Berita

Dampak Tsunami Selat Sunda/Dok

Dunia

Ahli Gempa AS: Tsunami Selat Sunda Tidak Biasa

SENIN, 24 DESEMBER 2018 | 08:25 WIB | LAPORAN: SUKARDJITO

. Peneliti kegempaan dan tsunami asal luar negeri menyoroti bencana tsunami yang terjadi di Selat Sunda, khususnya persoalan tidak adanya peringatan dini dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Mengutip laman NBCNews, sesaat lalu (Senin, 24/12), Direktur Pusat Penelitian Gempa Dan Tsunami, Universitas California Selatan Costas Synolakis menyatakan tsunami yang menerjang wilayah pantai di sekitar Selat Sunda tersebut, bukanlah tsunami pada umumnya yang terjadi.

Di mana, sambung Costas, diawali dengan aktivitas tektonik atau gempa bumi yang terdeteksi lewat aktivitas seismik, sehingga dimungkinkan muncul peringatan.


"Ini bukan tsunami biasa. Tetapi tsunami vulkanik, sehingga tidak memicu adanya peringatan. Jika dilihat dari sudut pandang itu, pusat peringatan tsunami tidak berguna," ujar Costas.

Belakangan, tsunami yang terjadi di sekitar wilayah pesisir di Selat Sunda disebabkan Gunung Anak Krakatau yang aktif sejak Juni.

Setidaknya ada dua teori yang menyebabkan letusan memicu tsunami, yakni tanah longsor di bawah air atau semburan lava cair yang menyebabkan perpindahan.

Kendati demikian para ahli mengatakan kemungkinan besar gelombang dipicu oleh tanah longsor.

Costas menyebut, ini bukan pertama kalinya Anak Krakatau menyebabkan kerusakan di Indonesia. Pada tahun 1883, sambungnya, gunung berapi itu menghancurkan wilayah yang sama selama masa aktivitas gunung berapi.

Costas melanjutkan, karena dekatnya Anak Krakatau dengan pantai, tsunami pada Sabtu (23/12) kemungkinan jeda waktunya antara 20-30 menit setelah terjadi aktivitas volkanologi.

"Ini tidak terduga, terjadinya letusan itu dapat menciptakan longsoran yang identik sama dengan letusan 175 tahun yang lalu," demikian Costas. [jto]

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Sinopsis Bapak Paling Jujur, Film Komedi Satir Politik Dibintangi Andovi Da Lopez

Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:29

KPK Amankan Uang Rp1 Miliar saat OTT Bupati Klaten

Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:26

Profil Letjen Kristomei Sianturi, Kepala BNPB yang Baru Dilantik Prabowo

Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:13

Danantara Guyur Rp1,79 Triliun per Tahun untuk Beasiswa Dokter Spesialis

Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:06

Utang Subsidi Pemerintah ke PT Pupuk Indonesia Bengkak

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:55

20 Orang Terjaring OTT KPK, Ada Bupati Klaten hingga ASN BPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:45

Survei Adidaya Institute: Mayoritas Puas dengan Kinerja Presiden Prabowo

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:43

Jalur Darat dan Sumur Bor Disiapkan untuk Tangani Karhutla Tanjung Puting

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:34

JXB Perkuat Promosi Pariwisata Menuju 5 Abad Jakarta

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:26

Kopdes Merah Putih Pekerjaan Besar Lintas Kementerian dan BUMN

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:23

Selengkapnya