Berita

Tamliha dan Ray Rangkuti/Humas MPR

Politik SARA Lebih Bahaya Ketimbang Politik Uang

JUMAT, 07 SEPTEMBER 2018 | 23:21 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Isu SARA akan selalu ada dalam setiap kontestasi politik. Bahkan dalam pemilihan Presiden Amerika, isu SARA juga ada. Kemenangan Presiden AS Donald Trump tidak lepas dari isu tersebut.

Wakil Ketua Fraksi PPP Syaifullah Tamliha menjelaskan bahwa Donald Trump menang karena gereja dan pendeta turun langsung secara door to door.

“Gereja mendukung Trump karena Hillary Clinton berjanji akan menyetujui UU perkawinan sejenis. Orang-orang Kristen khawatir dengan kebijakan Hillary itu. Itu adalah SARA juga. Efektivitas isu SARA tidak dapat dikesampingkan,” kata Syaifullah dalam Diskusi Empat Pilar MPR bertema 'Pemilu dan Kebhinnekaan' di Ruang Media Center Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (7/9).


Di Indonesia, isu SARA mulai memanas saat Pilkada DKI 2017 lalu. Ada pihak-pihak yang mulai menggunakan agama sebagai cara untuk meraih kemenangan.

“Kalau saya mencermati, sepertinya ada perang antara kelompok sekuler dan kelompok agama. Indonesia, seperti kata Bung Karno, bukanlah negara agama, tetapi negara yang beragama,” jelasnya.

Tamliha menjelaskan bahwa politisasi agama ini sangat berbahaya bagi kelangsungan bangsa. Untuk itu, perlu keterlibatan semua pihak untuk menjaga dan meminimalisir isu-isu SARA.

Senada dengan itu, pengamat politik Lingkar Madani, Ray Rangkuti juga menyebut bahwa politisi SARA jauh lebih berbahaya dibanding politik uang.

Dia menjelaskan bahwa politik uang akan berhenti di daerah di mana politik uang itu terjadi. Kalau politik uang terjadi di Jakarta maka tidak berefek di Jawa Barat, Jawa Tengah atau Jawa Timur.

“Efek politik uang bisa di lokalisir. Artinya, bangsa tidak retak karena politik uang,” katanya.

Sementara itu, politisasi SARA bisa berdampak ke daerah-daerah lain, bahkan bisa membuat terbelah.

“Ini berbahaya. Karena itu politisasi SARA jauh lebih berbahaya dibanding politik uang,” tegasnya. [ian]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya