Berita

Hendri Satrio/Humas BNPT

Politik

Awas, Perang Tagar Berpotensi Perpecahan Bangsa, Bijaklah Berselancar Di Dunia Maya

RABU, 19 SEPTEMBER 2018 | 16:36 WIB | LAPORAN:

Bangsa Indonesia tengah menyambut datangnya pesta demokrasi yaitu Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Saat ini kondisi masyarakat pun sudah mulai ‘gaduh’ yang dipicu perang propaganda yang dilakukan masing-masing kubu. Alhasil, fitnah, hoax, ujaran kebencian, terus berseliweran, terutama media sosial (medsos) di jagad maya.

Ironisnya, masyarakat sebagai obyek ‘perang’ antar kubu tidak sadar bahwa upaya-upaya itu justru bisa memicu akibat yang lebih besar lagi. Artinya ‘perang’ kata-kata dan tagar ini bisa memicu perpecahan, tidak hanya di masyarakat, tapi perpecahan bangsa Indonesia.


Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio mengajak seluruh masyarakat agar bijaksana bila berselancar di dunia maya. Menurutnya, masyarakat harus bertanggung jawab dalam mengelola medsos sehingga harus disampaikan informasi yang benar dan menyejukkan supaya dunia maya dan para penggiatnya lebih damai.

“Sampaikan hal positif, hindari menyebarkan hoax dan ujaran kebencian, apalagi fitnah. Jangan sampai kita tergabung dengan kelompok yang menginginkan Indonesia tidak damai dengan menyampaikan berita yang mengarah pada kekerasan dan perpecahan bangsa. Baik buruknya dan masa depan Indonesia tergantung dari kita semua. Jangan sampai gara-gara jempol kita, Indonesia pecah. Jadi bertanggungjawablah menggunakan medsos dan saat berselancar di dunia maya, untuk Indonesia yang aman, tenteram, dan damai. Bukan hanya untuk 2019 saja, tapi selamanya,” papar Hendri Satrio di Jakarta, Rabu (19/9).

Hendri menilai, kondisi yang terjadi ini sebenarnya lumrah dan positif sebagai bagian pesta demokrasi.  Ini menunjukkan masyarakat juga bergairah menyambut pesta demokrasi lima tahunan ini.

Namun, tentu saja ada hal yang harus disiapkan menuju ke pesta tersebut. Ia mencontohkan arena Pilpres 2019 seperti sebuah arena pertandingan sepakbola. Disana ada fans, kubu, pendukung, dan pemain.

"Intinya boleh ramai saat mendukung pemain bertanding di lapangan, tapi nanti kalau pertandingan sudah selesai, kedua kubu pun juga harus akur lagi dan damai. Itu yang harus kita siapkan. Artinya bagaimana mengkondisikan masyarakat kita bisa siap menang dan siap kalah dan menyikapi secara dewasa sebagai hasil dari pertarungan demokrasi yang fair," jelas Hendri.

Ia mengakui, tantangan dengan keberadaan medsos ini luar biasa, apalagi dengan ‘gorengan-gorengan’ yang sudah ada dari berbagai isu. Kondisi ini diperkirakan hampir sama seperti Pilpres 2014 lalu, juga Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu.

Karena itu kedewasaan masyarakat sebagai pemilik suara menjadi sangat penting, jangan sampai terlalu jauh saling sindir, saling colek, yang ujung-ujungnya bisa saling adu otot.

Pria yang juga founder lembaga survei KedaiKopi ini berharap hal ini tidak terjadi. Pasalnya, ancaman yang lebih besar yaitu perpecahan bangsa bisa berada di depan mata bangsa Indonesia. Apalagi pada Pilpres 2019 nanti, kedua calon presiden sama dengan 2014 lalu. Fakta itulah yang menurutnya akan sulit mencegah residu yang terjadi pada 2014 dan 2017, tidak terbawa lagi pada 2019.

Hendri justru menyarankan, jika mau mempromosikan masing-masing calon, tidak perlu menjelekkan calon yang lain. Jadi cukup mempromosikan kebaikan, kelebihan, dan kedigdayaan, calon yang didukung sehingga masyarakat pasti akan senang mendengarnya dan lebih penting tidak akan menimbulkan kebencian dan perpecahan.

“Saya percaya kalau bicara politik hanya sampai dagu, nggak sampai hati, kalau sampai dagu itu selesai, asal otaknya dingin. Kalau sampai hati susah, karena di sana ada cinta dan benci," tukas Hendri.[wid]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya