Berita

Hersu Corner

Apa Yang Paling Ditakuti Dari Reuni 212?

MINGGU, 02 DESEMBER 2018 | 16:14 WIB | OLEH: HERSUBENO ARIEF

ANGIN perubahan (wind of change) itu sepanjang pagi hingga siang hari ini, Ahad (2/12)  berhembus kencang dari arah lapangan Monas, Jakarta.

Hembusannya pasti terasa sangat kuat menelusup dan menebus ruang-ruang Istana Kepresidenan yang lokasinya hanya berjarak sepelemparan batu di sebelah Utara. Angin Selatan itu bahkan sesungguhnya sudah mulai terasa sejak sore, malam, hingga dinihari. Ketika massa mulai berbondong-bondong mendatangi lapangan Monas  dari berbagai arah penjuru mata angin.

Mereka tidak hanya hanya datang dari kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), namun datang dari berbagai kota di seluruh Indonesia, bahkan juga kota-kota di dunia. Mereka merangsek ke pusat jantung kekuasaan di Indonesia.


Romantisme dan kerinduan pada suasana Aksi 212 dan dorongan keras angin perubahan,  membawa mereka datang berbondong-bondong dengan menggunakan berbagai moda transportasi darat, laut dan udara menuju Monas.

Arena yang diapit Istana Presiden, Istana Wakil Presiden, Balai Kota DKI Jakarta, dan sejumlah kantor pemerintahan, Markas Kostrad TNI dan Markas Besar TNI AD menjadi saksi besarnya kekuatan rakyat.

Tak perlu diperdebatkan, apakah jumlah massa yang hadir 5 juta, 7 juta, 10 juta, atau hanya 300 ribu seperti diberitakan CNN, atau bahkan hanya 20 ribu seperti diprediksi Ketua IPW Neta S Pane.

Melihat visual udara membludaknya massa,  jumlah peserta reuni kali ini setidaknya sama, bahkan bisa jadi lebih besar dibandingkan Aksi 212 tahun 2016. Stasiun TV One memperkirakan jumlahnya lebih besar, hal itu setidaknya dapat dilihat dari padatnya shaf ketika peserta sedang solat.

Fakta ini menunjukkan sebesar apapun kekuatan yang dikerahkan, akan sulit melawan kehendak rakyat, apalagi kehendak alam. Seorang penguasa dalam falsafah Jawa memang seharusnya peka terhadap tanda-tanda alam. Tanggap ing sasmito. Peka terhadap hal-hal yang bersifat simbolis.

Beberapa pekan sebelum pelaksanaan acara, aparat keamanan, dan sejumlah tokoh penting, termasuk para pemuka agama mencoba membangun opini, reuni ini tidak penting dan mengada-ada. Tak cukup hanya dengan membangun opini, ada kelompok yang mengancam akan membubarkan dan membuat acara tandingan serupa.

Menariknya mereka yang melakukan ancaman ini mengadakan jumpa pers di Markas Polda Metro Jaya. Kelompok yang menamakan diri “Jaga Indonesia” ini juga mengancam akan melakukan sweeping bendera tauhid. Foto-foto para aktivis “jaga Indonesia”  bersama pejabat Polda Metro Jaya tersebar luas di dunia maya.

Sejumlah spanduk yang mengecam dan mendiskreditkan reuni disebar massif di berbagai sudut kota Jakarta.

Di media sosial para buzzer kubu inkumben juga diinstruksikan untuk tidak satupun menanggapi aksi reuni 212. Bahkan untuk sindiran atau satire pun tidak diperbolehkan.  Mereka mencoba menenggelamkan isu tersebut di medsos dan media konvensional dengan mengangkat berbagai isu lain.

Yang coba mereka tampilkan adalah #AndaiNikahanku10M.  Hestek ini diambil dari kisah pernikahan seorang anak taipan di Surabaya yang digelar secara besar-besaran. Isu ini memang tengah digoreng oleh sejumlah media online besar yang sering diketahui digunakan untuk menggoreng isu yang mendeskreditkan kelompok oposisi.

Selain itu para influencer dan petinggi partai pendukung inkumben mencoba menggoreng isu korupsi keluarga Cendana, dan pidato Prabowo di Singapura.

 Tak cukup hanya dengan itu, aparat keamanan juga melakukan  gelar pasukan besar-besaran di Lapangan Monas, hanya dua hari menjelang pelaksanaan reuni. Yang mencolok dari gelar pasukan kali ini adalah hadirnya personil dan peralatan tempur TNI dalam jumlah besar.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian sampai mengaku terkejut dengan jumlah pasukan yang dikerahkan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjono jumlahnya mencapai 43 ribu. Sementara Polri hanya mengerahkan sembilan ribu personil.

Kendati dibungkus sebagai apel Operasi Lilin, yakni operasi pengamanan Natal dan Tahun Baru, namun agak sulit untuk membantah, gelar pasukan itu  sebagai show of force untuk menakut-nakuti kafilah yang akan hadir dalam reuni.

Pada Tahun 2016 apel Operasi Lilin dilaksanakan pada tanggal 21 Desember, sementara tahun 2017 dilaksanakan pada tanggal 22 Desember. Artinya hanya beberapa hari sebelum Natal. Sementara tahun ini sudah digelar pada awal bulan Desember yang kebetulan kok hanya dua hari menjelang reuni.

Jumlah pasukan TNI yang jumlah jauh lebih besar dibandingkan Polri juga menimbulkan pertanyaan. Sebab kehadiran pasukan TNI dalam operasi semacam itu adalah perbantuan untuk memperkuat Polri. Demikian pula halnya peran Panglima TNI yang bertindak sebagai inspektur upacara. Biasanya apel semacam ini dipimpin oleh Kapolri.

Acara akbar seperti reuni 212 ini bukan kali pertama digelar. Jika dihitung sejak Aksi Bela Islam (ABI) 1, sampai puncaknya Aksi 212 yang menghadirkan jutaan orang, terbukti selalu berlangsung aman. Jadi tidak perlu pengamanan yang berlebihan, apalagi menghadirkan peralatan tempur.

Di lapangan pada hari ini, aparat kepolisian dan TNI boleh dikatakan relatif nganggur. Mereka hanya menatap kosong para kafilah yang mengalir deras ke Monas. Sebagian tergagap dan kemudian mengumbar senyum ketika diberi salam dan diajak berjabat tangan oleh para peserta reuni.

Momentum Prabowo

Dengan lancar dan amannya Reuni 212 menjadi pertanyaan besar mengapa pemerintah, dan aparat keamanan seperti sangat ketakutan dengan kegiatan tersebut? Mengapa mereka mengerahkan segala cara agar acara tersebut gagal, atau setidaknya pesertanya tidak membludag?

Jawabannya cukup jelas. Keberhasilan kegiatan ini adalah indikasi berhasilnya konspirasi umat, terutama muslim perkotaan menjelang Pilpres 2019. Aksi serupa pernah berhasil menumbangkan Ahok pada Pilkada DKI 2017, maka bukan tidak mungkin juga bisa mengancam Jokowi. Apalagi Pilpres tinggal beberapa bulan lagi.

Secara afiliasi politik, para pendukung 212 adalah penentang Jokowi, karena dia dianggap sebagai pendukung utama Ahok. Dalam hal ini posisi Prabowo lebih diuntungkan. Kehadiran Prabowo pada acara reuni semakin mempertegas itu. Kendati hanya berpidato pendek karena khawatir dituding melakukan kampanye, namun kehadiran Prabowo merupakan signal politik yang sangat jelas. Apalagi kehadiran Prabowo mendapat sambutan yang luar biasa dari hadirin.

Reuni ini juga semakin menegaskan bahwa dari arah angin politik yang berhembus beberapa bulan menjelang Pilpres, sebagai penantang Prabowo mendapat momentum.

Dari dunia internasional, Prabowo mendapat angin segar dengan tampil pada forum 500 Gobal CEO yang digelar Majalah The Economist  di Singapura, dan endorcement dari PM Singapura Lee Hsien Loong yang menerimanya secara resmi di kantornya. Sementara di dalam negeri keberhasilan Reuni 212 juga menunjukkan keberhasilan konsolidasi kelompok oposisi.

Publikasi survei yang menunjukkan selesih elektabilitasnya dengan Jokowi semakin menipis, menjelaskan mengapa pemerintah dengan berbagai cara mencoba mencegah Reuni 212.

Momentum kini di tangan Prabowo. Untuk kawasan perkotaan, dan muslim terdidik, Prabowo dipastikan sudah lebih unggul. Pekerjaan rumah terbesar Prabowo adalah masuk ke kelompok miskin, pendidikan rendah, dan pedesaan. Di basis suara ini, Jokowi masih sangat kuat, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Masih ada waktu selama lima bulan yang tersisa.  Prabowo harus bisa memanfaatkan momentum angin perubahan yang saat ini tengah berhembus kencang.

 Seperti kutipan syair lagu  Wind of Change dari Group Band terkenal asal Jerman Scorpion :  The future is in the air/I can feel it everywhere/blowing with the wind of change/take me to the magic of the moment. [***]

Penulis adalah pemerhati ruang publik. Artikel ini dikirim penulis untuk Kantor Berita Politik RMOL

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya