Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Separatis Siapkan Aksi, Khasmir "Terkunci"

SENIN, 17 DESEMBER 2018 | 15:35 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemerintah India menempatkan para pemimpin separatis di wilayah Khasmir yang disengketakan sebagai tahanan rumah pada hari Senin (17/12).

Di waktu yang bersamaan, polisi menutup jalan dalam upaya untuk menahan protes terhadap pembunuhan warga sipil yang terjadi pada akhir pekan kemarin. Hal itu menyebabkan wilayah itu menjadi wilayah yang terkunci awal pekan ini.

Diketahui bahwa kerusuhan telah meningkat dalam beberapa minggu terakhir di wilayah mayoritas Muslim di wilayah yang menjadi pusat permusuhan antara India dan Pakistan.


Akhir pekan kemarin, kerusuhan menyebabkan tujuh warga sipil meninggal dunia ketika pasukan keamanan melepaskan tembakan ke sebuah protes atas pembunuhan tiga militan.

Separatis kemudian berencana untuk turun ke jalan menuju markas tentara di kota utama Kashmir di Srinagar pada hari ini (Senin, 17/12). Tetapi para pemimpin separatis Syed Ali Shah Geelani dan Mirwaiz Umar Farooq mengatakan mereka telah ditahan di rumah agar tidak memimpin aksi.

Polisi dan pasukan para-militer memasang barikade di berbagai bagian Srinagar, termasuk di jalan-jalan menuju markas tentara, dan melakukan patroli ketat.

Sementara itu, pihak militer, dalam sebuah pernyataan pada Minggu malam (16/12) memperingatkan penduduk agar tidak dimanfaatkan untuk membuat masalah.

"Ini merupakan upaya untuk mengadu penduduk sipil melawan pasukan keamanan," begitu keterangan pihak militer seperti dimuat Reuters.

Selain itu, toko-toko, kantor-kantor pemerintah dan bank-bank ditutup di Srinagar dan distrik terdekat. Pihak berwenang juga menutup layanan internet dan jaringan seluler.

India yang berpenduduk mayoritas Hindu menuduh Pakistan melatih dan mempersenjatai gerilyawan separatis yang beroperasi di Kashmir.

Pakistan membantah bahwa mengatakan hanya menawarkan dukungan politik kepada orang-orang di wilayah Muslim yang ditolak haknya oleh pasukan keamanan India.

Pasukan India mengatakan mereka telah membunuh 242 militan tahun ini di wilayah itu, sementara 101 warga sipil dan 82 anggota pasukan keamanan telah tewas, menjadikannya tahun ini menjadi tahun paling berdarah dalam lebih dari satu dekade di Khasmir. [mel]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya