Berita

Foto: Net

Nusantara

Tsunami, Mengapa Dan Bagaimana?

MINGGU, 23 DESEMBER 2018 | 13:25 WIB

TSUNAMI selalu disebabkan karena hentakan perubahan muka air laut. Perubahan ini bisa disebabkan oleh  adanya “dislokasi” bawah permukaan ataupun hantaman dari atas permukaan.

Yang dari atas permukaan akibat meteor jatuh, ataupun longsoran massa padat. Misalnya massa es ataupun massa longsoran pinggir laut.

Yang dari bawah permukaan dapat disebabkan oleh dislokasi akibat pensesaran (tektonik) juga akibat longsoran bawah laut.


Memang paling sering dijumpai dan sering dicatat adalah akibat pesesaran atau dislokasi permukaan dasar laut. Peristiwa ini sering dibarengi dengan gempa.

Longsoran, baik di bawah pernukaan ataupun diatas permukaan dapat dipicu oleh getaran gempa tektonik, maupun gempa vulkanik.

Jadi setiap ada tsunami perlu dikaji secara teliti apa penyebabnya sebagai pembelajaran maupun utk tujuan mitigasi.

Deteksi dini adalah salah satu usaha dalam mitigasi pengurangan risiko bencana. Khususnya untuk tsunami, tentu daja tidak mudah, karena penyebabnya bisa bermacam-macam.

Tsunami akibat dislokasi bawah laut saat pensesaran yg menimbulkan gempa, tentunya ada kejadian gempa (getaran) yang dapat dipakai sebagai penanda dini. Kita tahu bahwa pusat gempa darat juga dapat memicu tsunami. Contoh Gempa Lombok.

Tsunami akibat longsoran bawah laut yg dipicu oleh getaran tsunami, lebih sulit mendapatkan peringatan dini. Karena kita tidak memiliki peta batimetry detil dan tidak ada alat pemantau longsoran bawah laut. Contoh di Palu.

Bagaimana hipotesis untuk tsunami Banten ini?

Proses aktivitas Krakatau mengeluarkan material termasuk pasir kerikil bounder dan sebagainya tentunya membentuk sebuah morfologi baru. Yang dinamis. Berubah. Dan seringkali dalam posisi kritis. Gangguan kecil saja mampu mengakibatkan longsor.

Gangguan kecil ini bisa saja, adanya getaran atau goyangan. Bisa juga penambahan material juga perubahan muka air laut.

Banyak faktor pemicu yang dapat dipakai sebagai bahan hipotesa untuk tujuan mitigasi.

Prihatin.

Saat ini tentunya masih masa evakuasi dan penyelamatan. Namun penelitian penyebab tsunami tetap harus bersamaan dijalankan. [***]


Rovicky Dwi Putrohari

Penulis adalah pengamat kebumian. Artikel ini diambil dari akun Facebook penulis.


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya