Berita

Heri Gunawan/Net

Politik

Gerindra: Ada Mismanagement Akut Di Tubuh Pemerintah

JUMAT, 12 OKTOBER 2018 | 09:53 WIB | LAPORAN:

. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi Pertamax Cs dan pembatalan kenaikan harga BBM jenis Premium mempertegas tentang adanya mismanagement akut dalam tubuh pemerintah.

Anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan mengatakan, dibatalkannya kenaikan harga Premium hanya berselang kurang dari satu jam setelah diumumkan setidaknya menandai ada tiga persoalan akut di dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo. Pertama, ada mismanagement dan unsur ketidakprofesionalan yang serius di dalam tubuh pemerintahan.

"Jika proses pengambilan kebijakan tersebut telah melalui prosedur yang benar, mestinya secara profesional seluruh unsur pemerintahan kompak melaksanakannya dan tidak ada alasan untuk mementahkannya kembali, apalagi sesudah dirilis ke masyarakat," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (12/10).


Sebaliknya, lanjut politisi Partai Gerindra ini, jika proses pengambilan keputusannya ternyata tidak melalui prosedur yang benar, maka persoalannya menjadi lebih serius lagi.

Makanya menurut Heri, semestinya sesudah kebijakan itu dibatalkan, seharusnya ada pernyataan terbuka dari Presiden mengenai siapa yang dianggap bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.

"Presiden harus menegur keras pembantunya yang telah melakukan kesalahan itu. Atau, jika Presiden secara gentleman mengambil alih tanggung jawab kesalahan tadi, maka Presiden perlu menindaklanjutinya dengan meminta maaf kepada masyarakat atas kecerobohan yang terjadi di dalam tubuh pemerintahannya tersebut," desaknya.

Kedua, pemerintah tidak taat asas. Menaikan harga BBM non subsidi tanpa melalui konsultasi dengan DPR adalah sebuah kesalahan. Sebab, setiap kebijakan yang melibatkan pengurangan atau penambahan subsidi haruslah dikonsultasikan terlebih dahulu kepada parlemen.

"Merujuk kepada Perpres 191/2014, meskipun fungsi kontrol DPR atas kebijakan harga BBM non subsidi telah diamputasi, namun DPR perlu dimintai persetujuannya jika terkait penetapan harga BBM bersubsidi," jelas Heri.

Padahal, tambah anak buah Prabowo Subianto ini, pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018 menaikkan subsidi sebesar 2,1 persen dari Rp 168,87 triliun menjadi Rp 172,41 triliun. Dari jumlah tersebut, anggaran subsidi untuk dialokasikan sebesar Rp 103,37 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam jumpa pers, di kantornya, Senin (21/8) lalu pun mengatakan, pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM, gas LPG 3 kilogram (Kg), dan tarif dasar listrik di 2018.

Ketiga, buruknya proses perumusan kebijakan secara keseluruhan tersebut menandakan lemahnya leadership dalam pemerintahan.

"Kenapa kebijakan yang belum matang kajian dan analisisnya bisa diumumkan? Dari sini, alasan Presiden yang membatalkan kenaikan Premium karena ingin cermat dalam memutuskan harga Premium, sangat tidak masuk akal. Justru pembatalan oleh Presiden, menandakan hal sebaliknya. Pemerintah lagi-lagi sembrono dalam memutuskan sebuah kebijakan sensitif," sesalnya lagi.

Masih kata Heri, pembatalan kebijakan yang belum seumur jagung ini pun bukanlah kali pertama terjadi. Sebelumnya publik juga mencatat pemerintah pernah beberapa kali membatalkan kebijakan yang pernah diambilnya, seperti pembatalan kebijakan full day school, pembatalan pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri, pembatalan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Jalan Tol, serta pembatalan kebijakan Pajak Bunga Deposito. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya