Berita

Nasaruddin Umar/Net

Membaca Trend Globalisasi (2)

Globalisasi Sebagai Rahmatan Lil 'Alamin

KAMIS, 06 DESEMBER 2018 | 09:04 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

TREND dan prediksi Al-Qur'an dan hadis tentang globalisasi amat jelas: Sebuah tantangan yang harus dih­adapi dengan penuh per­siapan. Salah satu misi Nabi Muhammad Saw ialah mentransformasikan umat manusia dari kungkungan fanatisme primordial (qabili­yyah) menuju masyarakat global (ummah). Den­gan demikian, globalisasi menjadi salahsatu kon­sekuensi dan tantangan yang harus dihadapi. Islam sebagai sistem nilai yang berobsesi untuk mewujudkan rahmat dan kasih sayang untuk se­mesta alam (rahmatan lil-'alamin). Nilai-nilai aja­ran Islam, selain harus melintasi batas-batas geografis juga harus lapis-lapis kultural.

Nabi Muhammad Saw begitu optimis memperkenalkan Islam sebagai sistem nilai terbuka. Banyak langkah yang ditempuh Nabi untuk menyiapkan pangkalan pendaratan Islam sebagai agama global. Di antaranya, Nabi pernah me­nyerukan: "Tuntutlah ilmu sampai ke tanah Chi­na". Walaupun di sana belum ada muslim tetapi saat itu negeri China sudah mengenal peradaban tinggi. Nabi juga mengirim beberapa tiem ekspedisi ke negara-negara Eropa. Nabi aktif berkorespondensi dengan pusat-pusat kerajaan Superpower, seperti Kerajaan Romawi-Bizantium di Barat dan Kerajaan Persia sekarang Iran. Nabi juga pernah menegaskan: Hikmah atau kebe­naran ada di mana-mana, maka ambillah karena itu milik Islam. Nabi juga mengharuskan umat­nya, tanpa membedakan kelas dan jenis kelamin untuk menuntut ilmu: "Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim". Banyak lagi kebijakan Nabi yang bisa dimaknai penyiapan umat untuk menyong­song masyarakat global.

Ketika tawanan Perang Badar diberikan kebebasan bersyarat oleh Nabi berupa kewajiban mengajarkan keterampilan kepada penduduk Madinah, maka yang ikut di dalam kelas-kelas keterampilan itu bukan hanya umat Islam tetapi juga orang-orang Madinah secara umum, baik yang beragama Islam maupun yang beragama lain. Pilihan-pilihan keterampilan itu antara lain, keterampilan merias pengantin atau salon dan menyamak kulit untuk perempuan. Sedangkan kaum laki-laki disediakan kelas keterampilan membuat senjata, tukang besi, tukang kayu, tu­kang batu, dan keterampilan khusus lainnya.


Dari kisah tersebut juga dipahami bahwa, orang-orang non-muslim sama-sama terlibat secara aktif, baik sebagai murid maupun seba­gai guru. Nabi dan para sahabatnya juga tidak mempersoalkan belajar besama antara umat muslim dan non-muslim dalam satu subjek. Demikian pula Nabi dan para sahabatnya tidak pernah mempersoalkan apa agama guru-guru yang mengajarkan keterampilan itu. Yang pas­ti di balik menjalani hubungan damai ini serta-merta umat-umat agama lain memilih agama Islam sebagai agama barunya dengan senang hati tanpa sedikit pun paksaan.

Dalam Islam sendiri sudah ditegaskan bahwa keberadaan multi etnik dan agama tidak mesti dipahami sebagai sebuah ancaman. Seba­liknya Islam menganggapnya sebagai sebuah kekayaan yang bisa mendatangkan berbagai berkah. Banyak ayat menegaskan hal ini, di antaranya ialah: "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Al­lah hendak menguji kamu terhadap pemberian- Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah ber­buat kebajikan". (Q.S. al-Maidah/5:48).

Untuk umat Nabi Muhammad Saw tidak per­lu khawatir menghadapi globalisasi karena Is­lam memang ditakdirkan menjadi agama untuk akhir zaman dengan segala konsekuensinya. Sebaliknya, untuk non-muslim juga tidak perlu khawatir jika Islam menjadi agama besar di da­lam suatu negeri, karena Nabi menjamin den­gan doktrin ajaran Islam. 

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya