Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Membongkar Mitos Ekonomi Indonesia Terbesar Ke-4 di Dunia Tahun 2050

MINGGU, 02 SEPTEMBER 2018 | 07:51 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

DALAM sebuah film pendek berbahasa Inggris yang mengaku bersumber dari data publikasi Price Waterhouse Coopers (PwC) disebutkan, bahwa pada tahun 2050 ekonomi Indonesia akan menjadi yang terbesar ke-4 di Dunia.

Dirinci di film tersebut, GDP (Gross Domestic Product) Indonesia akan sebesar 7,3 triliun dolar AS. Dari 10 negara ekonomi terbesar Dunia yang diproyeksikan tahun 2050, peringkat ke-10 adalah Rusia  dengan besar GDP 5,1 triliun dolar AS dan peringkat ke-1 adalah China dengan besar GDP 50 triliun dolar AS.

Sementara Amerika Serikat, yang merupakan perekonomian terbesar saat ini, harus rela turun peringkat ke-2 Dunia pada tahun 2050 dengan besar GDP 34 triliun dolar AS.


Kemudian kami coba dapatkan versi asli laporan resmi PwC (sumber: https://www.pwc.com/gx/en/issues/the-economy/assets/pwc-world-in-2050-key-projections.xlsx). Ternyata angka-angka yang terdapat di laporan PwC tidak persis sama dengan angka-angka yang diklaim oleh film pendek berbahasa Inggris yang mengklaim datanya bersumber dari PwC tersebut.

Misalnya, dikatakan di film pendek tersebut, pada tahun 2050 besar GDP Indonesia akan mencapai 7,3 triliun dolar AS. Ternyata, dalam proyeksi versi PwC (Februari 2015) pada tahun 2050 besar GDP riil Indonesia, berdasarkan PPP (Purchasing Power Parity), adalah sebesar 12,2 triliun dalar AS. Pada proyeksi PwC yang sama, bila tidak berdasarkan PPP, tapi berdasarkan MER (market exchange rate), GDP riil Indonesia tahun 2050 akan sebesar 8,7 triliun dolar AS. 

Entah data mana yang dirujuk, karena baik mengunakan dasar PPP atau MER, di proyeksi PwC tidak ada angka besar GDP riil Indonesia pada 2050 sebesar 7,3 triliun dolar AS.

Tapi mungkin maksudnya versi film adalah GDP riil yang berdasar MER, bukan PPP, karena selisihnya lebih dekat (7,3 triliun dolar AS dan 8,7 triliun dolar AS).

Kami mencoba move on, tidak mempermasalahkan perbedaan proyeksi angka besaran GDP riil Indonesia di 2050 antara film pendek dengan PwC. Tapi kami akan mencoba memeriksa, berapa besar growth GDP riil rata-rata setiap tahun  yang diperlukan untuk mendapatkan besar GDP riil (berdasar MER) sebesar 7,3 triliun dolar AS (versi film pendek) atau 8,7 triliun dolar AS (versi PwC) di 2050.

Dengan menggunakan kurs tetap tahun 2017 Rp 13.500/dolar AS dan besaran GDP (dalam Rp) tahun 2017 sebesar Rp 13.588 ribu triliun (1 triliun dolar AS).

Hasilnya, bila kami asumsikan growth GDP riil tahun 2017 hingga 2050 adalah rata-rata sebesar 5 persen, maka GDP riil Indonesia di tahun 2050 akan sebesar 5,04 triliun dolar AS.

Berdasarkan pemeringkatan di film pendek di atas, maka tahun 2050 Indonesia tidak masuk 10 besar ekonomi terbesar di Dunia, karena lebih kecil dari Rusia (peringkat ke-10) yang besaran GDP-nya 5,1 triliun dolar AS. Berdasarkan pemeringkatan PwC (versi MER),  maka tahun 2050 Indonesia juga tidak masuk 10 besar ekonomi terbesar ke Dunia, karena lebih kecil dari Perancis (peringkat ke-10) yang besaran GDP-nya 5,2 triliun dolar AS.

Lalu, bila GDP riil growth rata-rata 5 persen ternyata tidak cukup membawa Indonesia masuk ke 10 besar ekonomi Dunia, berapa GDP riil growth rata-rata per tahun yang kita untuk masuk ke peringkat 4 ekonomi Dunia berdasar versi film pendek maupun PwC? Berdasarkan versi film pendek, untuk menduduki peringkat ke-4 Dunia dengan GDP sebesar 7,3 triliun dolar AS, maka GDP growth rata-rata 2017-2050 harus sebesar 6,3 persen per tahun.

Sementara  berdasarkan PwC, untuk menduduki peringkat ke-4 Dunia dengan GDP sebesar 8,7 triliun dolar AS, maka kami hitung GDP growth rata-rata 2017-2050 harus sebesar 6,6 persen per tahun.

Bukan juga GDP growth rata-rata 4,4 persen seperti proyeksi PwC. Karena bila hanya mengandalkan GDP growth rata-rata 4,4 persen per tahun, maka menurut perhitungan kami di tahun 2050 GDP Indonesia hanya sebesar  4,1 triliun dolar AS, atau hanya di peringkat ke-14 versi PwC. Sangat jauh kesalahan perhitungan PwC, lebih dari separuhnya, dari proyeksi GDP sebesar 8,7 triliun dolar AS.

Artinya, dapat kami ambil dua kesimpulan: pertama, ekonomi Indonesia tahun 2050 terbesar ke-4 Dunia hanya mitos, bila GDP growth rata-rata hanya di kisaran 5 persen pertahun! ; kedua, proyeksi PwC bahwa dengan growth 4,4 persen akan didapatkan GDP riil sebesar USD 8,7 triliun adalah salah perhitungan.

Tetapi, biarpun terjadi salah perhitungan dalam proyeksi PwC, kita tidak dapat mempersalahkan atau menggugat PwC. Karena dengan sangat jelas, dalam bagian “Disclaimer” (yang biasanya jarang mendapat perhatian dari pembaca) di publikasi proyeksi PwC tersebut, dengan jelas dikatakan publikasi ini hanya panduan umum, tidak terdiri dari saran profesional.

PwC sangat tidak menyarankan publikasi ini dipergunakan oleh siapa pun tanpa sebelumnya mendapat saran profesional yang spesifik. PwC juga tidak memberikan garansi apa pun atas keakuratan publikasi ini. Secara sederhana: PwC tidak bertanggung jawab atas proyeksi ini bila ternyata tidak akurat atau terjadi salah perhitungan.

Sayangnya, mitos (bahwa pada tahun 2050 GDP Indonesia akan terbesar ke-4 Dunia) yang lahir dari publikasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan secara profesi ini ternyata sudah terlanjur dikampanyekan  berkali-kali oleh para pejabat kita, termasuk oleh Presiden Jokowi.

Karenanya, agar tidak menjadi mitos belaka cita-cita 2050 ekonomi Indonesia peringkat ke-4 Dunia, maka menjadi tugas pemerintahan pasca Jokowi lah yang harus mengejar GDP growth yang tinggi- setidaknya hingga rata-rata 7-9 persen selama lima tahun, untuk mengimpasi rata-rata GDP growth era Jokowi yang hanya 5 persen per tahun. [***]

Penulis adalah peneliti ekonomi politik di Lingkar Studi Perjuangan

Populer

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

KPK Gelar OTT di Kabupaten Kuantan Singingi Riau

Senin, 29 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

OJK Minta Masyarakat Waspada Scam Berkedok Sensus Ekonomi 2026

Selasa, 07 Juli 2026 | 10:12

Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Pantau Kebijakan OPEC+ dan Arab Saudi

Selasa, 07 Juli 2026 | 10:03

PSI Sulit Jadikan Jateng Kandang Gajah Jika Hanya Andalkan Jokowi

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:57

Prabowo Bersiap Gelar Pertemuan Bilateral dengan Modi di Istana Pagi Ini

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:54

IHSG Menguat, Rupiah Bergerak ke Rp17.985 per Dolar AS

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:48

BBNI Tuntaskan Buyback 2026, Saham Dialihkan Penuh untuk Program Pegawai (ESOP)

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:45

PPP Menangkan Lima Gugatan Sengketa Internal, Legalitas Kepengurusan Semakin Kuat

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:38

GREAT Insitute: Perubahan Pradigma Pembangunan Indonesia Diakui Dunia

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:32

Harga Emas Antam Anjlok Rp15 Ribu, Termurah Rp1,37 Juta

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:32

Keputusan RI Hadiri Pemakaman Ayatollah Khamenei Sangat Tepat

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:22

Selengkapnya