Berita

Foto/Net

Publika

Bila Tiada Koreksi, Bubarkan IMF-WB

JUMAT, 28 SEPTEMBER 2018 | 19:54 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

IMF-WB adalah lembaga yang didirikan pada konferensi Moneter dan Keuangan PBB di Bretton Woods, Amerika Serikat pada tahun 1944. Awalnya berjumlah 44 negara yang berkonvensi di bawah kepemimpinan AS dan Inggris untuk menyepakati tatanan ekonomi dan keuangan pasca perang Dunia II. Dengan berfokus pada stabilitas makroekonomi, pembangunan ekonomi dan pengurangan kemiskinan. Indah sekali cita-cita di awal pembentukannya.

Nyatanya, selama 74 tahun perjalanannya (1944-2018), dunia di bawah supervise IMF-WB menghadapi berbagai krisis ekonomi yang salah satu yang terbesar (Resesi 2008) justru terjadi di AS dan Inggris. Masyarakat dunia, hingga sekarang, masih berada dalam ketimpangan yang sangat luar biasa. Delapan puluh dua persen kekayaan yang dihasilkan masuk kantong 1 persen populasi penduduk, sementara 3,7 miliar rakyat Dunia yang menempati 50 persen populasi penduduk termiskin tampak tidak meningkat kekayaannya (Laporan Oxfam, Januari 2018).

Tidak tercipta keadilan sosial bagi masyarakat dunia. Ini berarti jelas ada yang salah dengan peranan grup IMF-WB, karena hasilnya adalah dunia yang sangat timpang seperti tersebut sebelumnya ditambah dengan utang dunia sebesar 225 persen GDP-nya. Menurut kami tidak ada gunanya kedua lembaga ini dilanjutkan, kecuali terjadi koreksi besar dalam model aliran ekonomi pembangunan yang dianutnya.


Hentikan Program Austerity

Program pengetatan anggaran atau austerity telah gagal di banyak negara dalam kurun waktu yang lama di masa lalu, maka dari itu pertama-tama program inilah yang tidak perlu untuk dilanjutkan. Di Amerika Latin telah gagal di tahun 1980-an, di Eropa (Yunani) pasca Resesi 2008 dan semuanya gagal. Jangan sampai dilanjutkan di Indonesia, 3 tahun terakhir Indonesia masih dibekap austerity yang dipimpin menkeunya. Berbagai program pencabutan subsidi energi dan sosial adalah termasuk dalam program austerity ini (dulu dinamakan program penyesuaian structural).


Renegosiasi Pembayaran Utang Negara Berkembang


Banyak negara, termasuk Indonesia, tidak sanggup membiayai banyak program sosial (contoh kasus: defisit BPJS kesehatan) dan pengurangan kemiskinan. Indonesia, untuk tahun 2017 saja sudah alokasikan lebih dari Ro 670-an triliun untuk bayar cicilan dan pokok utang. Nilai Rp 670-an triliun ini, lebih besar dari anggaran untuk kesehatan dan bahkan infrastruktur di Indonesia saat itu. Para pemberi utang bagi Indonesia, apakah itu lembaga keuangan maupun negara, harus lebih terbuka untuk berbagai skema renegosiasi utang dengan kita!  

Demokratiskan IMF-WB!

Dalam kepengurusan IMF-WB hanya duduk menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara yang tentu mewakili kepentingan komunitas keuangan masing-masing negara, sehingga suara dan isu dari kalangan buruh, petani, dan pegiat lingkungan tidak terdengar dalam rapat-rapatnya.

Padahal sangat sering kebijakan yang dilahirkan berdampak sangat luas pada kesejahteraan kaum buruh, petani, dan lingkungan di banyak negara. Karena itu seharusnya dalam setiap penentuan kebijakan. duduk dilibatkan juga perwakilan dari serikat pekerja, serikat tani, dan LSM lingkungan, agar suara mereka dapat menjadi isu utama atau setidaknya dipertimbangkan dalam setiap perumusan kebijakan.

Misalkan, isu-isu seputar pasar tenaga kerja selalu dipandang IMF-WB dari sudut pandang ekonomi neoklasik/neoliberal. Pesan standar mereka adalah setiap negara harus meningkatkan fleksibilitas pasar tenaga kerja, yang ini berarti maksudnya adalah menurunkan tingkat upah dan mengurangi tenaga kerja yang tak diperlukan.

Apalagi dengan segala sejarah kelam keterlibatan IMF di 1997 Di Indonesia (menciptakan kerusuhan/IMF Provoked Riots, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia/BLBI yang utangnya masih kita tanggung sampai puluhan tahun lagi, liberalisasi ugal-ugalan, dll), buat kita sebenarnya sudah terlalu baik Pemerintah Indonesia menyiapkan segala resepsi dan kunjungan wisata bagi mereka semua hadirin acara IMF-WB Annual Meeting di Bali dan Lombok senilai hampir Rp 1 triliun. [***]

Penulis adalah Direktur Lingkar Survei Perjuangan (LSP). Tulisan di atas adalah makalah yang disampaikan penuli saat menjadi pembicara dalam diskusi publik "Pembangunan Untuk Kepentingan Rakyat Vs Pembangunan Neoliberal Model IMF Dan Bank Dunia" yang diselenggarakan Gerakan Rakyat Menentang IMF-Bank Dunia di Jakarta, Jumat 28 September 2018. 

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Pelajar Islam Indonesia Kutuk Trump dan Netanyahu

Rabu, 04 Maret 2026 | 10:08

Prabowo Tunjukkan Soliditas Elite Lewat Pertemuan dengan Mantan Presiden

Rabu, 04 Maret 2026 | 10:08

Bupati Pekalongan Dikabarkan Telah Jadi Tersangka Dugaan Benturan Kepentingan PBJ

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:45

Masihkah Indonesia Konsisten dengan Politik Luar Negeri Bebas Aktif?

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:43

KPK Buka Peluang Periksa BPN Depok soal Suap Lahan PT KD

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:38

Irak Ikut Pangkas Produksi, Harga Minyak Makin Naik

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:21

Pertemuan Elite jadi Cara Prabowo Redam Polarisasi Politik

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:15

Bursa Asia Anjlok, Kospi Jatuh Paling Dalam

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:51

Harga Emas Dunia Terkoreksi Gara-gara Dolar AS

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:41

Menaker Tetapkan Tenggat BHR Ojol 2026: Paling Lambat H-7 Lebaran

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:26

Selengkapnya