Berita

Hamli/Humas BNPT

BNPT Rangkul Youtubers Cegah Radikalisme

RABU, 05 SEPTEMBER 2018 | 14:32 WIB | LAPORAN:

Setelah menjalankan program Duta Damai Dunia Maya sejak 2015 lalu, di pertengahan 2018 ini, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) giliran merangkul para pembuat konten kreatif, terutama di kanal Youtube atau lebih keren disebut Youtubers.

Sebanyak 42 konten kreator itu dikumpulkan dalam forum Sarasehan Pencegahan Terorisme Bersama Konten Kreator di Yogyakarta, 4-7 September.

Selama empat hari, mereka akan berkolaborasi dengan tim media sosial Pusat Media Damai (PMD) BNPT untuk menyamakan persepsi, berupa diskusi dan sharing pembuatan konten-konten video kreatif yang mendukung upaya pencegahan radikalisme dan terorisme.


"Kami berharap kreativitas para Youtubers ini bisa mengajak dan membentengi masyarakat, terutama anak muda dari penyebaran radikalisme dan terorisme, terutama di media sosial," kata Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol. Hamli dalam keterangannya.

Hamli melanjutkan bahwa peran penggiat dan pembuat konten kreatif di dunia maya ini sangat penting. Pasalnya, konflik yang terjadi di Timur Tengah, itu berawal dari radikalisme yang kemudian memuncak menjadi terorisme, berawal dari perang konten, baik itu konten berita maupun konten video di media sosial.

Salah satunya di Suriah, negara yang dulunya mirip dengan Indonesia. Suriah negara yang indah yang terdiri dari bermacam-macam agama dan etnis. Namun mereka akhirnya terlibat konflik. Di situlah kelompok radikal masuk memperkeruh suasana dengan melakukan berbagai cara seperti kabar bohong (hoax) dan adu domba dengan isu SARA.

Kondisi ini juga pernah terjadi di Indonesia yaitu saat konflik Poso dan Ambon. Di sana, para pelaku radikalisme juga masuk sehingga kasus itu sangat sulit diselesaikan. Begitu juga di negara tetangga Filipina, tepatnya di Marawi yang harus ditangani dengan operasi militer.

"Intinya kelompok radikal selalu mencari daerah konflik untuk melakukan jihad, buat mereka jihad itu perang, bukan yang lain. Padahal dalam islam, jihad itu tidak hanya perang, tapi jihad dengan menuntut ilmu dan mencari nafkah," jelas Brigjen Hamli.

Ia menegaskan bahwa akar terorisme biasanya berasal dari konflik wilayah yang membuat kondisi suatau negara menjadi tidak stabil. Di situlah terorisme bisa tumbuh subur. Ia juga menegaskan bahwa yang namanya terorisme itu bukan isapan jempol atau rekayasa, tapi kenyataannya memang ada. Seperti di Indonesia dengan serangkaian teror bom dari tahun 2000 sampai sekarang.

Pada kesempatan, Hamli memaparkan berbagai fenomena terorisme, terutama di Indonesia. Diawali potensi ancaman di Indonesia. Menurutnya, potensi ancaman radikalisme di Indonesia sangat besar karena Indonesia terdiri dari berbagai macan agama, suku, ras, dan lain-lain. Hal ini harus terus direduksi dan salah satunya dengan penyebaran konten positif di media sosial.

Mengutip hasil survei Wahid Foundation tentang potensi radikalisme, kata Hamli, 72 persen orang Indonesia menolak radikalisme, 7,7 persen bersedia melakukan aksi radikalisme, dan 0,4 persen pernah melakukan aksi radikalisme dan terorisme. Ironisnya dengan hanya 0,4 persen atau sangat kecil, kelompok radikal ini justru berani melakuan aksi.

Dengan keterlibatan para konten kreator ini, diharapkan mampu mereduksi hasil penelitian itu.

"Marilah yang 72 persen ini kita terus perbanyak, sekaligus kita pengaruhi yang 7,7 persen agar masuk kelompok 72 persen. Ingat 7,7 persen itu banyak sekitar 11 juta orang dari total penduduk Indonesia yang 250 juta jiwa," tutur Hamli. [wid]

 

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya