Berita

Pasangan capres Jokowi-Ma'ruf/Net

Politik

Pengakuan Ma'ruf Amin Berdampak Buruk Bagi Perolehan Suaranya

SABTU, 05 JANUARI 2019 | 16:39 WIB | LAPORAN:

Pengakuan calon wapres KH Ma'ruf Amin soal persidangan kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bisa berdampak buruk bagi elektabilitasnya bersama petahana Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019.

Utamanya terhadap perolehan suara dari kalangan pemilih muslim.

Pengamat politik Bin Firman Tresnadi menjelaskan, pengakuan ketua umum Majelis Ulama Indonesia non aktif itu bahwa dirinya terpaksa menjadi saksi memberatkan untuk Ahok dalam kasus penodaan agama merupakan langkah keliru.


"Berdampak buruk bagi elektabilitas Jokowi-Ma'ruf lah ini," katanya saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (5/1).

Menurut Bin Firman, dengan pengakuan tersebut, pemilih muslim tentu akan berpikir dua kali. Ujung-ujungnya mereka enggan memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf.

"Karena mereka (pemilih muslim) semakin tahu sikap dan posisi Ma'ruf Amin yang oportunis demi kekuasaan. Oportunis menghalalkan segala cara termasuk menjilat ludahnya sendiri," beber Bin Firman yang juga direktur eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM).

Di media sosial beredar rekaman video yang memperlihatkan penyesalan Kiai Ma'ruf karena menjadi saksi memberatkan bagi Ahok, gubernur DKI Jakarta yang didakwa melanggar pasal penodaan agama pada 2017 lalu.

"Iya tentu saja cuma karena terpaksa saja kan. Iya tentu saja siapa yang ingin memenjarakan orang, kan tidak mau. Tapi karena terpaksa situasi pada waktu itu adalah penegakan hukum, ya apa boleh buat," kata Kiai Ma'ruf menjawab pertanyaan wartawan. [wah]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya