Berita

R Priyono dan Wibowo Suseno Wirjawan/Net

X-Files

Bekas Kepala Dan Deputi BP Migas Ikut Diperiksa

Penyidikan Korupsi Penutupan Asuransi Migas
MINGGU, 16 SEPTEMBER 2018 | 10:53 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Dua bekas petinggi BP Migas, R Priyono dan Wibowo Suseno Wirjawan ikut dipanggil dalam penyidikan kasus korupsi penutupan polis asuransi migas.

R Priyono adalah bekas Kepala BP Migas sebelum lembaga itu berganti nama menjadi SKK Migas. Sedangkan Wibowo per­nah menjabat Deputi Keuangan BP Migas.

Keduanya menjadi saksi perka­ra tersangka Budi Tjahyono, bekas Dirut PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo). "Diduga saksi mengetahui teknis kegia­tan pengadaan asuransi oil and gas di BP Migas dengan PTJasindo," kata juru bicara KPK Febri Diansyah.


Penyidik lembaga antirasuah mengorek mengenai pelaksa­naan tender asuransi dan pola kerja sama dengan PTJasindo. "Termasuk pelaksanaan kerja sama," kata Febri.

Untuk melengkapi berkas perkara Budi Tjahyono, penyidik juga meminta keterangan Kepala Divisi Pemasaran Korporasi Jasindo 2009-2013 Rino Eri Rachman, karyawan Jasindo Sofia Ratna Adhawiah, dan konsultan asuransi migas dari Total Risk Solutions London Ltd Del Yuzar.

Selain itu, Budi Tjahyono juga dipanggil penyidik untuk perpanjangan masa penah­anannya. "Penahanan diper­panjang selama 30 hari," ujar Febri.

Budi Tjahyono ditahan sejak 16 Juli 2018. Ia ditempatkan di Rutan Cabang KPK di Pomdam Jaya Guntur.

Budi diduga melakukan ko­rupsi saat penutupan polis asur­ansi migas BP Migas tahun 2010-2012 dan tahun 2012-2014. "Kasus itu sudah diselidiki sejak pertengahan 2016. Penyidikannya mulai ditetapkan pada Maret 2017 lalu," ungkap Febri.

Dari hasil penyidikan, KPK menetapkan Budi sebagai ter­sangka. Budi diduga menyalah­gunakan wewenangnya sebagai Dirut PT Jasindo untuk memper­kaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi. Perbuatannya menyebabkan negara dirugikan Rp 15 miliar.

Febri membeberkan, Budi me­merintahkan pembayaran komisi kepada dua agen fiktif pada pe­nutupan polis 2010-2012. Pola ini berulang pada 2012-2014.

Berdasarkan hasil penelusuran KPK, dugaan penyelewengan awal terindikasi dari proyek pengadaan jasa asuransi pertama BP Migas tahun 2009.

Saat itu, BP Migas mengada­kan lelang terbuka pengadaan jasa asuransi untuk menutup aset dan proyek di kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Panitia mengumumkan penunjukan PT Jasindo sebagai leader konsor­sium. Untuk pengadaan asuransi migas 2012-2014, PT Jasindo kembali ditunjuk sebagai leader konsorsium.

"Ada dua orang agen yang di­tunjuk terkait proses pengadaan tersebut diberikan komisi kar­ena dianggap berjasa dalam pe­menangan lelang di BP Migas. Diduga komisi yang diterima kedua agen tersebut kemudian juga mengalir ke sejumlah pe­jabat di PT Jasindo," sebut Febri.

Tapi Febri mengaku belum mau membeberkan besaran fee serta ke mana saja aliran dana tersebut digelontorkan. Menurutnya, hal itu sedang ditelu­suri penyidik.

Budi Tjahjono dijerat den­gan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 Undang Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi junto Pasal 55 ayat 1 kesatu Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP).

Kilas Balik
Jasindo Keluarkan Rp 15 Miliar Untuk Komisi Dua Agen Fiktif

KPK melanjutkan penyidikan kasus korupsi di PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero). Penyidik memeriksa Supomo Hidjazie, Direktur PT Bravo Delta Persada.

"Perusahaan itu (PT Bravo Delta Persada) merupakan agen asuransi PT Jasindo," ungkap juru bicara KPK Febri Diansyah. PT Bravo Delta Persada diketa­hui bertindak sebagai agen asur­ansi PT Jasindo selama periode 2008 hingga 2012.

Pemeriksaan terhadap Supomo untuk menelusuri dugaan adanya aliran dana kickback kepada direksi Jasindo terkait pembayaran komisi kegiatan agen dalam pen­gadaan asuransi minyak dan gas BP Migas-KKKS periode 2010-2012 dan periode 2012-2014.

"Uang yang dimaksud meru­pakan bagian fee sebesar Rp 15 miliar yang diberikan Jasindo kepada dua agen yang ditunjuk untuk mengikuti lelang di BP Migas. Diduga komisi atau fee yang diterima kedua agen tersebut, kemudian mengalir ke sejumlah pejabat di Jasindo," kata Febri.

Febri belum mau membocor­kan siapa pejabat Jasindo yang diduga ikut kecipratan dana suap tersebut. "Indikasi aliran dana setelah komisi dibayar pada dua agen lalu mengalir pada sejum­lah pejabat di PT Jasindo. Itu yang kita temukan saat ini, dan sedang kita dalami," lanjutnya.

Dalam perkara ini, KPK telah menetapkan bekas Direktur Utama PT Jasindo Budi Tjahyono sebagai tersangka. Jajaran direksi ketika Budi memimpin PT Jasindo adalahUntung H Santosa selaku Direktur Pemasaran, Syarifudin selaku Direktur Teknik dan Luar Negeri, Sahata Lumban Tobing selaku Direktur Operasi Ritel dan Solihah selaku Direktur Keuangan dan Investasi.

Febri menjelaskan, tersangka Budi Tjahyono diduga telah melakukan perbuatan melawan hukum dan atau penyalahgu­nakan wewenang, memperkaya diri sendiri, atau orang lain, atau korporasi terkait pembayaran komisi terhadap kegiatan fiktif agen PT Jasindo.

"Selaku direksi, tersangka me­merintahkan bawahannya untuk menunjuk perorangan tertentu menjadi agen terkait dengan dua proses pengadaan asuransi oil and gas dimana Jasindo ditunjuk sebagai pemimpin konsorsium," bebernya.

Atas perbuatannya, tersangkaBudi Tjahyono disangka Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 UUNomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UUNomor 20 Tahun 2001 junto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Febri menambahkan kerugian negara yang ditimbulkan kasus ini mencapai Rp15 miliar, dihi­tung dari pembayaran komisi pada agen dalam kegiatan yang diduga fiktif.

"Seharusnya tidak dibutuh­kan agen dan diduga agen juga tidak melakukan kegiatan, na­mun tetap mendapatkan fee," ungkapnya.

Kasus ini sudah diselidiki KPK sejak pertengahan tahun 2016 lalu. Kemudian ditingkat­kan ke penyidikan sejak Maret 2017 dengan ditetapkannya Budi sebagai tersangka.

Febri memastikan penyidikan kasus ini tak hanya berhenti pada Budi. "KPK akan menelusuri pihak-pihak lain yang diduga menerima aliran dana korupsi itu karena Budi dijerat mengguna­kan Pasal 55 KUHP (mengenai turut serta)," ujar dia. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya