Berita

Iwan Sumule (kanan)/Repro

Politik

Bangsa Guru, Mendidik Dengan Kritik

MINGGU, 25 NOVEMBER 2018 | 12:57 WIB | OLEH: IWAN SUMULE

"SETIAP orang menjadi Guru, setiap rumah menjadi sekolah," demikian ujar Ki Hajar Dewantara.

Demikian pentingnya pendidikan, baik dalam bentuk formal atau pun tidak, dalam sebuah institusi atau tidak, dalam kerangka struktural maupun kultural. Pendidikan, dalam segala bentuknya adalah bagian dari hidup manusia, karena pendidikan adalah instrumen dari peradaban dan keadaban manusia.

Pendidikan di zaman modern, dinilai dari gelar yang berderet-deret, sertifikat dan semacamnya, padahal hakikat dari pendidikan adalah lelaku. Sebab ilmu yang tak berbekas pada kelakuan adalah ilmu yang paling tidak bermanfaat.


Ia hanya menjadi sekadar teori yang dihafal hingga titik koma. Sekadar interior pemantas ruangan. Tak berbekasnya jejak ilmu pada langkah kelakuan adalah bentuk pengkhianatan terhadap ilmu. Barangkali ini yang disebut dengan pengkhianatan kaum berilmu terhadap ilmu yang disadari atau tidak, membesarkannya.

Sebagaimana dikatakan Ki Hajar Dewantara, bahwa selayaknya semua kita menjadi Guru, setidaknya mendidik diri pribadi atau sekecilnya keluarga, baik itu dengan nilai-nilai keilmuan yang berakar pada tradisi atau kebijaksanaan lokal, maupun pengetahuan berskala internasional.

Agar diri pribadi dan orang terdekat mampu meletakkan perilaku dan pribadi tepat pada titik semestinya. Sehingga dengan jalan demikian, maka sejatinya tiap-tiap keluarga, tiap-tiap rumah sedang menjadi sekolah, meski tanpa ijazah.

Demikian pula halnya dengan Rumah Besar kita sebagai anak-anak bangsa. Rumah Besar bernama Indonesia ini seharusnya dan selayaknya merupakan sebuah sekolah yang mendidik anak bangsa dengan kearifan lokal dipadu dengan pengetahuan yang datang dari mana-mana penjuru.

Namun, satu yang mengganjal dan memenuhi dada kita dengan pertanyaan yang terkadang membuat sesak akal. Setelah orang-orang tua Republik ini berkalang tanah, setelah mereka para pendidik bangsa wafat, Siapa sekarang yang bertanggung jawab memberikan pendidikan kepada anak-anak bangsa? Apakah pemerintah? Sementara rasa-rasanya pemerintah masih harus selalu diingatkan atau barangkali diajarkan dengan kritik yang seharusnya mereka jadikan vitamin.

Semua kita, anak-anak Bangsa adalah orang-orang yang menurut Ki Hajar seharusnya mengambil peran menjadi Guru, sebab Indonesia adalah rumah yang seharusnya menjadi sekolah. Maka jika anak-anak bangsa memberikan suatu peringatan kepada pemerintah, sejatinya itu adalah wujud dari pendidikan.

Sebagaimana dikatakan Pramoedya Ananta Toer di dalam Tetralogi Buru "Didiklah Rakyat dengan Organisasi, Didiklah penguasa dengan Perlawanan!".

Perlawanan dalam segala bentuknya, termasuk di dalamnya kritik, adalah cara kita anak-anak bangsa mendidik pemerintah sebagai pihak berkuasa. Itu adalah cara kita sebagai suatu keluarga menunjukkan kecintaan kepada Indonesia, rumah kita. Sebab kita adalah bangsa Guru, bangsa Pendidik yang membesarkan anak-anak bangsa dengan pendidikan yang kurikulumnya bergerak demikian dinamis seiring laju zaman. Minggu, 25 Nopember.

Pada hari Guru yang bertepatan dengan hari berlibur ini, semoga bukan pertanda bahwa dalam pendidikan kita berleha-leha, bersantai-santai. Sebab tugas guru bukan hanya mendidik satu murid, satu kelas, atau satu sekolah, melainkan tugas berat mendidik satu bangsa.

Maka dengan segala hormat kepada para Guru, Saya mengucapkan selamat berjuang kepada segenap pendidik di segala bentuk pendidikan, formal maupun nonformal, institusional atau kultural.

Demikian juga bagi seluruh anak bangsa yang hakikatnya adalah juga harus menjadi Guru, mari bersama kita didik rakyat dengan kritis dan kita didik penguasa dengan kritik.

Selamat berjuang, selamat Mendidik, selamat hari Guru. [***]

Caleg DPR RI Dari Partai Gerindra, Dapil Jakarta Timur Nomor Urut 6

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

UPDATE

Waspada Pemutihan Lahan Sawit Ilegal Secara Massal!

Rabu, 21 Januari 2026 | 07:48

Pertemuan Eggi-Damai Lubis dengan Jokowi Disebut Diplomasi Tingkat Tinggi

Rabu, 21 Januari 2026 | 07:23

Sudewo Juga Tersangka Suap Jalur Kereta Api, Kasus Pemerasan Jadi Pintu Masuk

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:52

Damai Lubis Merasa Serba Salah Usai Bertemu Jokowi dan Terima SP3

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:52

Putusan MK 234 Koreksi Sikap Polri dan Pemerintah soal Polisi Isi Jabatan Sipil

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:48

Khofifah: Jawa Timur Siap jadi Lumbung Talenta Digital Nasional

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:25

The Game Changer Kedua

Rabu, 21 Januari 2026 | 05:59

Persiden Cabut Izin 28 Perusahaan, Kinerja Kemenhut Harus Tetap Dievaluasi

Rabu, 21 Januari 2026 | 05:45

Evakuasi Korban Pesawat Jatuh

Rabu, 21 Januari 2026 | 05:20

Pemerintah Diminta Perbaiki Jalan Rusak di Akses Vital Logistik

Rabu, 21 Januari 2026 | 04:59

Selengkapnya