sudah menyadari dan mempelajari berbagai macam buku tentang Doktrim Hukum Humaniter dan Hukum Perang tidak akan mudah dilakukan di masa mendatang.

Sementara kejahatan Jokowi selama empat tahun, tidak kurang dari 6 ribu rakyat Papua ditangkap, dianiaya, dibunuh dan disiksa, banyak orang mati kelaparan meskipun hidup di atas kekayaan yang melimpah.

Operasi militer di Papua di Hari Raya Kelahiran Tuhan Yesus Kristus, Pendeta seorang Hamba Tuhan dibunuh. Politik Jokowi adalah politik pendudukan yang menghancurkan akar budaya, nilai, tatanan sosial dan ancaman kepunahan.

Oleh karena itu, hari ini saya berdiri di garis Prabowo bukan untuk melindungi bahkan membenarkan dan menyetujui apa kehendak dan kemauannya yang bertentangan dengan prinpip universal yaitu demokrasi, hak asasi manusia, perdamaian dan keadilan, tetapi sebagai seorang aktivis Indonesia yang ingin mengubah untuk membangun Mosaik Indonesia yang berbasis HAM: nilai demokrasi, nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian dan keadilan.

Sebuah nilai- nilai artifisial yang diabaikan oleh pemerintah Joko Widodo 2014-2019.

Hari ini kita akan memilih pemimpin bukan hanya sekedar memilih orang yang “terlihat baik” tetapi juga orang yang “bisa”.

Orang 'terlihat baik' cukup menjadi penasehat, tetapi menjadi pemimpin itu adalah orang yang 'bisa' yaitu bisa memimpin negara besar ini.[***]


Natalius Pigai
Aktivis Kemanusiaan, komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2012-2017


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya