Berita

Jokowi/Repro

Advertorial

Kementerian PUPR Terus Intensifkan Sosialisasi dan Pendampingan Risha Kepada Masyarakat NTB

RABU, 05 SEPTEMBER 2018 | 09:32 WIB

. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengintensifkan sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat NTB dalam membangun rumah tahan gempa teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA).

Pada saat di Kabupaten Lombok Barat, Presiden Joko Widodo sempat meninjau pembangunan Risha di Desa Kekait, Kecamatan Gunung Sari.

Menurut dia, masyarakat bebas memilih jenis konstruksi yang digunakan untuk membangun rumahnya, asalkan tahan gempa.


"Boleh pakai RISHA yang pakai tembok, bisa juga pakai bambu, bisa juga pakai kayu, bisa juga rumah panggung. Tetapi harus diawasi, didampingi oleh insinyur-insinyur dari Kementerian PUPR," tandasnya.

Sosialisasi Risha dilakukan dengan membuat rumah contoh di 20 lokasi, pamflet, informasi di media sosial dan pendampingan langsung.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah akan dilakukan sendiri oleh masyarakat secara gotong royong dan ditargetkan bisa rampung dalam waktu enam bulan sehingga kehidupan sosial ekonomi masyarakat cepat pulih.

Guna merealisasikan target tersebut, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono telah meminta Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Provinsi NTB untuk membuka depo bahan bangunan di tingkat kecamatan/desa untuk memberi kemudahan dan akses kepada masyarakat yang membutuhkan material konstruksi  antara lain semen, besi, dan pasir.

Adanya depo bahan bangunan diharapkan menjamin ketersediaan stok dalam jumlah cukup dan harga yang terjangkau.

Kementerian PUPR sendiri telah menerjunkan sebanyak 400 insinyur muda CPNS, dibantu oleh mahasiswa dan unsur relawan dalam mendampingi masyarakat selama masa pembangunan Risha.

Hal ini merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2018 tentang percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa bumi di NTB.

Mariani yang merupakan warga asli Desa Pengempal Indah, Karang Anyar, Sandubaya, Mataram mengatakan dirinya tertarik menggunakan konstruksi Risha.

Kat dia, setelah menghibahkan tanah untuk pembangunan mushola dan menyaksikan langsung proses pembangunan dengan konstruksi Risha, dirinya semakin tertarik.

“Dengan dibangunnya bangunan contoh berupa mushola menggunakan konstruksi tahan gempa seperti ini, saya bersama warga lainnya setuju dengan konsep bangunan Risha, dan insyaAllah ingin juga membangun ketika dana bantuan dari pemerintah kami terima,” kata Mariani.

Mariani menambahkan, bangunan Risha memiliki kelebihan struktur yang padat, sederhana, dan proses pembangunannya cepat sehingga tidak membutuhkan biaya banyak. Warga pun setuju karena sesuai kemampuan mereka.

Arifin, warga lainnya, mengatakan, kehadiran Risha sangat membantu untuk percepatan pembangunan kembali rumah-rumah yang telah roboh karena gempa. Arifin yang juga terlibat dalam pembangunan musala dengan konstruksi Risha menilai konstruksi Risha sangat mudah diterapkan.

“Kalau masalah pembangunan tidak terlalu susah karena pakai baut saja. Kemarin kami diajari sebentar oleh tim Rekompak dan langsung paham,” ungkapnya.

Membangun dengan konstruksi Risha, kata Arifin, memakan waktu lebih sedikit daripada konstruksi biasanya.

Menurut dia, jika menggunakan konstruksi biasa, satu rumah baru bisa selesai dalam waktu 1,5 bulan. Sementara dengan konstruksi Risha, musala saja sudah bisa terbangun dalam waktu seminggu.

Dia juga berencana membangun kembali rumahnya dengan konstruksi Risha. Menurut Arifin, banyak warga lain juga yang tertarik untuk menggunakan konstruksi Risha. Nantinya, warga akan bergotong royong untuk membangun rumah. Insinyur muda dari PUPR juga akan mendampingi warga saat proses pembangunan.

“Kita bikin 10 orang untuk membangun rumah Risha. Saling bantu. Saya juga bantu tetangga lain,” kata Arifin.

Bangunan contoh Risha pernah diaplikasikan oleh Kementerian PUPR di Lombok Utara. Bangunan tersebut difungsikan sebagai Balai Dusun Akar-Akar Utara dan Sekolah Adat Bayan, Desa Karang Bajo. Kondisi dua bangunan tersebut masih utuh meski diguncang gempa berkekuatan magnitude 7 terjadi pada Minggu,tanggal 5 Agustus 2018. [***/jto]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya