Berita

Louisa Hanoune/Net

Dunia

PEMBICARAAN DAMAI SAHARA

Sekjen Partai Pekerja Aljazair Pertanyakan Aksi Tutup Mulut Pemerintah

SABTU, 01 DESEMBER 2018 | 08:38 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Sampai hari ini pemerintah Aljazair belum memberikan respon apapun terkait tawaran Maroko untuk melakukan pembicaraan demi menciptakan hubungan yang lebih baik bagi kedua negara tetangga di kawasan Afrika Utara itu.

Tawaran itu disampaikan Raja Muhammad VI dalam peringatan Green March, tanggal 6 November lalu. Green March adalah sebuah peristiwa bersejarah yang terjadi 43 tahun lalu ketika rakyat Maroko secara simbolik menyatukan kembali wilayah kerajaan itu yang sempat dipisahkan oleh kolonialisme. Sekitar 350 ribu rakyat Maroko ketika itu memasuki wilayah Sahara di selatan menyusul keputusan Spanyol untuk angkat kaki.

Raja Muhammad VI dalam pidatonya mengajak Aljazair yang di masa lalu bersama Maroko berjuang mengusir penjajah untuk membicarakan persoalan yang membuat hubungan kedua negara menjadi renggang.


Hubungan kedua negara memburuk menyusul keputusan Aljazair menampung kelompok Polisario yang mengklaim Sahara sebagai negara yang merdeka. Kelompok ini ditampung Aljazair di Kamp Tindouf. Aljazair tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga bantuan persenjataan.

Sekretaris Jenderal Partai Pekerja Aljazair, Louisa Hanoune, mengatakan, dirinya tidak habis pikir mengapa pemerintah Aljazair belum juga memberikan respon atas tawaran dari Maroko itu.

“Raja Maroko telah menyampaikan sebuah undangan untuk dialog tanpa kondisi atau tabu apapun kepada pemerintah Aljazair. Kami tidak mengerti mengapa sampai kini korps diplomatik Aljazair masih berdiam diri,” ujarnya seperti diberitakan media Aljazair, TSA, seperti dikutip dari SahabatMaroko.Com.  

Di sisi lain, dia mendukung permintaan Aljazair untuk menggelar pertemuan para menteri luar negeri negara-negara Arab di kawasan Maghribi (AMU). Walaupun  menurutnya pertemuan AMU adalah persoalan yang lain, namun itu bisa membuka pintu ke arah dialog kedua negara.

Dia menambahkan bahwa korps diplomatik Aljazair selama ini membuat setiap orang terbiasa untuk merespon dengan kekerasan semua situasi di masa lalu. [dem]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

KPK Benaran Sakit Jiwa, Gedung Merah Putih Mending untuk Merawat ODGJ

Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Cara Cek Status Eligible Magang Kemnaker 2026, Alasan Tidak Lolos Verifikasi

Jumat, 17 Juli 2026 | 20:22

Prabowo Segera Luncurkan Motor Listrik Buatan Anak Bangsa

Jumat, 17 Juli 2026 | 20:19

Panglima: TNI AD Sumbang 55 Persen Produksi Beras Nasional 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 19:53

Profil Slavko Vincic, Wasit Final Piala Dunia 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 19:26

Ini Alasan Kejagung Belum Tahan Febrie Adriansyah

Jumat, 17 Juli 2026 | 19:19

Halaqah Pra Muktamar NU Diawali Khataman Al-Qur'an dan Doa Bersama

Jumat, 17 Juli 2026 | 19:17

Prabowo Putuskan Bangun Minimal 30 Pabrik Bioetanol di Indonesia

Jumat, 17 Juli 2026 | 19:16

Jadwal Final dan Perebutan Posisi 3 Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina, Prancis Tantang Inggris

Jumat, 17 Juli 2026 | 19:07

Pertamina Patra Niaga Bantah Isu Transporter Enggan Salurkan BBM di Sumut

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:41

Pramono Buka Jalan Alumni PKM Berdakwah di Masjid Milik Pemprov DKI

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:41

Selengkapnya