Berita

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok/Net

Politik

Ahok Bebas, Apa Pengaruhnya Pada Pilpres?

SENIN, 21 JANUARI 2019 | 17:59 WIB | OLEH: SAID SALAHUDIN

BEBASNYA Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kemungkinan besar tidak akan memberi pengaruh yang signifikan terhadap elektabilitas dari dua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Kecuali, jika Ahok kembali 'berulah'.

Pada Pilpres 2019, Ahok punya empat pilihan politik: mendukung petahana, paslon 02, netral atau abstain. Opsi terakhir tampaknya tidak akan diambil Ahok, sebab melalui surat yang dibuatnya baru-baru ini, dia justru menghimbau pengikutnya agar tidak golput.

Kalau membaca suratnya, ada kecenderungan Ahok akan memilih opsi ketiga: netral. Sinyalnya ke sana. Tetapi Ahok kan tidak mudah ditebak, kalau tidak mau disebut inkonsisten.


Dulu, misalnya, dia pernah tegas menolak diusung oleh partai untuk maju di Pilkada DKI Jakarta. Maunya melalui jalur independen. Tetapi ujung-ujungnya kan diusung oleh partai juga.

Jadi, walaupun surat Ahok tidak memberi kode dukungan kepada salah satu paslon, itu bukan jaminan Ahok akan mengambil sikap netral atau hanya puas menjadi pemilih di Pilpres.

Tetapi untuk memilih opsi kedua: mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno,  kemungkinannya lebih kecil lagi. Ada hambatan psikologis dari masing-masing pihak untuk membangun kerjasama politik.

Ahok sepertinya berat untuk mendukung paslon 02 karena secara riil politik, partai-partai pendukung Prabowo-Sandi justru merupakan lawan politiknya.

Sementara dari kelompok pendukung Prabowo-Sandi pun tampaknya masih memperlihatkan sikap anti-Ahok. Sikap itu terutama datang dari mereka yang sangat keras menentang Ahok pada kasus penodaan agama.

Oleh sebab itu, saya menduga pada gilirannya Ahok akan mendukung pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin.

Walaupun dukungan itu mungkin tidak langsung ia nyatakan di hari kebebasannya pada tanggal 24 Januari mendatang atau pada waktu dekat, tetapi dipertengahan waktu atau menjelang hari pemungutan suara boleh jadi dukungan itu akan ia berikan.

Soal dukungannya akan ia sampaikan secara ekplisit atau implisit itu soal lain. Tetapi pilihan pada opsi yang pertama ini tampaknya menjadi kemungkinan yang paling besar.

Bahwa di kubu paslon 01 ada figur cawapres Ma'ruf Amin yang punya peran besar menjebloskan Ahok ke penjara, itu saya kira bisa diselesaikan lewat kompromi politik.

Apalagi Ma'ruf Amin sendiri sudah pernah menyampaikan permintaan maaf untuk kasus Ahok yang ia sebut terpaksa ia lakukan karena suatu situasi.

Tetapi jika kelak Ahok mendukung paslon 01, hal itu tampaknya tidak akan memberi banyak pengaruh terhadap peningkatan suara Jokowi-Ma'ruf. Sebab, kecenderungannya pendukung Ahok selama ini sudah mendukung capres petahana.

Artinya, tanpa adanya pernyataan dukungan dari Ahok sekalipun, tren dukungan para 'Ahokers' terhadap paslon 01 sebenarnya sudah tergambar di dalam hasil survei, misalnya.

Masalahnya, dukungan Ahok kepada Jokowi-Ma'ruf justru bisa merugikan bagi pasangan itu jika Ahok kembali membuat 'ulah'. Hal ini mengingat Ahok adalah sosok kontroversial yang ucapannya seringkali memantik kemarahan dari pihak lain.

Nah, kelompok 'swing voters' Jokowi-Ma'ruf bisa saja mengalihkan dukungannya ke kubu Prabowo-Sandi jika Ahok tidak berhati-hati dalam mengeluarkan ucapan.

Sekali saja Ahok melakukan blunder yang menyangkut isu-isu sensitif, maka selain berpotensi kehilangan suara dari pemilih 'bersayap', Jokowi-Ma'ruf juga akan semakin berat untuk mempengaruhi kelompok 'undecided voters'.

Kekhawatiran tentang hal itu bukan tanpa alasan, sebab dalam surat Ahok terdapat frasa yang menyebutkan "Aku akan semakin arogan dan kasar dan semakin menyakiti hati banyak orang".

Lebih jauh lagi, jika Ahok kembali 'berulah', maka hampir dapat dipastikan iklim Pilpres 2019 akan lebih panas dari Pilkada DKI Jakarta 2017. [***]

Penulis adalah pemerhati pemilu, Direktur Sinergi masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma). 

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya