Berita

Jusuf Kalla/Net

Politik

Kalau Radikal Ya Radikal, Tidak Ada Yang Ringan Dan Berat

SELASA, 27 NOVEMBER 2018 | 22:24 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Wakil Presiden Jusuf Kalla mempertanyakan metode studi tentang masjid dan radikalisme yang digunakan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Nahdlatul Ulama. Temuan studi itu menyebut 41 masjid di lingkungan pemerintah terpapar radikalisme.

"Kaidah-kaidah studinya perlu dilihat kembali," kata JK melalui video conference di forum Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa malam (27/11).

JK yang juga ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) juga mempersoalkan kategorisasi radikalisme yang digunakan dalam studi. Temuan P3M menyebut 41 masjid radikal dimana tujuh diantaranya radikal rendah, 17 masjid radikal sedang, dan 17 masjid radikal tinggi.


"Radikalisme ringan, menengah, berat, pertama kali saya mendengar itu. Kalau radikal ya radikal, nggak ada yang ringan dan berat. Gitu kan?" ucap JK.

JK mengatakan kalau hasil studi itu dibaca secara sederhana sangat memprihatinkan. Menimbulkan pertanyaan lain masjid di lingkungan pemerintah saja radikal, apalagi masjid yang bukan di lingkungan pemerintah?

"Terpapar radikal itu apa? Ini masih diskusi lah. Terpapar bahasa yang pertama kali saya dengar. Mula-mula saya pikir terkapar," ucap JK.

JK mengkhawatirkan stempel radikal ditujukkan kepada para khatib yang menyampaikan kritik dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar.

"Saya tidak membaca studinya. Saya baca dari kesimpulan BIN. Saya yakin di masjid di pemerintah tak ada selebaran-selebaran yang radikal itu," demikian kata JK.[dem]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Diburu Kolektor, BI Cetak Lagi Rupiah Tanda Tangan Purbaya

Jumat, 25 September 2026 | 00:17

DPRD DKI: Perkuat Fungsi Edukasi dan Kebudayaan di TIM

Jumat, 25 September 2026 | 00:04

Pelunasan BLBI Jadi Tonggak Penyelesaian Krisis 1997-1998

Kamis, 24 September 2026 | 23:37

Tim Hukum: Tak Ada Saksi Sebut Heri Susanto Terima Suap

Kamis, 24 September 2026 | 23:19

Sufmi Dasco akan Kukuhkan Pengurus APKLI Merah Putih

Kamis, 24 September 2026 | 23:00

Tagihan Cicilan Kopdes Merah Putih Rp37,7 Triliun Jatuh Tempo Besok

Kamis, 24 September 2026 | 22:59

Warisan Kwik Kian Gie untuk Indonesia

Kamis, 24 September 2026 | 22:48

DPR Minta Basarnas Lanjutkan Pencarian Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Kamis, 24 September 2026 | 22:26

Tokoh Adat Papua Kecam Penembakan Tiga Warga Sipil di Muliama

Kamis, 24 September 2026 | 22:23

Menko Yusril Pastikan Media Bebas Meliput di Lapas Cibinong

Kamis, 24 September 2026 | 22:11

Selengkapnya