Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Pencapaian APBN 2018, Pemerintah Masih Gali Lubang Tutup Lubang

KAMIS, 03 JANUARI 2019 | 23:39 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Pencapaian APBN 2018 yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperlihatkan bahwa pemerintah masih mengandalkan utang untuk menutupi bunga.

Praktis, hal itu membuat negara terjerembab kembali ibarat pepatah gali lubang tutup lubang.

"Nilai keseimbangan primer masih negatif sebesar 1,8 persen. Hal ini menunjukkan pemerintah masih gali lubang tutup lubang untuk menutup anggaran yang ada. Dengan kata lain, pemerintah masih berutang untuk membayar bunga utang dalam APBN 2018," jelas Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi Handi Risza kepada wartawan, Kamis (3/1).
 

 
Di sisi lain, pemerintah merasa berhasil dengan pencapaian di mana tergambar dalam realisasi penerimaan negara dalam APBN 2018 per akhir Desember 2018 yang tembus 102,5 persen atau setara Rp 1.942,3 triliun atau 102,5 persen dari target sebesar Rp 1.894,7 triliun.

Kemudian realisasi belanja negara sampai Desember 2018 sebesar Rp 2.202,2 triliun atau 99,2 persen dari target Rp 2.220,7 triliun. Defisit APBN sebesar Rp 259,9 triliun atau sebesar 1,76 persen dari produk domestik bruto dari target Rp 325,9 atau 2,19 persen dalam APBN 2019.

Sambung Handi, penerimaan APBN yang besar itu karena faktor kenaikan harga minyak dunia yang berimbas pada harga acuan minyak Indonesia (ICP). Sepanjang 2018, ICP bergerak pada rentang harga USD 59-77 per barel. Akhir November lalu, ICP mencapai USD 62,98 per barel.

"Padahal asumsi harga minyak dalam APBN 2018 hanya sebesar 48 dolar AS per barel. Adanya selisih antara asumsi APBN dengan pergerakan harga minyak dunia membuat penerimaan negara dari sektor migas otomatis meningkat tajam, baik dari pajak maupun penerimaan lain non pajak," paparnya.

Handi mengatakan, kontribusi harga minyak dunia terlihat pada penerimaan PPh Migas sebesar Rp 64,7 triliun atau 156 persen dari target APBN 2018 sebesar Rp 38,13 triliun.

Akibat karena masih mengandalkan utang, pemerintah juga belum berhasil menurunkan angka kemiskinan. Per Desember 2018, angka kemiskinan masih 9,8 persen.

"Rata-rata penurunan angka kemiskinan justru semakin lambat. Dari tahun 2015 hingga 2018, penurunan angka kemiskinan rata-rata hanya mencapai 0,88 persen jauh dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai angka 3,4 persen," jelas Handi. [wah]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya