Berita

Foto/Net

Korporasi Bermasalah Ditindak Tegas Juga Dong

Berantas Kejahatan Karhutla
SENIN, 15 OKTOBER 2018 | 09:44 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Aparat penegak hukum dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) diminta serius memberan­tas kejahatan korporasi. Yakni berupa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Bambang Hero Saharjenao mengungkapkan, per­soalan-persoalan Karhutla bukan saja merugikan negara. Namun sering masyarakat justru jadi korban dan dikorbankan.

Karena itu dia menegaskan, aparat penegak hukum dan KLHK harus berpihak kepada masyarakat, bangsa dan Negara. Bukan pada korporasi. Bayangkan saja, lanjut Bambang, dia yang hadir sebagai saksi ahli dalam persoalan karhutla pun dikriminalisasi.


Di Indonesia, menurutnya, supremasi hukum terhadap ko­rporasi masih sulit. Hal ini disebabkan korporasi memiliki sumberdaya besar untuk mela­wan. "Sumberdaya yang besar ini didapat dari hasil afiliasi korporasi dengan perusahaan trans­nasional," ujar Prof Bambang, di Jakarta.

Karena itu, lanjut dia, meski sudah diputuskan bersalah oleh Pengadilan, korporasi juga acap kali melakukan gugatan balik. Seperti yang terjadi pada per­lawanan korporasi yang saat ini sedang dilakukan PTJatim Jaya Perkasa (JJP), melalui gugatan perdata di Pengadilan Negeri Cibinong terhadap ahli karhutla pada 17 September 2018.

Dalam gugatan itu, Prof Bambang sendiri yang disasar. Menurutnya, gugatan perdata tersebut merupakan bentuk ancaman ter­hadap upaya penegakan hukum lingkungan yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan aparat penegak hukum lainnya.

Namun dia menilai, gugatan PTJJP tidak berdasar hukum dan mengada-ada. "Sejengkal saja saya tidak akan mundur. Saya akan terus memperjuangkan hak-hak konstitusi rakyat atas lingkungan hidup yang baik dan sehat," tegasnya.

Bambang pun berharap pengadilan menolak gugatan ini. Kalau tidak, kata dia, akan semakin sedikit saksi dan ahli yang mau membantu pemerintah dalam melindungi hak-hak masyarakat yang terancam oleh kejahatan korporasi.

"Kita tidak boleh takut meng­hadapi ancaman berupa gugatan seperti yang dilakukan PTJJP. Negara tidak boleh takut dan kalah. Saya juga mengajak teman-teman akademisi untuk terus memperjuangkan keadilan ekologi. Demi generasi saat ini dan mendatang," tegasnya lagi.

Bambang mengingatkan, keja­hatan karhutla merupakan keja­hatan luar biasa dan sistematis. Juga berdampak luas terhadap kemanusiaan. Pelaku karhutla bahkan diindikasikan menikmati hasil keuntungan atas tindak kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan yang dilakukan.

Sebelumnya, PTJJP sendiri telah diputus bersalah akibat pembakaran lahan gambut sel­uas 1.000 hektare di Rokan Hilir, Riau. Untuk kasus perseorangan, berdasarkan putusan Pengadilan Tinggi (PT) Pekanbaru, Kepala Kebun PTJJP Kosman Vitoni Immanuel Siboro dijatuhi Pidana penjara selama 4 tahun dan denda Rp 3 miliar.

Untuk kasus korporasi yang diwakili Direktur Halim Gozali, berdasarkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Rokan HIlir, dihu­kum denda Rp 1 miliar. Berdasarkan putusan Kasasi Perdata Mahkamah Agung (MA), PTJJP dinyatakan melakukan perbuatan melawan hukum dan dikenakan denda ganti rugi sekaligus biaya pemulihan sebesar Rp 491,03 miliar.

Menurut Prof Bambang, ke­jahatan lingkungan hidup dan kehutanan yang dilakukan ko­rporasi secara sistematis, tak hanya menghancurkan eko­sistem, menganggu kesehatan masyarakat, menimbulkan keru­gian negara. Namun juga menu­runkan kewibawaan negara.

"Kita telah merasakan bagaima­na dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengganggu kesehatan dan perekononomian.Juga adanya protes dari negara tetangga. Akibat pencemaran asap lintas batas beberapa tahun lalu," ujarnya. ***

Populer

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

OTT Pegawai Pajak Jakarta Utara: KPK Sita Uang Ratusan Juta dan Valas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:14

Mendagri: 12 Wilayah Sumatera Masih Terdampak Pascabencana

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:04

Komisi I DPR: Peran TNI dalam Penanggulangan Terorisme Hanya Pelengkap

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:33

X Ganti Emotikon Bendera Iran dengan Simbol Anti-Rezim

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:27

Trump Sesumbar AS Bisa Kuasai 55 Persen Minyak Dunia Lewat Venezuela

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:10

Konten Seksual AI Bikin Resah, Grok Mulai Batasi Pembuatan Gambar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:52

Ironi Pangan di Indonesia: 43 Persen Rakyat Tak Mampu Makan Bergizi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:41

Emas Antam Berkilau, Naik Rp25.000 Per Gram di Akhir Pekan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:34

Khamenei Ancam Tindak Tegas Pendemo Anti-Pemerintah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:22

Ekonomi Global 2026: Di Antara Pemulihan dan Ketidakpastian Baru

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:06

Selengkapnya