Berita

RMP Sosrokartono/Net

Jaya Suprana

Mendambakan Hari Kartono

SELASA, 11 DESEMBER 2018 | 07:05 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEJAK masa kanak-kanak, saya merasa iri terhadap kaum perempuan yang memiliki kesempatan untuk mengenakan busana tradisional pada Hari Kartini. Maka saya bertanya-tanya kenapa ada Hari Kartini sebagai Hari Raya Nasional bagi kaum perempuan namun tidak ada Hari Kartono sebagai Hari Raya Nasional bagi kaum lelaki. Keabsahan pertanyaan saya dapat dipertanggungjawabkan sebab ternyata Raden Ajeng Kartini memiliki seorang kakak bernama Raden Mas Panji Sosrokartono yang sebenarnya juga layak diberi anugrah gelar Pahlawan Nasional maka hari kelahirannya layak menjadi Hari Raya Nasional dengan nama Hari Kartono.

Wartawan Perang

 Pada tahun 1917, koran Amerika The New York Herald Tribune, di Kota Wina, ibu kota Austria, membuka lowongan kerja untuk posisi wartawan perang untuk meliput Perang Dunia I. Satu di antara tes kelayakan adalah menyingkat-padatkan sebuah berita dalam bahasa Perancis yang panjangnya satu kolom menjadi berita yang terdiri atas sekitar 30 kata, dan harus ditulis dalam 4 bahasa yaitu Inggris, Spanyol, Rusia dan Perancis sendiri. Drs Raden Mas Panji Sosrokartono, putra Bumiputra yang ikut melamar, berhasil memeras berita itu menjadi 27 kata, sedangkan para pelamar lainnya rata-rata lebih dari 30 kata. Persyaratan lainnya juga bisa dipenuhi oleh RMP Sosrokartono sehingga akhirnya ia terpilih sebagai wartawan perang surat kabar bergengsi, The New York Herald Tribune.


Jenius

Supaya pekerjaannya lancar, dia juga diberi pangkat Mayor oleh Panglima Perang Amerika Serikat. RMP Sosrokartono seorang poliglot, ahli banyak bahasa. Ia menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di tanah Nusantara. Sebelum ia menjadi wartawan New York Herald Tribune, ia bekerja sebagai penerjemah di Wina. Di Wina ia terkenal dengan julukan si jenius dari Timur. Dia juga bekerja sebagai wartawan beberapa surat kabar dan majalah di Eropa. Di dalam buku 'Memoir' Drs Muhammad Hatta berkisah bahwa RMP Sosrokartono  merupakan tokoh intelektual terpandang di Eropa yang menginspirasi semangat Bung Hatta memerdekakan bangsa Indonesia . Kartono juga kerap mengirimkan buku-buku dan majalah  kepada adiknya Kartini.  Buku kiriman Kartono kelak menjadi inspirasi bagi Kartini untuk mendobrak tradisi dan melahirkan emansipasi wanita di Nusantara.

Pelopor

Di tanah perantauan Raden Sosrokartono menjadi orang Indonesia pertama yang belajar di negeri Belanda, sekaligus orang Indonesia pertama yang melontarkan kritik secara terbuka kepada Pemerintah Belanda. Pidato Raden Sosrokartono berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Indonesia), saat menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 di Gent, Belgia, pada Agustus 1899 :  "Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selama matahari bersinar dan rembulan memantul sinar matahari, mereka akan saya tantang!".  Mengagumkan sekaligus mengharukan bagaimana pada tahun 1899 berarti jauh sebelum berdirinya Boedi Oetomo apalagi penyelenggaraan Soempah Pemoeda, secara seorang diri sang budayawan sejati RMP Sosrokartono sudah mempelopori gerakan kedaulatan kebudayaan Nusantara sebagai landasan untuk menegakkan pilar-pilar kedaulatan rakyat, negara dan bangsa Indonesia demi memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945.

Pahlawan Nasional

Epitaph abadi terukir pada nisan makam RMP Sosrokartono di di Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah : "Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala , menang tanpa ngasorake". Jika Yunani punya Plato, Jerman punya Nietszhe, Prancis punya Sartre, Inggris punya Russel maka Indonesia punya Sosrokartono. Pada hakikatnya tidak ada alasan untuk tidak menganugrahkan gelar Pahlawan Nasional bagi kakak kandung R.A. Kartini kemudian meresmikan 10 April sebagai Hari Kartono demi lestari mengenang jasa kepeloporan kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah gigih diperjuangkan oleh Raden Mas Panji Sosrokartono. Merdeka![***]

Penulis adalah pembelajar sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Dubes Najib: Dunia Masuki Era Realisme, Indonesia Harus Bersatu

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:10

Purbaya Jamin Tak Intervensi Data BPS

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:06

Polisi Bantah Dugaan Rekayasa BAP di Polsek Cilandak

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:58

Omongan dan Tindakan Jokowi Sering Tak Konsisten

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:43

Izin Operasional SMA Siger Lampung Ditolak, Siswa Diminta Pindah Sekolah

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:23

Emas Antam Naik Lagi, Nyaris Rp3 Jutaan per Gram

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:14

Prabowo Janji Keluar dari Board of Peace Jika Terjadi Hal Ini

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:50

MUI Melunak terkait Board of Peace

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:44

Gibran hingga Rano Karno Raih Anugerah Indoposco

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:30

Demokrasi di Tengah Perang Dingin Elite

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:15

Selengkapnya