Berita

Muhammad Najib/Net

Politik

Mencermati Arah Politik Amerika Di Timur Tengah

KAMIS, 15 NOVEMBER 2018 | 16:52 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

SETELAH 17 tahun tentara Amerika Serikat menginjakkan kaki di Afghanistan dengan alasan untuk membebaskan negri ini dari rezim Taliban, situasi di Afghanistan tidak kunjung damai sebagaimana dijanjikan. Kini masyarakat Afghanistan mencurigai adanya maksud lain di balik alasan formal yang sementara ini didengungkan ke publik.

Muhammed Ismail Qasyimyar, anggota Dewan Keamanan Afghanistan, sebagaimana dilaporkan Associate Press (AP) mengungkapkan keheranannya, bagaimana mungkin tentara Amerika yang berjumlah 150.000 personil, ditambah ratusan ribu personil pasukan Afghanistan, tidak mampu mengalahkan milisia Taliban dengan perlengkapan seadanya. Bahkan kini Taliban tampak semakin kuat bila dilihat dari kemampuannya menyerang dan banyaknya wilayah yang dikuasai.

Sebenarnya kecurigaan terhadap maksud sebenarnya pasukan Amerika berlama-lama di Afghanistan sudah lama didengungkan oleh sejumlah pengamat. Mengingat pengaruh Rusia di kawasan Asia Tengah masih sangat kuat, meskipun Pakta Warsawa sudah bubar. Negara-negara satelit Rusia di kawasan ini tetap menjalin hubungan istimewa dengan Moskwa. Karena itu, kehadiran Amerika dilihat sebagai upaya untuk membendung dan menetralisir dominasi Rusia yang masih menjadi pesaing Amerika dalam percaturan global, meskipun "perang dingin" sudah usai.


Belakangan muncul kecurigaan baru, sejalan dengan meningkatnya tekanan politik Amerika terhadap Iran sejak Donald Trump berkuasa. Amerika membatalkan kesepakatan nuklirnya yang dibuat di Wina, Austria, pada 14 Juli 2015. Padahal kesepakatan yang diberi nama Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA) itu, disamping diteken oleh Iran bersama Amerika Serikat (AS), juga Inggris, Rusia, China, Perancis dan Jerman.

Setelah pembatalan perjanjian ini, Amerika menambah sangsi ekonomi baru terhadap Iran. Diikuti dengan narasi permusuhan dari Saudi Arabia yang menjadi sekutu loyal Amerika di Timur Tengah. Di bawah penguasa defacto Muhammad bin Salman (MBS) kini Saudi Arabia menempatkan Iran sebagai musuh nomor satunya, sehingga Iran lebih berbahaya dari Israel, dan Syi'ah lebih berbahaya dari Yahudi.

Lebih jauh dari itu, Amerika kini menjadi mediator antara Saudi Arabia dengan Israel yang membuahkan berbagai bentuk kerjasama, baik secara diam-diam maupun terbuka. Kini Saudi Arabia mengalami puncak hubungan mesra dengan Israel sejak kerajaan ini berdiri. Karena itu, sejumlah pengamat mulai mencurigai ada agenda besar yang disembunyikan Amerika terhadap Iran.

Apalagi Genderal Wesley Clark pernah mengungkapkan dalam sebuah wawancara di TV, adanya daftar 7 negara yang akan dihancurkan Amerika, antara lain: Iraq,  Suriah, Lebanon, Libia, Somalia, Sudan, dan Iran. Iraq, Libia, Somalia, Suriah, dan Lebanon, sudah hancur-lebur, berarti hanya Sudan dan Iran yang tersisa. Semua ini tentu menambah kuatnya kecurigaan yang ada.

Mengingat secara geografis Afghanistan memiliki perbatasan langsung dengan Iran, ditambah pangkalan Amerika disini cukup besar dan ditopang dengan peralatan perang yang komplit. Dan dengan lemahnya pemerintahan yang ada, maka tidak diperlukan ijin yang berbelit untuk melakukan tindakan militer dari negri ini.

Jika semua kecurigaan ini terjadi, maka Israel yang akan paling gembira. Mengingat Iran merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang ditakuti Israel, akan lumpuh tanpa negara Yahudi ini mengeluarkan keringat. Apakah kecurigaan ini hanya imajinasi yang berbasis teori konspirasi, atau fakta yang belum terungkap, kita semua tentu akan menjadi saksi sejarah. [***]

Penulis adalah Direktur Eksekutif Center for Dialogue and Cooperation among Civilization (CDCC)

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Kini Posko Pengungsian Korban Gempa NTT Tersedia Internet Gratis

Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:45

HUT ke-81 RI Momen Memperkuat Kebersamaan dan Gotong Royong

Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:28

Merdeka Bernegara, Jalan Panjang Berbangsa

Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:00

32 Kendaraan Hias Semarakkan Karnaval Bersatu Harmoni Nusantara di Monas

Selasa, 18 Agustus 2026 | 00:50

Langkah Cepat Polri Tangani Korban Gempa NTT Tuai Apresiasi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 00:30

Polda Malut Terima 16 Senjata Api Ilegal dari Warga

Selasa, 18 Agustus 2026 | 00:05

Saatnya Indonesia Berdaulat dalam Sektor Pangan dan Energi

Senin, 17 Agustus 2026 | 23:45

Upaya Menjaga Kedaulatan Pilihan Pengurus NU

Senin, 17 Agustus 2026 | 23:22

BCA dan Pegadaian Luncurkan Layanan Tabungan Emas di myBCA

Senin, 17 Agustus 2026 | 22:51

Listrik dan Telekomunikasi di Flores Hampir Pulih 100 Persen

Senin, 17 Agustus 2026 | 22:50

Selengkapnya