Berita

Foto: Ist

Politik

Arbain Imam Husein Dan FPI

SENIN, 29 OKTOBER 2018 | 08:38 WIB

ARBAIN adalah 40 hari kilas balik perjalanan rombongan keluarga Rasulullah SAW pasca tragedi Karbala yang terjadi pada 60 Hijriyah 14 abad lalu.

Seusai pembantaian pasukan Yazid bin Muawiyah terhadap Imam Husain, cucu Rasulullah di Karbala, keluarga Rasulullah SAW yang terdiri dari para wanita dan anak-anak digiring bak budak dari Karbala, Irak hingga kota Syam (Damaskus saat ini) di Suriah.

Penggiringan keluarga Rasulullah SAW oleh rezim saat itu bermodus penghinaan. Akan tetapi penggiringan keluarga Rasulullah SAW bukan malah mendapat penghinaan dari umat, tapi malah penghormatan.


Perilaku rezim saat itu kepada keluarga Rasulullah SAW malah menyebabkan pergolakan anti-rezim di mana-mana. Dalam kurun 40 hari seusai pembantaian Imam Husein, rezim Yazid bin Muawiyah saat itu terancam runtuh. Bahkan istri Yazid menentang suaminya yang bertindak gegabah dan keterlaluan kepada keluarga Rasulullah SAW saat itu.

Ulasan Ust Agus Abu Bakar Arsal Al Habsyi pada Hikmah Arbain yang digelar di VOP, Ahad, 28 Oktober 2018, sangat menarik. Menurut Ust Agus Abu Bakar, kebenaran harus dijadikan tolok ukur untuk dibela dan dipertahankan.

Imam Husein sa mengajarkan kepada kita untuk mempertahankan kebenaran. Bukan hanya diri dan jiwa Imam Husein yang dipertaruhkan, bahkan seluruh keluarganya dan sejumlah sahabatnya yang setia siap berkorban dipertaruhkan demi kebenaran.

Maka sangatlah aneh hanya karena alasan kelompok atau komunitas, kebenaran kemudian menjadi tersandera. Tiba-tiba aktivitas sekelompok menjadi lebih penting dari kebenaran itu sendiri. Hal seperti ini bukan ajaran Karbala.

Dalam kesempatan tersebut, Ust Agus Abu Bakar Arsal Al Habsyi menyampaikan pengalamannya terkait muridnya dari salah satu negara Eropa yang berdomisili di Indonesia. Karena tuntutan untuk mengenal Islam dan syarat pernikahan dengan calon istrinya yang muslimah, seorang warga Eropa itu tertuntut untuk belajar Islam, dan kebetulan sekali ia memilih Ust Agus sebagai gurunya.

Pertanyaan pertama yang ia ajukan adalah sweeping FPI atas nama amar makruf dan nahi munkar yang menurutnya kurang elok bagi Islam. Dalam kesempatan itu, Ust Agus berbalik bertanya kepada muridnya dari Barat tersebut, apakah di negeri Anda compact disk pornografi dan minuman keras dijual bebas di kawasan permukiman sehingga bisa diakses oleh anak-anak? Orang Barat itu jawab "tidak." Lihatlah di Indonesia minuman keras dan compact disk pornografi dijual bebas di wilayah permukiman.

Pada dasarnya, apa yang dilakukan FPI adalah mengisi kekosongan  yang selama ini tidak dikerjakan secara optimal oleh aparat keamanan dan hukum. Apalagi mereka tidak dibayar untuk mengerjakan hal itu. Semata-mata hanya karena panggilan agama. Maka, FPI sepatutnya mendapat apresiasi karena membantu aparat keamanan dalam rangka menegakkan hukum.

Dalam konteks ini, FPI tidaklah main hakim sendiri. Apalagi yang mereka kerjakan punya landasan hukum. Ketika melihat pelanggaran di depan mata dibiarkan, maka kita yang melihat bisa diduga terlibat bekerja sama atas pelanggaran tersebut. Hal ini juga berlaku dalam hukum agama yang terkonsep dalam amar makruf dan nahi munkar. Jadi ada konsekuensi akheratnya dalam pandangan umat Islam. Tidak amar makruf dan nahi munkar, maka ancamannya adalah neraka.

Bila kemudian dalam sweeping, ada kekurangannya, maka hal itu adalah wajar karena mereka tidak terdidik secara profesional. Menurut Ust Agus Abu Bakar, yang sepatutnya dikritik adalah  aparat yang tak menjalankan tugas dengan baik. Apalagi mereka sudah digaji oleh rakyat untuk mengamankan lingkungan.[***]


Alireza Alatas
Pembela Ulama dan NKRI/ aktivis Silaturahmi Anak Bangsa (Silabna)

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya