Berita

Foto/Net

Nusantara

Korban Tsunami Dipungli Jutaan, Edan Ini Namanya...

KAMIS, 27 DESEMBER 2018 | 10:02 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sudah jatuh tertimpa tangga. Pameo itu sangat pas dialamatkan kepada keluarga korban tsunami yang menerjang wilayah Banten dan Lampung. Keluarga korban tsunami harus menelan ludah dan mengerutkan dahinya, karena harus membayar uang jutaan rupiah untuk memulangkan jenazah keluarganya. Netizen geram mendengar berita ini. Edan, katanya, kok ada yang tega melakukan hal seperti ini.

Adanya permintaan uang jutaan untuk pemulangan jenazah korban tsunam itu diungkapkan oleh Badiamin Sinaga, salah seorang kerabat korban.

Menurut Badiaman, ketika mengurus pemulangan jenazah keluarganya yang meninggal dunia akibat terjangan gelombang tsunami di Pantai Anyer, Serang, Sabtu (22/12) pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Dradjat Prawiranegara, Serang, Banten menyerahkan kwitansi.


Harga pembayarannya berbeda-beda, korban atas nama Ruspin Simbolon, Rp3.900.000 untuk biaya pemulasaraan jenazah, divalin dan mobil jenazah. Bayi Satria, Rp 800.000 untuk biaya pemulasaraan jenazah, divalin. Serta korban atas nama Leo Manulang, Rp 1.300.000 untuk biaya pemulasaraan jenazah dan divalin.

Pungutan tersebut kata Budiman, untuk ketiga korban meninggal akibat tsunami. Ketiganya merupakan keluarga dari Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur. "Pungutan itu benar terjadi. Mungkin dipikir karena korban orang Jakarta jadi akan mudah diminta uang," ujar Badiamin kepada sejumlah wartawan, kemarin.

Plt Kepala Rumah Sakit dr. Derajat Prawiranegara Sri Nurhayati ketika dikonfirmasi mengaku baru mengetahui adanya pungutan tersebut. "Saya baru tahu dari Mas. Harusnya tidak boleh ada pungutan. Tapi saya akan pastikan dulu," kata Sri melalui sambungan telepon.

Sedangkan, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah yang dikonfirmasi mengakui, dirinya sudah mendapatkan laporan adanya aksi pungli oleh oknum pegawai RSUD Drajat Prawiranegara tersebut.

Saat ini, pemerintah daerah sedang melakukan kroscek dan memanggil direktur rumah sakinya. "Sedang dipanggil ke Pendopo," tegas Tatu.

Informasi mengenai pungli ini langsung direspon warganet. @boyke1989 mengganggap kebijakan yang mematok harga kepada korban tsunami sungguh keterlaluan. "Edan. Ini bencana, kok tega-teganya yang minta biaya," katanya.

@Jajangsv juga menyayangkan. "Kebangetan memang, orang lagi kena musibah, masih saja mikirkan keuntungan. Semoga dilaknat Allah, yang cari keuntungan pada keluarga korban," ujarnya. Seirama, @masagustri mengatakan, dalam situasi berduka tidak pas rumah sakit menagih korban meninggal karena tsunami. "Dalam suasana bencana pun, masih tega. Padahal RSUD lho. Sungguh terlalu," ujarnya. @ syrupvanilla ikut menimpali. "Semoga ada titik temu antara keduabelah pihak, supaya bencana jangan ditambah kesulitan lainnya," harapnya. @LintankJr juga punya harapan sama. "Seharusnya tidak ada bayar membayar bagi korban tsunami. Harusnya gratis," katanya.

Jika benar ada tagihan hingga jutaan, menurut @Sugeng89343579 sudah keterlaluan. Ia pun mengibaratkan keluarga korban meninggal karena tsunami berduka dua kali. "Sudah jatuh ketimpa tangga lagi," sebutnya.

Lebih lanjut, @namarbaju menduga biaya yang dibebankan oleh keluarga korban meninggal karena tsunami hanya pungli dari oknum rumah sakit. "Modus perawatan jenazah, RSUD Serang diduga palak keluarga korban tsunami," duganya.

Sementara @UntungSyathir menganggap wajar ada biaya yang dibebankan kepada keluarga hingga 3,9 juta. Menurutnya, harga yang dibebankan normal. "Itu termasuk murah min, kalau di tempat saya, salah satu kabupaten di Kalbar, untuk biaya pemulasaran jenazah = 300 ribu, formalin = 1.5 juta, mobil jenazah tergantung jarak, dari tempat saya ke Pontianak = 1.5 jt totalnya 300 rb + 1.5 jt + 1.5 jt = 3.3 jt," bebernya. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya