Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin menantang kubu oposisi untuk beradu visi dan misi dari masing-masing jagoan dalam menghadapi kontestasi Pilpres tahun 2019 mendatang.
Jurubicara TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Sadzily mengaku sangat menyesalkan sikap dari para politisi kubu oposisi yang kerap melontarkan kritik kepada pemerintah dengan nada yang "nyinyir". Padahal semestinya menurut dia, kedua belah pihak beradu visi dan misi dari jagoan masing-masing.
"Itu yang sebetulnya kami sangat sesalkan. Politik harusnya diisi dengan kontestasi program visi gagasan, tapi nyatanya yang dihadapi sebaliknya, beradu nyinyir, beradu kebohongan," sesalnya di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (24/10).
Hal itu diungkapkannya menanggapi pidato Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang memperingatkan kepada segenap masyarakat untuk berhati-hati dengan para politisi "sontoloyo". Mereka, kata Jokowi, kerap memakai segala cara hanya untuk kepentingan politik praktis, termasuk menyerang lawan politik dengan cara tidak beradab dan tidak menggunakan tata krama.
Ace yang juga politisi Partai Golkar ini mengakui bahwa segala serangan yang dilakukan oleh kubu lawan seakan memaksa mereka untuk berbalik menyerang.
"Kami memang tak bisa menghindar untuk tak merespons," ucap Ace.
Kubu lawan, tambah Ace, seringkali mengeluarkan kritikan dan pernyataan yang seakan-akan membuat ketidakpastian di tengah masyarakat.
Konkretnya sebagaimana kritik yang dilontarkan oleh Cawapres kubu lawan, Sandiaga Salahuddin Uno yang mengatakan bahwa nasi ayam (chicken rice) di Singapura lebih murah dari Jakarta. Kritikan-kritikan seperti itulah yang memaksa mereka untuk merespons balik.
"Kami harus respons kalau tidak nanti masyarakat menyatakan itu adalah benar, dan itu konsekuensinya yang rugi masyarakat sendiri. Ada instabilitas ekonomi. Atau ketika sejak cawapres sebelah (Sandi) datang ke pasar-pasar lalu katakan harga sembako tak terjangkau, yang rugi masyarakat itu sendiri. Kenapa, karena masyarakat nanti nggak mau lagi datang ke pasar-pasar tradisional karena dilihat pasar tradisional ada masalah. Harganya mahal, sehingga mereka nanti larinya ke mal-mal," ungkapnya.
Untuk itu, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI ini meminta kubu sebelah untuk mampu menahan diri dengan menyampaikan kritik terkait kondisi ekonomi bangsa secara objektif dan tidak dilebih-lebihkan. Kalau perlu beradu gagasan, visi dan misi untuk periode kepemimpinan tahun 2019 hingga tahun 2024.
"Jangan sampai Pilpres membuat situasi tak positif untuk membangun sebuah kontestasi politik yang sehat, yang membangun bangsa dan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Jadi mencari solusi yang terbaik," pungkasnya.
[lov]