Berita

Ilustrasi/Net

Global

Pemerintah Yaman Dan Houthi Sepakat Tukar Tahanan Skala Besar

SELASA, 04 DESEMBER 2018 | 19:40 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemerintah Yaman menyetujui pertukaran tahanan skala besar dengan pemberontak Houthi. Ini merupakan bagian dari langkah untuk membangun kepercayaan antara kedua belah pihak.

Menteri Luar Negeri Yaman, Khaled al-Yamani, mengatakan pada hari Selasa (4/12), bahwa pemerintahnya telah mencapai kesepakatan dengan Houthi setelah negosiasi selama delapan hingga sembilan bulan terakhir.

"Ketika kami menuju negosiasi di Swedia, kami akan membahas masalah operasional dari perjanjian ini, bagaimana itu dapat diimplementasikan, bagaimana menukar para tahanan, tahanan, korban penculikan dan yang hilang secara paksa," katanya.


Sementara itu, seorang pejabat pemerintah Hadi Haig m mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa kesepakatan itu mencakup antara 1.500 dan 2.000 pasukan pro-pemerintah dan antara 1.000 dan 1.500 pemberontak Houthi.

Ketua Komite Pemerintahan untuk Urusan Tahana Houthi, Abdul Qader al Murtaza tidak menyebutkan secara spesifik jumlah tahanan yang akan terlibat dalam pertukaran. Namun dia mengatakan bahwa perjanjian itu menandai langkah pertama menuju penyelesaian krisis kemanusiaan Yaman.

"Utusan khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffith, menyampaikan kepada kami bahwa pasukan koalisi dan pemerintah Yaman juga telah menandatangani perjanjian pertukaran tahanan yang ditandatangani pada November oleh Houthi," jelasnya.

"Kami menyampaikan harapan bahwa fase implementasi dari perjanjian ini akan berjalan dengan lancar," tambahnya seperti dimuat Al Jazeera. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya