Berita

Jaya Suprana/Dok

Jaya Suprana

Zoobiquity

JUMAT, 25 JANUARI 2019 | 07:29 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

ETOLOGI adalah suatu bentuk pemikiran manusia yang berupaya menelaah perilaku satwa yang dimantapkan oleh Nikolaas Tinbergen dan Konrad Lorenz sebagai para penerima anugrah Nobel pada tahun 1973.

Zoobiquity

Etologi merupakan perpaduan penelitian laboratirium dengan pengamatan di lapangan yang memiliki keterkaitan dengan biologi, neuroanatomi, ekologi dan evolusi.


Seorang etolog pada umumnya menelaah proses-proses bagaimana suatu jenis perilaku  jenis-jenis hewan yang berbeda. Meski ada pula yang fokus pada perilaku suatu jenis atau kelompok kekerabatan satwa tertentu.  

Pada tahun 2012 Barbara Natterson-Horowitz dan Kathryn Bowers mempublikasikan buku berjudul Zoobiquity yang pada hakikatnya berakar pada Etologi.

Kesehatan

Sebagai sub judul buku Zoobiquity sengaja dijelaskan bahwa makna istilah baru tersebut adalah "Apa yang Bisa Diajarkan Satwa kepada Kita Tentang Kesehatan dan Ilmu Penyembuhan."    

Natterson-Horowitz adalah seorang praktisi kardiologis di Universitas California, Los Angeles (UCLA) Fakultas Kedokteran David Geffen, yang juga memiliki pelatihan psikiatri.

Sementara Kathryn Bowers adalah penulis profesional yang mengajar menulis di UCLA. Buku Zoobiquity membahas sifat-sifat yang dimiliki bersama oleh yang satwa dan manusia yang memiliki relevansi medis.  

Secara biologis, manusia berbagi silsilah dengan satwa maka memiliki implikasi untuk beberapa kemiripan. Satwa memiliki emosi, preferensi, dan menderita penyakit yang serupa pada beberapa tingkatan dengan manusia menderita.
Karena binatang dan manusia berbagi sejarah evolusi, dapat disimpulkan bahwa mereka juga berbagi penyakit maka para dokter dan dokter hewan dapat mempelajari lebih lanjut tentang penyakit-penyakit dan berkomunikasi lebih intensif satu sama lain demi menyadari pengaruh evolusi terhadap penyakit yang diderita manusia.

Jamu

Saya pribadi setuju dengan pemikiran Zoobiqutarian, sebab secara organoleptis telah menyaksikan sendiri bagaimana perilaku satwa dalam upaya menyembuhkan penyakit yang mereka derita.

Anjing pada saat menderita gangguan pencernaan sengaja mencari demi memakan rumput serta arang yang bukan makanan mereka di masa merasa sehat walafiat. Anjing dan kucing berjemur di bawah sinar sang surya di pagi hari demi menjaga kesehatan mereka masing-masing.

Ayah saya, Lambang Suprana memperoleh ilham untuk ramuan jamu anti diabetes setelah mengamati perilaku semut gemar mengerumuni biji pete yang memang manis namun menghindari kulit buah pete yang memang pahit rasanya. Secara nalar dapat disimpulkan bahwa kulit buah pete bersifat anti gula.

Kebudayaan

Pada dinding mahacandi Borobudur terdapat relief berkisah episod Ramayana tentang sang mahasuperhero Hanuman sibuk mencari tanaman berkhasiat untuk menyembuhkan Rama beserta segenap laskar wanara dari gangguan angkara murka racun yang ditebar Rahwana.

Pada kenyataan kebudayaan memang banyak penemuan ramuan jamu sebagai ramuan nabati berasal dari tanaman berlatar belakang pengamatan zoobiquitarian terhadap perilaku satwa dalam upaya menjaga kesehatan mau pun menyembuhkan penyakit yang mereka derita.

Allah Yang Maha Kuasa menciptakan mahluk hidup yang rawan gangguan kesehatan namun di sisi lain sebenarnya Allah Yang Maha Kasih juga menciptakan tanaman yang memiliki khasiat mandraguna untuk menanggulangi gangguan kesehatan.[***]


Penulis adalah pembelajar jamu sebagai mahakarya kebudayaan Nusantara


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Haji Isam Temui Seskab Teddy, Bahas Investasi Pertambangan hingga Hilirisasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:17

Kolombia Ubah Sikap, Kini Akui Kedaulatan Maroko atas Sahara

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:02

KPK Periksa 2 ASN Pemkot Bengkulu dalam Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:01

Jelang Sidang Tahunan MPR, Pemerintah Matangkan Persiapan Pidato Kenegaraan Prabowo

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:56

Bitcoin Menguat Berkat Derasnya Aliran Dana ETF

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:49

Keamanan Data Pajak Jadi Prioritas Usai Kebakaran Bapenda

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:45

Destry Damayanti Resmi Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:36

Kejagung Periksa 16 Saksi di Kasus BGN, 10 di Antaranya Direktur Perusahaan

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:32

Greenland Tolak Aktivitas Perusahaan AS di Tengah Ancaman Aneksasi Trump

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:27

Gibran Jadi Presiden Solusi atau Petaka?

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:26

Selengkapnya