Berita

Foto: Rakyat Merdeka

Politik

DEBAT PILPRES 2019

Gagal Maning, Gagal Maning

JUMAT, 18 JANUARI 2019 | 14:33 WIB

GAGAL MANING (gagal lagi). Itu catatan saya yang paling menonjol setelah menyaksikan debat pilpres-1, Kamis (17/1) malam di hotel Bidakara. Saya sengaja tidak ingin masuk pada materi debat yang pasti telah dibahas oleh para pakar lainnya.

Meski KPU sudah membuat rambu-rambu debat untuk tidak menyerang individu, tapi, sedikitnya tiga kali petahana melakukan serangan. Namun, di luar dugaan, Prabowo justru tidak terpancing. Bahkan ada adegan yang membuat suasana debat khususnya bagi banyak orang yang tidak terlibat dalam timses masing-masing, begitu lega.

Bukannya marah, Prabowo yang diserang, justru melakukan gerakan berjoget dan Sandi Salahudin Uno memijat punggungnya. Adegan ini sungguh di luar ekspektasi siapa pun. Mungkin juga dari pendukung paslon 02 sendiri.


Mereka, khususnya kubu petahana tentu berharap Prabowo meledak. Tapi, mereka kecele. Saya sendiri bersama keluarga jadi terkesima. "Bagus banget nih Pa, " puji putra saya Banda Arya.

Pancingan

Secara selintas serangan untuk individu atau kelompoknya (partai Gerindra) seperti terjadi begitu saja. Tetapi, dari gestur wajah petahana, dan terlihat sorot matanya yang berkali-kali melihat teks di atas mimbar kecilnya, kelihatan ada sesuatu yang ia tunggu.

Artinya, serangan itu sesungguhnya memang telah dirancang. Bahkan intonasi suaranya dengan gerakan tangan petahana yang jelas telunjuknya menunjuk ke arah Prabowo, adalah fakta bahwa ia berharap ada ledakan sebagai reaksi. "Yang tanda tangan kan Pak Prabowo!" tudingnya terkait soal caleg partai Gerindra eks napi korupsi.

Petahana lupa, bahwa sebagai presiden, ia juga pernah menandatangani perpres tentang menaikan uang muka pembelian kendaraan pejabat negara yang jadi heboh.

Seperti ditulis tribunnews.com pada 5 April 2015 dan banyak media lain, Petahana mengaku tidak terlebih dahulu membaca secara teliti rancangan perpresnya.

Sebelumnya, petahana juga berkelit terkait pernyataan Prabowo soal kepala desa yang ditahan hanya karena mencegat Sandi saat melewati daerahnya.

Alih-alih menjawab dengan benar, petahana malah merasa dituduh. "Jangan menuduh seperti itu Pak Prabowo. Karena kita ini adalah negara hukum. Kalau ada bukti, sampaikan saja pada aparat hukum!"

Di sini intonasi petahana terdengar jelas meninggi. Biasanya intonasi seperti itu menjelaskan orang yang marah. Lalu, petahana justru balik menyerang soal Ratna Sarumpaet.

Jadi, terlihat bahwa petahana tidak atau mungkin lupa bahwa ada kasus kepala desa Sampangagung, Jatim, Suhartono. Sudah diproses hukum dan ditahan. Kesannya, seperti pepatah: semut di seberang lautan tampak sementara gajah di pelupuk mata tak tampak sama sekali.

Selain itu, petahana tampaknya dipersiapkan untuk menguras emosi lawan. Tapi, sang lawan justru tidak melakukannya. Prabowo memang sempat naik, tetapi kemudian terjadi adegan joget dan pijat ala Sandi itu. Artinya, harapan Prabowo terpancing dan tidak mampu menahan diri, gagal.

12 Ronde

Ibarat pertarungan tinju kejuaraan dunia, 12 ronde. Debat pertama itu seperti tiga ronde awal dari 12 ronde itu. Prabowo melakukan pertarungan dengan jab-jab sederhana, lalu sesekali melepaskan straight, pukulan lurus.

Petahana dan kubunya berpikir bahwa Prabowo seperti Mike Tyson dengan gaya fighter yang menggebrak sejak awal dan ingin menyelesaikan pertarungan sesingkat mungkin.

Artinya, begitu tersengat, Tyson langsung memberondongkan pukulan. Tyson akhirnya terperangkap dengan James Buster Douglas, Lennox Lewis, dan Evander Hollyfield.

Mereka keliru, Prabowo ternyata seperti Muhammad Ali yang ingin memberi kepuasan pada para penonton baik yang datang langsung maupun yang menyaksikan di seluruh dunia.

Ia menari-nari mengitari ring. Prabowo melakulan hit and run, meski sesungguhnya bisa memberondongkan kombinasi pukulan pamungkas  hook dan uppercut. Ini terlihat saat ia bertanya terkait soal impor pangan. Prabowo mengatakan mengapa impor beras tetap dilakukan oleh Memperindag, padahal Kabulog dan Menteri Pertanian sudah menyatakan tidak perlu karena beras lokal dan cadangan nasional cukup.

Bukan menjawab, petahana justru menceritakan bahwa di kabihetnya para pembantunya (menteri) bebas berbeda pendapat. Jelas tidak nyambung. Jika diibaratkan petinju, petahana memukul angin dengan keras.

Wong intinya kok impor sih? Bukankah itu artinya petahana justru membiarkan dugaan ada sesuatu di balik impor itu? Bukankah petahana justru membuka kelemahannya sendiri karena membuat petani jadi sulit?

Dan terakhir dalam kata penutup, petahana sekali lagi menyerang. "Saya tidak punya beban masa lalu dengan HAM dan korupsi!" Kalimat itu tegas bermakna menyudutkan Prabowo. Padahal tahun 2009, Prabowo justru telah berpasangan dengan Megawati. Dulu kok nggak diributkan soal pelanggaran ham itu? Petahana mungkin lupa Mega itu berulang-ulang mengatakan bahwa petahana adalah hanya petugas partai. Artinya, silahkan tafsirkan sendiri.

Yang dilupakan juga oleh petahana, empat tahun kepemimpinannya adalah masa lalu untuk tahun 2019. Nah, dari puluhan janjinya di pilpres 2014, berapa yang sudah ia tunaikan dan berapa yang justru jauh panggang dari api. Lalu, bagaimana dengan nasib para ulama yang dikriminalisasi termasuk HRS?

Jika petahana sudah on the track, maka tak akan muncul aksi 411 dan 212. Lalu, bagaimana dengan nasib guru honorer? Bagaimana juga dengan daftar hutang BUMN? Jangan lupa pelanggaran ham itu bukan hanya penculikan. Tidak menepati janji politik juga pelanggaran yang tidak kecil dampaknya.

Nah semua itu adalah masa lalu petahana. Artinya, petahana juga punya masa silam atau rekam jejak yang tidak bagus-bagus amat. Apalagi, toh kita bisa melihat berapa banyak tokoh-tokoh atau pejabat yang menjadi timsesnya tertangkap KPK. Sekali lagi, rekam jejak di lingkungannya juga tidak bersih.

Pancingan-pancingan agar Prabowo bereaksi berlebihan sudah dilakukan untuk banyak hal. Alhamdulillah Prabowo sama sekali tidak terpancing.

Jadi kesimpulan sederhananya menurut saya, petahana dan kubunya: "Gagal Maning, Gagal Maning!" [***]

M. Nigara
Wartawan Senior Dan Mantan Sekjen PWI

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Buyback Emas Antam Meroket Rp55.000, Satu Gram Dibanderol Rp2,45 Juta

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Keputusan Trump

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:56

IHSG Terbang 1,6 Persen Menuju 6.000, Rupiah Ikut Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:44

PKS: Koalisi Prabowo Akan Tetap Konstruktif Jaga Persatuan Bangsa

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:40

Pengusaha Heri Black Dicecar KPK soal Kontainer Berisi Sparepart di Pelabuhan Tanjung Emas

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:29

10 Kader Ramaikan Bursa Caketum PB SEMMI di Kongres IX Banten

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:17

Berkas Lengkap, Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:08

Korea Pimpin Reli Bursa Asia

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:54

Galeri 24 Dorong Literasi Investasi Emas Masyarakat di Jakarta Fair 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:47

Manfaatkan Program Nikah Massal dan One Stop Nikah Solution dari Kemenag, Daftar Sekarang!

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya