Berita

Ilustrasi/Amelia Fitriani

Jaya Suprana

Percuma, Jokowi-Prabowo Mesra Berpelukan

KAMIS, 06 SEPTEMBER 2018 | 11:39 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MENYAKSIKAN adegan Jokowi dan Prabowo mesra berpelukan di Istora Senayan pada saat pencak silat berjaya di perhelatan Asian Games XVIII maka terbesit harapan bahwa para pendukung kedua putra terbaik calon presiden Republik Indonesia masa bakti 2019-2024 itu akan ketularan saling berpelukan mesra.

Harapan Kosong

Namun ternyata harapan yang terbesit itu sekedar harapan kosong akibat tidak terwujud pada kenyataan. Ternyata para pendukung Jokowi dan Prabowo sama sekali tidak peduli kedua junjungan mereka saling mesra berpelukan.


Terbukti mereka malah makin bersemangat saling hujat-menghujat, fitnah-memfitnah, hadang-menghadang, ancam-mengancam, gebuk-menggebuk dengan penuh kebencian seolah musuh bebuyutan dendam tujuh turunan padahal para anggota capres fans-club adalah sesama bangsa Indonesia yang tersohor sebagai bangsa ramah tamah bahkan adil dan beradab berkat menganut falsafah Pancasila.

Prihatin


Suasana kebencian pada hakikatnya malah lebih memprihatinkan ketimbang di masa penjajahan sebab sebenarnya sama sekali tidak ada bangsa asing yang wajib dibenci akibat semuanya sesama bangsa Indonesia yang sama sama berbahasa Indonesia, berbudaya Indonesia dan hidup bersama di Indonesia.

Mungkin memang benar bahwa bangsa Indonesia belum siap menganut paham demokrasi yang mungkin memang tidak cocok untuk bangsa Indonesia yang terlanjur terbiasa ratusan tahun hidup dalam suasana dijajah bangsa asing setelah sebelumnya terbiasa ribuan tahun hidup dalam suasana monarki di mana sudah terbiasa rakyat mengabdi kepada penguasa bukan sebaliknya.

Hukum

Kebebasan berpendapat dan mengungkap pendapat hanya dibenarkan selama pendapat sesuai dengan pendapat diri sendiri.

Kebebasan berpendapat diterjemahkan menjadi kebebasan menghina dan lebih celaka lagi bahwa ternyata yang boleh menghina hanya diri sendiri terhadap orang lain bukan sebaliknya.

Jika orang lan yang menghina diri sendiri maka hukumnya wajib dilaporkan ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik atau bahkan makar karena membahayakan NKRI. Jika diri sendiri menghina orang lain maka berarti membela NKRI dan Pancasila. Hukum harus tajam untuk orang lain sambil tumpul bagi diri sendiri.

Kekuasaan

Di panggung politik tidak ada kerakyatan apalagi kemanusiaan karena yang ada cuma kerakusan atas harta-benda dan kekuasaan.

Yang sudah kayaraya masih ingin lebih kayaraya lagi. Yang belum berkuasa ingin merebut kekuasaan sementara yang sedang berkuasa ingin  mempertahankan kekuasaan bahkan lebih berkuasa lagi sehingga kekuasaan tidak lagi menjadi sekadar alat namun sudah tujuan pembangunan.

Bahkan demi mempertahankan bahkan menambah kekuasaan pihak yang sedang berkuasa tak segan menghalalkan segala cara termasuk cara yang sempurna melanggar hukum.

Rakyat miskin yang di dalam UUD 1945 disebut sebagai tanggung jawab negara pada kenyataan malah digusur secara sempurna melanggar hukum.

Penguasa tidak boleh dikritik maka siapa berani mengkritik langsung dituduh makar.

Demi kekuasaan tak segan rakyat dibenturkan dengan sesama rakyat agar yang berkuasa tidak bisa disalahkan. Percuma, Jokowi dan Prabowo mesra berpelukan. [***]

Penulis mendambakan tiada benci di persada Nusantara

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Seriuskah Kemdiktisaintek Menjaga Mutu Pendidikan Tinggi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:22

Anggota Dewan Etik Golkar Diduga Terlibat Dugaan Penipuan Miliaran

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:11

Membangun Kemandirian Energi Desa Melalui Penguatan Kapasitas Local Hero

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:05

Pertamina Perkuat Kemitraan Strategis Lewat SRM Summit 2026

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:31

Kerja Sama KSPSI-UT Perluas Kesempatan Pekerja Raih Pendidikan Tinggi

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:17

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PTPN IV PalmCo Fasilitasi APRC 2026, Perputaran Ekonomi Masyarakat Meningkat

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:58

Isu Wamenhan Baru Jangan Terjebak Kepentingan Bisnis dan Korporasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:55

Paroki Kraksaan Menanti Kejelasan

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:32

Pramono-Erick Thohir Godok Persiapan FIFA ASEAN Cup di Jakarta

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:24

Selengkapnya