Berita

Foto: Net

Jaya Suprana

Di Balik Gemerlap Taj Mahal

JUMAT, 02 NOVEMBER 2018 | 06:34 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

TERKONONKAN dalam lembaran sejarah kebudayaan dunia, Taj Mahal didirikan oleh Kaisar Mughal Shah Jahan sebagai mausoleum untuk istri tercintanya, Mumtaz Mahal, yang meninggal dunia saat melahirkan.

Namun sebuah drama karya Dilip Hiro yang baru saja dipentaskan di India mengindikasikan motif lain di balik pembangunan Taj Mahal.

Dengan latar belakang kisah Taj Mahal, Hiro mengeksplotir konflik suami isteri yang terukir sebagai sebuah legenda populer.


Imajinasi Dilip Hiro  dipentaskan dalam bahasa Urdu, sebuah bahasa yang digunakan rakyat India di masa pemerintahan Shah Jahan dan masih digunakan oleh banyak orang India di masa kini.

Taruhan Catur
Dilip Hiro berkisah bahwa Mumtaz adalah istri ketiga dan istri yang paling disayang Shah Jahan. Mumtaz digambarkan sebagai istri yang cantik dan setia dan rela memiliki banyak anak dengan suaminya meski terpaksa harus berbagai kasih dengan perempuan-perempuan lain.

Mumtaz meninggal saat melahirkan anak ke-14. Namun menurut Dilip Hiro, sebenarnya Mumtaz bukan istri yang cantik dan setia tetapi seorang pecatur yang sangat hebat, jauh lebih hebat dari Shah Jahan, dan dia ambisius serta kejam.

Para ilmuwan sejarah India setuju bahwa perempuan-perempuan kerajaan pada periode Mughal menerapkan otoritas politik yang signifikan.

Kejutan dari drama karya Dilip Hiro berpusat pada permainan catur dengan taruhan tinggi mirip permainan dadu Sengkuni-Yudistira dalam Mahabharata.  

Saat itu, Mumtaz yang sedang hamil tua menantang suaminya untuk mempertaruhkan takhtanya. Dan ketika sang kaisar kalah, ia pun naik takhta demi mewujudkan ambisi kekuasaan yang kejam.

Sang kaisar menyadari bahwa ratunya harus dihentikan. Pertengkaran memperebutkan cap kerajaan berakhir dengan jatuhnya Mumtaz dari singgasana dan meninggal saat melahirkan.

Ekonomi


Saya pribadi tidak tahu sejauh mana kebenaran kisah kasih sayang sebagai latar belakang pembangunan Taj Mahal. Namun ketika pertama kali datang ke Agra untuk secara ragawi dengan mata kepala sendiri menyaksikan kedahsyatan sang bangunan monumental legendaris serba putih di tepi sungai Yamuna itu, terus terang saya tidak merasakan aura surgawi kasih-sayang.

Yang saya rasakan hanya aura duniawi ambisi megalomaniak seorang penguasa ingin mengabadikan nama dirinya sendiri ke dalam lembaran sejarah kebudayaan dunia yang  harus diakui memang berhasil karena secara arsitektural monumen Taj Mahal memang dahsyat menggetar sukma.

Namun secara ekonomis tidak terbayangkan berapa besar jumlah dana yang dikorbankan demi membangun Taj Mahal nan monumental itu.

Kemanusiaan

Secara kemanusiaan pada masa belum ada lembaga Persatuan Bangsa Bangsa untuk menyepakati Agenda Pembangunan Berkelanjutan sebagai pedoman pembangunan infra struktur di planet bumi tanpa mengorbankan rakyat, dapat diyakini bahwa cukup banyak rakyat dikorbankan untuk dipaksa membanting tulang serta memeras keringat, air mata dan darah demi membangun Taj Mahal.

Syukur Alhamdullilah, akibat terlebih dahulu dikudeta dan dipenjarakan oleh putranya sendiri, Aurangzeb , maka Shah Jahan belum sempat mewujudkan ambisi membangun Taj Mahal berwarna serba hitam sebagai makam dirinya sendiri di tepi sungai Yamuna di seberang Taj Mahal berwarna serba putih yang sudah terlanjur dipaksakan Shah Jahan untuk dibangun.[***]


Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Seriuskah Kemdiktisaintek Menjaga Mutu Pendidikan Tinggi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:22

Anggota Dewan Etik Golkar Diduga Terlibat Dugaan Penipuan Miliaran

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:11

Membangun Kemandirian Energi Desa Melalui Penguatan Kapasitas Local Hero

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:05

Pertamina Perkuat Kemitraan Strategis Lewat SRM Summit 2026

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:31

Kerja Sama KSPSI-UT Perluas Kesempatan Pekerja Raih Pendidikan Tinggi

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:17

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PTPN IV PalmCo Fasilitasi APRC 2026, Perputaran Ekonomi Masyarakat Meningkat

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:58

Isu Wamenhan Baru Jangan Terjebak Kepentingan Bisnis dan Korporasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:55

Paroki Kraksaan Menanti Kejelasan

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:32

Pramono-Erick Thohir Godok Persiapan FIFA ASEAN Cup di Jakarta

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:24

Selengkapnya