Berita

Konferensi pers Pertamina Energy Forum (PEF) 2018 di Hotel Raffles, Jakarta/Humas Pertamina

Bisnis

Pengembangan Green Refinery Project Dukung Implementasi B100

KAMIS, 29 NOVEMBER 2018 | 10:46 WIB | LAPORAN:

PT Pertamina (Persero), perusahaan energi milik pemerintah, tengah menyiapkan Green Refinery Project, guna mendukung  produksi bahan bakar diesel nabati 100 persen (B100).

Menurut Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, kilang yang sudah ada akan dimaksimalkan untuk proyek tersebut dibandingkan pembuatan kilang baru.

"Investasi pengembangan kilang, salah satunya kilang Dumai, hanya sebesar 40 persen dibandingkan investasi kilang baru," katanya dalam konferensi pers pada Pertamina Energy Forum (PEF) 2018 di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (28/11).


Investasi untuk pembuatan kilang baru biasanya membutuhkan sekitar 3,5 miliar dolar AS. Dengan konversi tersebut, menurut Nicke, kedua kilang Pertamina ini akan menghasilkan biodiesel dan juga biofuel. Ini berbeda dengan produksi sebelumnya yang menghasilkan solar dan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution dalam paparannya pada Pembukaan PEF 2018.

"Kita berharap Pertamina sebagai batu penjuru serta pemimpin dalam mengembangkan B20 (biodiesel)," ujar Darmin.

Sebelumnya, Pertamina perusahaan menandatangani perjanjian  minyak dan gas multinasional Italia yaitu ENI S.p.A. Kerjasama ini untuk menjajaki bisnis hilir minyak dan gas.

Penandatanganan yang dilakukan pada 21 September lalu di Porto Marghera, Venesia oleh Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati dan Chief Refining dan Marketing Officer ENI, Giuseppe Ricci disaksikan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia, Rini Soemarno.

Kolaborasi dalam kilang hijau ini relevan dengan komitmen Pertamina untuk memasok bahan bakar dengan campuran biodiesel 20 persen (B20). Setelah B20, pemerintah juga optimistis akan berlanjut menuju B100.

Saat ini Indonesia mengkonsumsi sekitar 1,6 juta barel per hari (bpd), sementara produksi dalam negeri hanya mencapai sekitar 800 ribu bpd. Kekurangan ini harus ditutupi dengan impor.

Menanggapi hal itu, Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno mengatakan, Indonesia sangat membutuhkan alternatif energi.

"Mengembangkan energi baru terbarukan, angin, surya dan lainnya diharapkan Pertamina tidak sendirian. Perusahaan dalam dan luar negeri baik BUMN maupun swasta bisa bersama-sama,” jelas Fajar.[dob]


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya